Indonesia Berduka, Kematian Nakes Tertinggi Di Asia

Rasulullah Saw dan Khalifah Umar yang bertindak sebagai kepala negara, telah menjamin kesehatan rakyatnya secara gratis, dengan cara mengirimkan dokter kepada rakyatnya yang sakit tanpa meminta sedikitpun imbalan dari rakyatnya.


Oleh: Restu Febriani

POJOKOPINI.COM — Indonesia kembali berduka, jumlah tenaga kesehatan yang meninggal karena pandemi Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan, kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia. Selain itu, Indonesia juga masuk ke dalam lima besar kematian tenaga medis dan kesehatan di seluruh dunia. Beliau mengatakan bahwa sejak Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19. Jumlah itu terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medis (kompas.com, 02/01/2021).

Inisiator Pandemic Talks, Firdza Radiany pun menyoroti kasus ini. Ia mengatakan jumlah tenaga kesehatan di Indonesia yang meninggal karena Covid-19 lebih besar dari jumlah kematian warga di 6 negara Asia Tenggara. Data tersebut menunjukkan bahwa penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia belum maksimal atau sangat buruk. Bahkan, positivity rate atau tingkat penularan di Indonesia konsisten 14-15 persen selama beberapa bulan. Padahal, standar WHO itu maksimal 5 persen.

Kondisi itu terjadi karena pemerintah tidak pernah bisa mencapai standar 3T, yaitu testing, tracing, treatment. Dimana, kapasitas testing di Indonesia belum pernah stabil dan masih di bawah standar WHO. Selain itu, adanya tracing atau pelacakan yang buruk dengan rasio pelacakan kontak positif Covid-19 hanya 1 berbanding 3 orang. Hal ini, menjadi penyebab angka harian Covid-19 sempat mencapai 6 ribu kasus. Demikian pula, tidak adanya penanganan serius dari pihak yang berwenang untuk mengintervensi tingkat kematian para tenaga kesehatan (Tempo.com, 03/12/2020).

Mahalnya Nyawa dalam Islam

Dalam Islam nyawa merupakan sesuatu yang sangat mahal, bukanlah perkara yang remeh. Islam memberikan serangkaian hukum sebagai wujud penjagaan atas nyawa manusia layaknya sesuatu yang sangat berharga. Karena di sisi Allah Swt., hilangnya nyawa seorang muslim lebih berharga perkaranya daripada hilangnya dunia dan seisinya. Dari al-Barra’ bin Azib ra Nabi Saw. bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Hadits di atas menggambarkan bagaimana Islam begitu melindungi dan memelihara nyawa setiap manusia, khususnya nyawa seorang muslim. Bahkan, Rasulullah Saw mengharamkan segala hal yang membahayakan dan mengancam jiwa manusia. Namun sayangnya, nyawa manusia di sistem demokrasi saat ini seakan tidak lagi berharga. Kegagapan sekaligus kegagalan sistem demokrasi di berbagai negara, termasuk di negeri ini dalam memelihara manusia, khususnya tenaga kesehatan sangat mengkhawatirkan.

Selain itu, abainya pemerintah dalam mencegah penyebaran virus covid-19 ini menyebabkan kasus positif covid-19 semakin bertambah. Alhasil, para nakeslah yang menjadi korbannya. Sebab, mereka yang harus bertarung nyawa di garda terdepan dalam menangani korban covid-19. Melihat persoalan penangan covid-19 ini yang tak kunjung terselesaikan,malahan semakin parah. Mari kita melihat bagaimana sistem kesehatan dalam sejarah Islam? Bagaimana peran Negara Islam dalam menjamin kesehatan rakyatnya?

Sistem Kesehatan dalam Sejarah Islam

Tidak dapat dipungkiri, Rasulullah Saw adalah inspirator utama kedokteran Islam. Meski beliau bukan dokter, kata-katanya yang terekam dalam banyak hadis sangat inspiratif, semisal, “Tidak ada penyakit yang Allah ciptakan, kecuali Dia juga menciptakan cara penyembuhannya.” (HR al-Bukhari).

Dalam sejarah penerapannya, Islam telah banyak sekali melahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim dibidang kesehatan. Salah satunya cikal-bakal vaksinasi sebagai cara preventif itu juga dari dokter-dokter Muslim zaman Khilafah Turki Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis sejak zaman Abbasiyah. Ini diceritakan pada buku, 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World.  Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762).

Pada zaman Pertengahan, hampir semua kota besar Khilafah memiliki rumah sakit.  Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien.  Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan universitas serta untuk riset. Semua rumah sakit di Dunia Islam dilengkapi dengan tes-tes kompetensi bagi setiap dokter dan perawatnya, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran udara, sampai pemisahan pasien penyakit-penyakit tertentu.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa sehat tidak hanya urusan individu dan dokter, tetapi yang terpenting adalah peran penuh negara dalam memenuhi kesehatan seluruh rakyat sebagai kebutuhan primer yang tidak boleh diabaikan.

Memilih Solusi Islam

Dalam ajaran Islam, negara mempunyai peran sentral dan sekaligus bertanggung jawab penuh dalam segala urusan rakyatnya, termasuk dalam urusan kesehatan. Hal ini didasarkan pada dalil umum yang menjelaskan peran dan tanggung jawab kepala negara untuk mengatur seluruh urusan rakyatnya. Rasulullah Saw bersabda, Pemimpin yang mengatur urusan manusia (Imam/Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Di antara tanggung jawab Imam atau Khalifah adalah mengatur pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar (primer) bagi rakyatnya secara keseluruhan. Yakni, kebutuhan sandang, pangan, papan serta kebutuhan keamanan, kesehatan dan pendidikan.

Bagaimana cara Islam menjamin pemenuhan kebutuhan kesehatan bagi seluruh rakyatnya? Di dalam Islam, jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat adalah tanggung jawab negara yang wajib diberikan secara gratis (cuma-cuma), alias tidak membayar sama sekali. Negara tidak boleh membebani rakyatnya untuk membayar kebutuhan layanan kesehatannya. Ketentuan ini didasarkan pada Hadits Nabi Saw, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. pernah mengirim seorang dokter kepada Ubay bin Kaab (yang sedang sakit). Dokter itu memotong salah satu urat Ubay bin Kaab lalu melakukan kay (pengecosan dengan besi panas) pada urat itu”. (HR Abu Dawud).

“Aku pernah sakit parah pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab. Lalu Khalifah Umar memanggil seorang dokter untukku. Kemudian dokter itu menyuruh aku diet (memantang memakan yang membahayakan) hingga aku harus menghisap biji kurma karena saking kerasnya diet itu.” (HR al-Hakim,Al-Mustadrak, IV/7464).

Rasulullah Saw dan Khalifah Umar yang bertindak sebagai kepala negara, telah menjamin kesehatan rakyatnya secara gratis, dengan cara mengirimkan dokter kepada rakyatnya yang sakit tanpa meminta sedikitpun imbalan dari rakyatnya.

Maka untuk mewujudkan sistem kesehatan yang baik, kuncinya adalah dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Hal itu hanya bisa diwujudkan di bawah sistem yang dicontohkan dan ditinggalkan oleh Nabi Saw, lalu dilanjutkan oleh Khulafa’ur Rasyidin dan generasi selanjutnya. Itulah sistem Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Inilah yang harus diperjuangkan sekaligus menjadi tanggung jawab seluruh umat Islam. WalLâh a’lam bi ash-shawâb.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *