Investasi di Tanoh Indatu

Apakah Aceh akan melonggarkan syariat dalam hal pakaian bagi orang asing? Ataukah Aceh akan kompromistis bagi peredaran alkohol yang legal di hotel mewah sang investor? Mungkinkah Aceh akan membebaskan wisatawan dari hukum jinayat terkait khalwat dan judi?


Oleh: Cut Khaliqun (Muslimah Peduli Negeri)

Daerah Aceh, Tanoh loen sayang.
Nibak tempat nyan, loen udep mate.

POJOKOPINI.COM — Lagu ini seolah kembali terngiang di telinga ketika mendengar kabar, pengusaha dari Uni Emirat Arab (UEA) akan segera realisasikan investasi pariwisata mewah di Aceh Singkil. Semua yang masih memiliki perasaan keislaman dan sempat mengetahui kondisi kehidupan Dubai hari ini pasti akan tertegun. Bicara UEA, pasti tak lepas dari sang Surga Pariwisata Dunia, Dubai. Kota terbesar dan penghasil devisa luar biasa bagi negara yang baru dideklarasikan Tahun 1971 ini.

Pelekatan kata Arab di belakang nama negara ini, tidak identik dengan Arab tempat turunnya Al Qur’an yang menjadi petunjuk bagi umat Islam. Arab begitu lekat dengan Islam. Tapi tidak dengan Uni Emirat Arab. Alkohol legal di sana. Negara Teluk kaya minyak itu mengumumkan telah mendekriminalisasi alkohol pada 7 November 2020 (cnnindonesia.com, 24/11/2020). Bahkan baru-baru ini paska pemulihan hubungan diplomatik dengan Israel, menyeruak berita prostitusi di Dubai. Ternyata negara pengusung pariwisata sebagai andalan tidak bisa melepaskan diri dari aroma minuman keras dan pelacuran. Narkoba dan HIV AIDS juga tak lekang menjadi prahara di Dubai.

Menilik permintaan Murban Energy selaku investor, sebagaimana diungkap Bupati Aceh Singkil kepada Tribunnews (07/04/2021). Mereka menghendaki pemerintah Aceh Singkil komit dengan MoU serta menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan, tanpa ada masalah. Sebuah permintaan besar yang benar-benar harus menjadi perhatian kita semua. Tentunya investasi pariwisata mewah senilai 7 triliun rupiah ini membutuhkan banyak kelonggaran dan keistimewaan dari pemerintah Aceh, khususnya Aceh Singkil. Agar bisa balik modal dan meraup keuntungan.

Namun, mengingat tata kehidupan Dubai yang sudah sangat liberal. Dan hampir 90 persen penduduknya adalah orang asing yang notabene punya gaya hidup berbeda dengan muslim. Maka, bukan tidak mungkin ini akan diduplikasi di Aceh. Next, sanggupkah Aceh tetap menjaga marwah Islam ‘Tanoh‘ tercinta ini?

Apakah Aceh akan melonggarkan syariat dalam hal pakaian bagi orang asing? Ataukah Aceh akan kompromistis bagi peredaran alkohol yang legal di hotel mewah sang investor? Mungkinkah Aceh akan membebaskan wisatawan dari hukum jinayat terkait khalwat dan judi?

Bila ya, maka ini adalah sebuah kemunduran dan keterbelakangan. Bahaya besar bagi peradaban Aceh yang justru pernah mulia lewat penerapan Islam dalam sendi kehidupan pemerintahan dan kemasyarakatannya. Islam adalah jiwa ‘Ureung Aceh‘. Bila tidak, lantas bagaimana kita memadukan air dengan minyak? Bisakah al-Haq dan al-Bathil disatukan? Mustahil.

Tsunami tidak akan menggulung mereka yang sudah dibelenggu istidraj. Tapi ‘ureung Aceh nyoe bijeh ulama, biek syuhada‘. Sepuluh jemari genap diangkat ke atas, para indatu telah mendoakan anak cucu. Allah tak akan menyia-nyiakan munajat para Shalihin terdahulu. Allah akan ‘rampot‘ kita kembali jika terlalai. Agar kita kembali ke jalan taqwa. Waspadalah![]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *