Ingin Pandemi Segera Berlalu, Seriuslah!

Ingin Pandemi Segera Berlalu, Seriuslah!

Jika aturan yang ditetapkan dan juga dipastikan telah sampai edukasi ke masyarakat ditambah dengan jaminan kecukupan dari pemerintah, maka perlu kiranya memberi sanksi kepada masyarakat jika melanggar agar wabah tidak meluas.


Oleh: Yeni Ummu Athifa (Kajian Institute Politik dan Perempuan)

POJOKOPINI.COM — “Bagaikan makan buah simalakama, dimakan mati ibu, tak di makan mati ayah,” mungkin tepatlah jika peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan situasi para penjual/pedagang di pasar saat wabah Covid-19 masih berlangsung. Antara kekawatiran akan tertular dan kebutuhan hidup harus dipenuhi. Sementara kepastian kapan berakhir pandemi ini pun belum diketahui secara pasti.

Namun tak masuk akal pula jika pasar ditutup selama musim pandemi berlangsung. Karena bagaimanapun pasar merupakan nadi perekonomian rakyat karena bagian dari mata rantai pasok yang vital, hal senada diungkapkan oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy kepada okezone,

Mirisnya, dari hasil rapid test menurut Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat 529 orang pedagang positif virus corona. Dari jumlah itu, 29 di antaranya meninggal dunia. Tak ayal, pasar dianggap menjadi kluster baru penyebaran Covid-19 (Okezone.com, 17/06/2020).

Layak kiranya pemerintah memberikan perhatian terhadap fakta dan kondisi interaksi di pasar-pasar terutama pasar rakyat. Mengapa? Bukankah penularan virus sangat reaktif jika masyarakat tidak mengikuti protokoler kesehatan pencegah Covid-19 sebagaimana yang selama ini dijalankan. Jika ini tidak diindahkan, hampir pasti penyebaran virus sulit terhindar.

Namun, tidak semua pelaku interaksi di pasar mau melaksanakan, terutama masyarakat kalangan bawah apalagi yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Bisa jadi mereka abai karena memang tidak paham bahayanya Covid-19, tapi bisa jadi juga karena memang mereka tak terlalu peduli.

Bagi mereka persaingan kerja untuk mencari sesuap nasi lebih menarik daripada terhalang mencari rezeki karena aturan yang menurut mereka ribet. Karena banyak dari mereka kerja sehari untuk hidup sehari. Maka jika tidak bekerja apa yang akan mereka bawa pulang untuk keluarga.

Maka pemerintah melalui jajarannya harus bekerja lebih keras untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya mengikuti protokoler kesehatan tentunya selain wajib menyediakan peralatan rapid test gratis, harus disertai dengan edukasi yang menjelaskan bahaya virus dan pentingnya mengikuti protokoler kesehatan. Sehingga mereka dengan suka rela untuk di rapid test. Membagikan alat perlindungan diri, seperti masker, sarung tangan, anti septik secara gratis kepada mereka jika terpaksa harus bekerja keluar.

Bahkan pemerintah seharusnya menjamin segala kebutuhan masyarakat sehingga mereka tidak perlu keluar rumah untuk sementara waktu selama pandemi. Sayangnya walaupun ada bantuan yang di berikan kepada masyarakat terkesan seadanya dan tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka. Wajar jika tetap bekerja walau bahaya di tengah pandemi.

Jika aturan yang ditetapkan dan juga dipastikan telah sampai edukasi ke masyarakat ditambah dengan jaminan kecukupan dari pemerintah, maka perlu kiranya memberi sanksi kepada masyarakat jika melanggar agar wabah tidak meluas.

Semua ini tentunya hanya akan terlaksana dengan baik apabila pemimpin benar-benar peduli dan serius terhadap kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya. Hingga mengarahkan para pemangku jabatan untuk bersinergi bekerja sama merealisasikannya, mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah terbawah. Berikut segala aturan-aturan yang dikeluarkan semata- mata demi jaminan keamanan dan kesejahteraan rakyatnya semata.

Namun ini hanya ada dalam sistem Islam. Mengapa? Karena pemimpinnya sadar dia harus mempertanggungjawabkan kelak kepemimpinan, yang takut jika tidak bisa menjamin kebutuhan rakyatnya, apalagi berbuat zalim kepada rakyatnya. Kepemimpinan adalah amanat untuk mengurus orang-orang atau rakyat yang dipimpin. Rasulullah saw. mengumpamakan pemimpin laksana penggembala (ra’in). Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

…الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya).” (HR. Imam Al Bukhari dan Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Umar ra) Bagaimana dengan pemimpin kita? Wallahu A’lam Bi Shawwab.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *