Indonesia di Ambang Krisis?

Indonesia di Ambang Krisis?

Oleh: Muhammad Ihsan (Sekjen ASSALIM, Aliansi Pengusaha Muslim)

WWW.POJOKOPINI.COM — Pendemi Corona mengakibatkan berbagai kepala negara menjadi kalang kabut dan bimbang dibuatnya, apakah mengambil opsi Lock down atau tidak.

Kita tahu bahwa konsekuensi dari Lock down menyebabkan aktivitas ekonomi riil akan terhenti.

Memang, orang masih diperkenankan bekerja dari rumah, tapi ekonomi riil pasti tak akan bergerak. Padahal sistem ekonomi riil inilah yang menopang hajat hidup rakyat.

Cina, sebagai pusat penyebaran Corona, bahkan lebih dulu melakukan isolasi wilayah dampak yang dialami salah satu raksasa ekonomi dunia itu berdampak pada sektor ekonominya.

Banyak negara sangat bergantung kepada Cina. Akibatnya, begitu ekonomi Cina dihantam krisis, otomatis negara yang lain akan mengalami nasib yang sama, bahkan lebih buruk lagi.

Berbagai lembaga dunia telah memprediksi ekonomi dunia di tahun ini suram. Krisis menerpa hampir semua negara.

Termasuk Indonesia dimana tanda-tanda krisis itu sudah mulai tampak. Yang terbaru, nilai rupiah terpuruk. Pada Jum’at (20/3), nilai rupiah menembus Rp 16.065 per dolar Amerika.

Rupiah menjadi mata uang di Asia yang mengalami pelemahan terdalam. Bagaimana jika terjadi lockdown yang akan menghentikan aktivitas ekonomi riil?. Maka Ekonomi akan Ambruk.

Jika tidak ingin ambruk konsekuensinya Indonesia mesti di doping dengan utang ribuan trilyun rupiah dan skema itu telah dipersiapkan oleh IMF.

IMF menyatakan siap memberi pinjaman 15.000 Trilyun bagi negara-negara yang terdampak virus Corona (katadata.co.id).

Ini konsekuensi Karena Indonesia berada dalam orbit sistem ekonomi kapitalis global. Dalam bahasa awam, ekonomi Indonesia membebek kepada ekonomi global yang dikendalikan oleh negara-negara kapitalis.

Krisis ini terjadi karena sistem ekonomi kapitalis itu bersandar pada pilar utama yang sangat rapuh. Yakni sistem mata uangnya, yaitu uang kertas, sistem utang-piutang dan sistem investasi pasar modal.

Meski sistem ini kelihatan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi tapi sebenarnya hanya berkutat pada sektor non riil. Seolah-olah ekonomi tumbuh padahal sebenarnya di dalamnya kosong, tidak berisi, sehingga sangat rentan untuk meledak.

Wajar jika ada yang menyebut bahwa sistem ekonomi kapitalis hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi semu alias palsu. Karena, hanya berputar-putar dari uang kertas, uang digital, dan kertas saham.

Tidak ada nilai ekonomi riilnya, kecuali hanya sedikit, dibanding dengan perputaran di sektor non riilnya. Kondisi ekonomi yang seperti ini sangat rawan sekali, begitu rapuh. Bisa dibayangkan, hanya dengan sentilan wabah Corona ekonomi akan terpuruk. Sungguh sangat tidak mandiri negara ini,

Lock down akibat corona tentu akan memicu reses, hal ini dipicu oleh pembengkakan utang negara karena gagal bayar Utang. Begitu pula perusahaan-perusahaan baik besar menengah maupun kecil berada dalam risiko gagal bayar pula karena tidak ada aktivitas ekonomi.

Utang tersebut berisiko semakin meningkat disebabkan rendahnya suku bunga yang diterapkan Bank Indonesia yang sebelumnya dilakukan oleh bank sentral seperti yang diterapkan The Federal Reseved.

Situasinya akan semakin memburuk, akan banyak perusahaan mengambil tindakan untuk membayar utang mereka. Mungkin ada gelombang PHK, dan investasi bisnis yang anjlok.

Pakar ekonomi Rizal Ramli pun memprediksi wabah virus Corona bisa memicu krisis ekonomi di Indonesia, jika tak segera reda beberapa bulan ke depan.

Sementara itu pengamat kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy menilai, kondisi Indonesia terus memburuk. Secara ekonomi, ia menyatakan ekonomi Indonesia sebenarnya sudah porak poranda.

Tidak memiliki kedaulatan sama sekali. “Jadi secara struktural, Kita semakin terjerat ke dalam sistem global yang sesungguhnya tidak pernah memberikan jalan keluar perekonomian bagi siapa pun,” katanya.

Oleh karenanya masihkah kita berharap pada system ekonomi kapitalis yang diterapkan di Indonesia ini.

Krisis demi krisis menerpa kita, maka jalan satu-satunya terhindar dari krisis demi krisis itu adalah meninggalkan sistem ekonomi kapitalis tersebut dan menerapkan sistem ekonom riil seperti yang diterapkan sistem ekonomi Islam di masa kejayaannya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *