Ini untukmu, Para Pengemban Amanah Langit

Ini untukmu, Para Pengemban Amanah Langit

Di saat kita telah ber-iltizam untuk menjadi bagian dari perjuangan ini, berjuang bersama jamaah dakwah. Tentu kita juga harus memahami dan menyadari dengan sebaik-baiknya kesadaran, bahwa kita pun siap memikul amanah-amanah dakwah yang diberikan jamaah. Siap menjadikan perkara dakwah sebagai poros hidup. Menjadikan dakwah sebagai arus utama pemikiran dan aktivitas kita.


Oleh: Ummu Fatih

POJOKOPINI.COM — Allah SWT telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki karakteristik berbeda dengan makhluk lainnya, baik hewan maupun tumbuhan. Allah SWT menciptakan pada manusia potensi berupa akal. Dengan akal itulah manusia mampu berpikir, menjadi makhluk yang mulia atau sebaliknya, juga manusia mampu membedakan mana yang haq dan bathil.

Dengan potensi inilah, manusia secara sunatullah adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan di muka bumi untuk mengemban amanah. Mengemban tugas-tugas, melaksanakan kewajiban, untuk dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.

Amanah merupakan salah satu sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. Sifat amanah ini sejalan dengan perintah Allah di surat An Nisa ayat 58 yang artinya:

Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang Memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat”.

Selain itu, Nabi Muhammad Saw juga pernah bersabda tentang amanah:

Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama yang sempurna bagi orang yang tidak menepati janji”. (HR.Ahmad)

Ruang lingkup amanah ini cukup luas, segala amanah yang sedang kita pikul secara keseluruhan pertanggungjawabannya adalah kepada Allah SWT. Karena sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah, maka konsekuensi setiap amal yang kita lakukan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban, baik itu berkaitan dengan hak Allah maupun manusia.

Amanah yang pertama, adalah amanah kita kepada Allah, hubungan seorang hamba kepada Penciptanya. Sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga dan ditunaikan oleh manusia, yaitu menyembah Allah dengan tidak mempersekutukan-Nya, serta melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Amanah selanjutnya adalah terhadap diri kita sendiri. Allah telah menciptakan kita dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Maka kita senantiasa melakukan hal-hal yang baik, tidak menzalimi diri dengan melakukan hal-hal yang merusak/ membahayakan fisik maupun akal.

Ada juga amanah kita terhadap manusia yang lain. Baik yang berkaitan dengan perkara duniawi berupa pekerjaan, bisnis, dan kepercayaan serta janji yang harus ditunaikan. Begitu juga amanah orang tua terhadap anak-anak nya. Dan sebaliknya.

Di antara amanah manusia yang paling utama untuk ditunaikan adalah menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Jika hal ini tidak ditunaikan, maka kehancuranlah yang terjadi dalam kehidupan. Inilah amanah mulia yang harus diemban oleh setiap Muslim, yaitu kewajiban berdakwah. Bahkan penunaian amanah dakwah (kewajiban dakwah) harus menjadi poros kehidupan. Sementara amanah yang lain mengikuti nya.

Kaum muslimin hari ini, ketika hidup dalam naungan sistem kufur kapitalis – sekuler, telah kehilangan orientasi hidup. Aktivitas dakwah tidak lagi menjadi poros hidup nya, telah tergantikan oleh remah-remah dunia. Kebahagiaan bukan lagi meraih ridha Allah SWT, namun meraih materi hidup sebanyak banyaknya. Inilah yang membuat umat manusia hari ini aktivitas hidupnya disibukkan dengan urusan duniawi. Rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran serta hartanya hanya untuk mencari dunia. Mengejar fatamorgana yang tidak ada ujungnya. Sementara aktivitas ibadah hanya tinggal waktu sisa dan jika sempat. Apalagi aktifitas mengkaji / memahami tsaqafah Islam serta dakwah sudah hilang dari kamus hidup nya. Astaghfirullah

Ini semua tidak bisa dilepaskan dari sistem kapitalisme – sekularisme yang membelenggu kehidupan kaum muslimin hari ini. Sistem kufur yang dibangun atas pemisahan agama dari kehidupan, agama hanya mengatur ruang privat seorang individu, sementara perkara kehidupan, baik politik,ekonomi, pendidikan, sosial-budaya dan sebagainya dibangun dalam kerangka materialistik. Akhirnya umat Islam hari ini kehilangan tujuan dan poros hidup.

Lantas, apakah kondisi ini harus dibiarkan? Tentu tidak, umat Islam harus kembali kepada fitrah nya, memahami tujuan hidup nya di muka bumi adalah untuk ibadah dan menaati seluruh hukum-hukumnya, serta mengemban amanah mulia, yaitu menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamin.

Untuk mengubah kembali orientasi dan tujuan hidup kaum muslimin saat ini, tidak ada metode lain yang harus dilakukan kecuali dengan mengemban dakwah. Menyeru dan membina kembali kaum muslimin agar memahami islam secara kaffah, dari aqidah hingga syariah.

Umat Islam saat ini tidak akan bisa lepas dari belenggu kapitalisme – sekuler secara total kecuali dengan perjuangan dakwah untuk mewujudkan negara yang menerapkan Islam secara kaffah, yaitu khilafah Islamiyyah. Ini adalah satu-satunya solusi untuk mengeluarkan umat dari belenggu sistem kufur tadi. Karena khilafah Islam adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia, penyatu umat, penegak syariah, dan penebar rahmat.

Sistem Islam yang terpancar dari aqidah Islam adalah solusi tuntas atas setiap persoalan yang mendera umat islam dan dunia hari ini. Maka, saat ini ketika khilafah tidak ada, yang harus dilakukan oleh kaum muslimin adalah berjuang untuk menegakkan kembali khilafah.

Perjuangan untuk menegakkan khilafah adalah amanah yang Allah berikan kepada setiap pundak seorang Muslim. Menegakkannya adalah fardhu kifayah, namun ketika saat ini belum terwujud, maka wajib bagi setiap Muslim untuk mengambil bagian menjadi pejuang islam.

Perjuangan menegakkan khilafah tidak mungkin dilakukan seorang diri, kita butuh jamaah. Ini amanah besar yang Allah berikan kepada kaum muslimin. Menegakkan nya adalah tajul furud (mahkota kewajiban) serta induk dari segala kewajiban (ummul wajibat).

Tiada kemuliaan tanpa Islam…
Tak sempurna Islam tanpa syariah..
Tak kan tegak syariah tanpa daulah…
Daulah khilafah rasyidah..

Di saat kita telah ber-iltizam untuk menjadi bagian dari perjuangan ini, berjuang bersama jamaah dakwah. Tentu kita juga harus memahami dan menyadari dengan sebaik-baiknya kesadaran, bahwa kita pun siap memikul amanah-amanah dakwah yang diberikan jamaah. Siap menjadikan perkara dakwah sebagai poros hidup. Menjadikan dakwah sebagai arus utama pemikiran dan aktivitas kita. Siap menunaikan amanah sedikit maupun banyak, ringan maupun sulit. Semua itu adalah ladang pahala dan kita melakukan semata-mata berharap pahala dan ridha Allah SWT.

Dakwah adalah aktivitas mulia, sebuah amanah langit yang diemban oleh para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan kebenaran (al haq) yang datang dari Allah SWT. Dakwah adalah sebuah aktivitas istimewa yang telah diwariskan Rasulullah SAW kepada umatnya, kaum muslimin, karena umat Islam adalah umat terakhir untuk menyampaikan dakwah ke seluruh alam. Tak ada perkataan yang lebih baik dari dakwah menyeru manusia kepada kebenaran.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.” (QS.Fushilat : 33)

Maka bagimu… Duhai Para Pengemban Amanah Langit. Duhai Para Pejuang yang telah ber-iltizam kepada Allah, kita telah berikrar untuk menjadi penjaga-penjaga Islam yang terpercaya, ber-iltizam kepada Allah untuk menunaikan amanah dakwah tanpa melalaikannya bahkan menukar dengan kesibukan dunia. Tak ada alasan untuk bersedih dan terbebani dengan amanah dakwah yang saat ini hingga seterusnya berada di pundak kita. Amanah ini adalah bukti cinta Allah kepada kita. Kecintaan kepada makhluk istimewa bernama pengemban dakwah.

Jangan tukar poros dakwah dengan remah dunia. Kesibukan duniawi yang melalaikan dan tidak akan ada habisnya, ingatlah bahwa sistem kufur inilah yang telah membuat kita lupa akan tujuan hidup yang utama. Oleh karena itu para pejuang Islam harus lebih serius dan concern untuk mengembalikan urusan hidup ini kembali pada syariah kaffah.
Ingatlah firman Allah SWT:

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ

Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS.At-Taubah : 24)

Seorang pejuang Islam paham betul bahwa dakwah berjamaah membutuhkan komando dan arah gerak dakwah yang sama, kesolidan dan kerja sama yang baik pada setiap tim dakwah.

Allah SWT berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَٰنٌ مَّرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash- Shaf : 4)

Ayat ini menyatakan bahwa Allah SWT suka kepada orang-orang yang berjihad dalam barisan yang teratur. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya untuk membela diri dan membela kehormatan Islam dan kaum Muslim dalam barisan yang teratur, kuat, militan, dan terorganisir dengan baik; mereka seakan-akan dalam membangun kekuatan umat seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh, saling menguatkan komponen umat Muslim yang satu terhadap komponen umat Muslim lainnya.

Demikian juga yang Allah sukai dalam barisan dakwah berjamaah. Setiap pejuang haruslah menginternalisasikan dalam dirinya bahwa di setiap pundaknya ada amanah dakwah yang senantiasa harus dia tunaikan dengan sebaik-baiknya, bukan sekadar dimintai pertanggungjawaban oleh jamaah namun jauh lebih dari itu, dia paham bahwa semua amanah yang dipikulnya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *