Intelektualitas Nabi Ismail

Intelektualitas Nabi Ismail

Inilah intelektualitas sejati, selamanya keimanan yang memperkuat ketaatan tersebab ilmu adalah kekayaan hakiki seorang Muslim. Untuk apa sederet titel tapi tak menambah ketaatan kepada Allah? Untuk apa berpendidikan tinggi tapi malah menentang penerapan hukum Allah?


Oleh: Ummu Farhan

POJOKOPINI.COM — Saat itu musim haji, Nabi Ibrahim berkunjung ke rumah anaknya, Nabi Ismail. Namun dia hanya menemui menantunya, dia tak mendapati Nabi Ismail di sana. Lalu Nabi Ibrahim bertanya kepada menantunya tentang kondisi kehidupan mereka. “Kami dalam keadaan susah,” kata wanita itu mengadu. Nabi Ibrahim lalu mengatakan, “Apabila suamimu (Ismail) kembali katakan salam dariku dan agar ia mengubah daun pintunya,” maksudnya menceraikan.

Nabi Ismail pun pulang dan sang istri menyampaikan pesan, ia tahu kalau ayahnya mengunjungi rumahnya. Nabi Ismail diminta mengubah daun pintunya. Dia memahami dan mendengarkan nasehat ayahnya, Nabi Ismail menceraikan istrinya.

Kemampuan menerjemah dan menalar hikmah tak dimiliki kecuali oleh seorang dengan kapabilitas intelektual yang tinggi. Bergandengan dengan ketaatan, intelektualitas Nabi Ismail semakin istimewa dan membuat takjub.

Ketaatan Nabi Ismail terhadap orang tuanya bukan hanya terlihat di kisah itu. Dia termasyhur dalam kisah kurban yang menjadi syariat bagi manusia hari ini. Siapa yang tak takut mati? Semua kita takut. Nyawa adalah pengorbanan tertinggi. Bagi Ismail, taat terhadap kedua orangtuanya adalah syariat, taat menjadi wajib selama tak melanggar syariat. Dia diminta menampakkan ketundukannya, membuktikan tak hanya kepada manusia pada zaman itu, tapi juga bagi kita hari ini bahwa ketaatan kepada Allah berkorelasi kuat dengan ketaatan terhadap orang tua. Inilah kecerdasan intelektual Ismail ‘alaihissalam. Masya Allah.

Kisah ini menjelaskan kepada kita tentang makna rasionalitas dalam keimanan dan ketaatan. Taat adalah konsekuensi dari iman, ini kecerdasan intelektual. Keduanya (iman dan taat) saling terkait dan mengikat satu sama lain. Jika kita mengaku beriman tapi tingkah laku jauh dari syariat Allah, maka kita patut mengambil pelajaran dari apa yang dilakukan Nabiyullah Ismail. Taat tanpa tapi, taat tanpa nanti.

Nabi Ismail adalah cerminan buah manis dari kesabaran orang tua yang berserah segala urusan hidup dan matinya kepada Allah saja. Seluruh potensi dan fokusnya hanya terpaut kepada Allah, dia berkehidupan dalam rangka menghamba dan melayani mabda‘ (ideologi). Ini kehidupan yang cerdas, dia mengenal diri dan Pencipta secara pasti. Dia berkehidupan berdasarkan pemahaman yang brilian itu.

Inilah intelektualitas sejati, selamanya keimanan yang memperkuat ketaatan tersebab ilmu adalah kekayaan hakiki seorang Muslim. Untuk apa sederet titel tapi tak menambah ketaatan kepada Allah? Untuk apa berpendidikan tinggi tapi malah menentang penerapan hukum Allah? Bergelar sejauh-jauh jarak dengan masyarakat awam dalam pendidikan, tapi berpemikiran picik menolak Khilafah yang merupakan janji Allah. Untuk apa?

Nabiyullah Ismail tak hanya memberi makna bagaimana berkehidupan dengan intelektualitas yang menjadikan ketaatan sebagai konsekuensinya, pun dia ‘Alaihissalam membujuk kita untuk melihat dengan pandangan iman. Segala yang dilihat buruk oleh mata, terdengar jelek di telinga, belum tentu tak terpengaruh asumsi. Tembok asumtif itulah yang dirubuhkan oleh kecerdasan intelektualitasnya, segala apa yang dititah Allah, sudah tak usah banyak tanya, lakukan. Segala yang diminta Allah untuk kita tinggalkan, tinggalkan. Sebaliknya, yang diamini oleh pemikiran adalah akan selalu ada kebaikan dalam ketaatan. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *