Indonesia Jadi Negara Adidaya Pasca “Khilafah” Amerika?

Indonesia Jadi Negara Adidaya Pasca “Khilafah” Amerika?

Oleh : Wahyudi al Maroky
(Dir. PAMONG Institute)

WWW.POJOKOPINI.COM — Di tengah wabah Corona yang melanda, kita harus tetap semangat dan menatap optimis ke depan. Dibalik musibah dan kesulitan akan ada dua kemudahan. Tahun 2020 ini memang banyak musibah, namun itu bukan alasan untuk madesu (masa depan suram) karena juga terbentang masa depan cerah (madecer).

Tahun 2020 ini merupakan tahun pembuktian hasil kajian NIC (National Intelegent Council). Lembaga Amerika ini pada tahun 2004 merilis laporan dalam dokumen yang berjudul Mapping The Global Future. Dokumen itu berisi prediksi masa depan dunia tahun 2020.

Dalam dokumen itu, diperkirakan ada empat hal yang terjadi tahun 2020 yakni:

1) Davod world: Kebangkitan ekonomi Asia; Cina dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia. 2) Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS. 3) A New Chaliphate: Kebangkitan kembali Khilafah Islam. 4) Cyrcle of Fear: Muncul lingkaran ketakutan (phobia), yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia.

Prediksi itu hampir semua jadi kenyataan. Prediksi pertama, kedua dan keempat, semua sudah dicatat sejarah. Bagaimana prediksi ketiga tentang A New Chaliphate? Akankah sejarah mencatat kebenaran prediksi ini? Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Toh, 2020 masih sampai Desember nanti.

Nampaknya AS sadar betul, posisinya sebagai negara Adidaya, kelak terancam akan hadirnya Khilafah Baru. Oleh karenanya ia sudah membuat antisipasi untuk menghadang, setidaknya bisa memperlambat hadirnya Khilafah Baru.

Sejumlah kebijakan dibuat. Ada pembentukan ISIS, ada perang melawan teroris, ada perang melawan Radikalisme, dll. Semua program ini diarahkan kepada islam demi menghambat hadirnya A New Chaliphate. Tentu sambil tetap waspada manuver Inggris, Rusia dan Jerman yang kapan saja bisa menggeser posisinya sebagai adidaya utama.

Banyak cendekia yang memprediksi siapa Khilafah Baru Pasca dominasi Amerika. Ada yang memprediksi Inggris, Rusia, Jerman, dll. Ada juga yang memprediksi Cina, sebagaimana analisa wartawan Dhimam Abror Djuraid, yang membuat tulisan “China, Khilafah Baru Pasca-Amerika?”

Semua boleh saja memprediksi. Namun yang pasti adalah dunia terus berubah. Tak ada yang statis, apalagi harga mati. Siapa statis akan terlindas perubahan. Jika mau tetap hidup bahkan berjaya maka harus berubah dan mengambil keuntungan dari momentum perubahan itu.

Perubahan peta politik global begitu cepat. Adanya wabah Corona yang mendunia membuat semua negara adidaya sibuk perang melawan corona. Nampaknya hampir semua negara adidaya itu kedodoran, termasuk negara adidaya utama AS.

Posisi AS sebagai negara adidaya Utama mulai terancam. Energi AS terkuras menghadapi wabah corona. Di saat yang sama beberapa negara adidaya bersiap menggesernya. sementara bayang-bayang “A New Chaliphate” juga ada di depan mata.

Kini AS sedang berseteru dengan RRC. Saling tuding soal corona. Rusia dan Eropa juga sedang sibuk soal corona. Dunia seolah vakum dari kekuasaan Negara Adidaya Utama.
Dalam kondisi ini akankah A New Chaliphate hadir dan menjadi negara adidaya utama? Ada beberapa kemungkinan:

PERTAMA; pertarungan AS dan RRC, dimenangkan RRC dan menjadi khalifah baru menggeser posisi AS. Namun layakkah cina disebut A New Chaliphate? Tentu RRC lebih nyaman menggunakan sistem sosialis-komunisnya daripada menggunakan sistem Khilafah. Jadi prediksi NIC tentang A New Chaliphate dalam poin ini jauh dari terbukti.

KEDUA; pertarungan AS dan RRC dimanfaatkan oleh negara adidaya lain seperti Inggris, Rusia dan Jerman untuk melakukan manuver, menggeser posisi AS sebagai adidaya Utama. Mereka punya pengalaman yang cukup banyak saat Perang Dunia (PD-I dan PD-II). Namun jika mereka yang naik jadi negara adidaya utama maka prediksi NIC soal A New Chaliphate, tidak terbukti.

KETIGA; pertarungan AS dan RRC serta kelemahan negara adidaya lain yang sibuk menangani Corona, dimanfaatkan oleh Indonesia. Indonesia jadi negara Adidaya Dunia.

Peluang ini sangat mungkin, jika dilihat dari dari sisi potesi SDM dan SDA. Tinggal sistem apa yang dipakai untuk menopang menjadi negara Adidaya dunia.

Tentu diperlukan sistem yang sudah teruji pernah mengantarkan sebuah negara menjadi adidaya. Dalam catatan sejarah, ada tiga sistem;

Pertama :

sistem dan iedologi kapitalisme, dengan model pemerintahan demokrasi, telah mengantarkan AS jadi negara adidaya dunia.

Kedua :

sistem komunis, Uni Soviyet menjadi sangat disegani dunia dan menjadi pesaing utama AS.

Ketiga :

sistem islam dengan model khilafahnya, juga pernah menguasai 2/3 dunia. Bahkan memiliki para sultan di Nusantara yang merupakan bagian dari kekhilafahan sebagaimana tercatat dalam sejarah dunia.

Tiap negara punya peluang jadi negara adidaya jika memilih satu diantara tiga sistem yang ada; kapitalis, komunis atau islam. Bisa jadi ada negara yang coba-coba merancang sendiri sebuah sistem. Padahal itu belum pernah terbukti dalam sejarah. Percobaan seperti itu hanya menghabiskan energi dan waktu. Negara itu jalan ditempat, negara lain semakin jauh meninggalkannya.

Kita berharap Indonesia bisa menjadi negara adidaya. Tentu menggunakan sistem yang telah teruji bisa mengantarkan menjadi adidaya. Wacana pilihan sistem tersebut harus dibuka seluas-luasnya kepada publik. Tak perlu takut perbedaan pendapat. Biarlah publik terbiasa beradu argumentasi yang cerdas dan menghindari beradu fisik secara bebas.

Dengan diskusi itu, publik jadi paham mana sistem terbaik yang mereka inginkan lalu mereka mendukung dan memikul segala kensekuensinya. Jika diperlukan, jajak pendapat seperti yang dilakukan Inggris terhadap Uni Eropa. Jangan diulangi membuat jajak pendapat seperti Timor Timur. Buatlah jajak pendapat yang menguatkan kebersamaan anak negeri memikul beban bersama demi kemajuan bersama bukan berpecah belah.

Selain sistem yang terlah teruji, diperlukan juga pemimpin yang hebat. Ya, sistem yang telah teruji dan terbukti menjadikan negara adidaya itu harus dijalankan oleh orang yang “highly educated professional”.

Sistem yang terbaik saja tak cukup. kita perlu juga pemimpin yang profesional dan amanah (integritas). Pemimpin yang memiliki semangat membara (himmah). Pemimpin yang mampu menjalankan sistem yang telah teruji dan terbukti menjadikan sebuah negara menjadi Adidaya.

Kini “Khilafah” global AS, sedang memasuki episode akhir. Kita menanti Prediksi NIC soal A New Chaliphate itu benar adanya. Dan momen itu bisa menjadikan kita punya negara adidaya dunia menggeser posisi AS.
Tapi itu jika mau. Tabiik.[]

NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *