Inkonsistensi Regulasi, Buka Gelombang Wabah Baru?

Inkonsistensi Regulasi, Buka Gelombang Wabah Baru?

Apakah epidemi sudah terkendali? Apakah sistem kesehatan sanggup menghadapi kembalinya lonjakan kasus? Apakah sistem pengawasan bisa mendeteksi dan melacak kasus-kasus beserta kontaknya?


Oleh: Dien Kamilatunnisa

POJOKOPINI.COM — Ratusan calon penumpang berdesakan di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta,Tangerang, Kamis pagi (14/5/2020). Mereka bertumpuk tanpa memperhatikan jarak aman di posko pemeriksaan dokumen perjalanan (liputan6.com, 16/5/2020). Keadaan tersebut akhirnya ramai diperbincangkan di berbagai media sosial. Banyak pula kalangan yang mengecam kerumunan orang di bandara Soekarno Hatta.

Selain pemandangan penumpang yang menumpuk di atas, di media sosial banyak beredar video dan foto orang yang berdesak-desakan di mall, dan pasar. Kebiasaan membeli baju, pernak-pernik lebaran dan menyiapkan berbagai masakan tidak terhenti dengan adanya pandemi.

Pada faktanya, pandemi virus Corona memengaruhi banyak sektor kehidupan. Dilema antara kebutuhan ekonomi dan keselamatan jiwa pun muncul. Jika masyarakat dikarantina, mereka akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Solusi yang ditawarkan penguasa belum bisa menyelesaikan masalah secara mendasar.

Malahan menimbulkan masalah baru dilapangan seperti data penduduk miskin yang tidak akurat sehingga bantuan tidak tepat sasaran. Sementara itu, jika kegiatan ekonomi masyarakat kembali normal dikhawatirkan akan membuka peluang bertambahnya jumlah korban terinfeksi.

Di sisi lain, ada wacana pelonggaran PSBB. Hal ini mendapatkan respons yang beragam di masyarakat. Bahkan menurut Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, meminta skenario pelonggaran kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) harus melalui pertimbangan yang matang. Salah satunya yakni harus sudah melewati puncak penyebaran pandemi COVID-19 di tanah air. Pertambahan jumlah orang terifeksi virus masih fluktuatif. Pada rentang waktu 14-17 Mei 2020 pertambahannya fluktuatif antara 400 hingga 560 kasus positif COVID-19 per hari (detik.com, 19/5/2020).

Bahkan, jika sebuah negara akan melakukan pelonggaran karantina, organisasi kesehatan dunia (WHO) memberikan pertanyaan mengenai tiga hal yang harus dipastikan sebelum mengambil kebijakan. “Apakah epidemi sudah terkendali? Apakah sistem kesehatan sanggup menghadapi kembalinya lonjakan kasus? Apakah sistem pengawasan bisa mendeteksi dan melacak kasus-kasus beserta kontaknya?” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip dari akun Twitter resmi WHO, Selasa (12/5/2020). Jika merujuk pada tiga hal penting sebelum melakukan pelonggaran karantina diatas, sudah siapkah Indonesia dengan resiko yang akan dialami?

Peraturan mengenai PSBB dan dilonggarkan PSBB membuat masyarakat kebingungan. Ada kelompok yang apatis ada juga yang masih bersabar untuk mengkarantina mandiri di rumah. Padahal dalam Islam, aturan yang dipakai sudah tetap. Tidak akan menimbulkan kebingungan karena rujukan sumber hukumnya sudah baku, yaitu al-Qur’an dan hadist. Hukum Islam yang akan dipakai dalam menjawab tantangan zaman berdasarkan halal atau haram. Bukan berdasar kepentingan segelintir pihak. Yang harus dipertanyakan adalah, kenapa aturan penguasa sekarang tidak konsisten, apakah ada kepentingan tertentu yang dilindungi?[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *