Ironi Negeri: Muslim Dicurigai, K-Pop Diapresiasi

Ironi Negeri: Muslim Dicurigai, K-Pop Diapresiasi

Mau jadi apa bangsa ini jika para penerusnya alay alias lebay? Maka agaknya tentu ini adalah bagian dari pengikisan identitas dan patut dicurigai akan justru menjerumuskan pemuda kepada jurang kehinaan dan jauh dari kata kemuliaan.


Oleh: Jumratul Sakdiah

POJOKOPINI.COM — Sudah sekian lama, agaknya manusia hampir tak lagi mengenal siapa Tuhannya. Standardisasi hukum syara tampaknya semakin jauh dari harapan. Islam kini hanya formalitas, tak lebih dari itu. Para petinggi sekaligus rakyatnya tak lagi mempertimbangkan halal dan haram saat berkata maupun berbuat. Semua terikat akan kepentingan dunia yang telah membuat mereka buta dengan hari pembalasan kelak di akhirat.

Sistem sekuler memang sangat sadis. Mampu membentuk manusia waras menjadi gila, yang sebelumnya taat tapi dengan sekejap berubah tingkah menjadi maksiat. Bisa saja paginya beriman sorenya ia telah kafir, begitupun sebaliknya. Dan semua itu mudah terjadi dalam tatanan dunia yang mencampakkan aturan Tuhan dari setiap sendi kehidupan. Bagaimana tidak, sistem sekularisme demokrasi sebagai sistem warisan barat yang telah dinobatkan sebagai sistem yang digunakan negara adidaya telah mampu menggeser identitas Islam yang sebenarnya.

Islam adalah agama yang memuliakan manusia. Allah mengatur manusia sedemikian rupa, mulai dari bangun tidur sampai membangun negara. Tak ada yang luput dari batasan-batasan yang mengikat para pemeluknya. Dan semua itu adalah bentuk penjagaan terhadap manusia oleh PenciptaNya, Allah subhanahu wata’ala. Aturan yang konprehensif ini telah terbukti mengembalikan fitrah manusia dan menempatkannya pada derajat yang tinggi di hadapan semua makhluk ciptaanNya.

Amat disayangkan, Islam dipaksa sama dengan agama selainnya. Seolah Allah hanya ada pada ibadah spiritual saja. Tanpa memperhatikan berjalannya kehidupan manusia di atas bumi ini. Walhasil, Islam telah jauh penerapannya dari sistem kehidupan baik individu, masyarakat maupun negara.

Sehingga tak heran, banyak yang mengaku Muslim tapi ia kehilangan identitas keislamannya. Malu menampakkan ciri khas Muslim sejati. Bahkan lebih dari itu, merasa takut dengan ajaran Islam nan suci hanya karena dicap sebagai radikal, paham sesat dan fanatik. Serta nada serupa lainnya yang sengaja dilabelkan terhadap Islam.

Ditambah dengan pernyataan kontroversial dari Menag yang mengatakan bahwa paham radikalisme masuk masjid lewat anak ‘good looking‘. “Cara masuk mereka gampang, kalau saya lihat polanya. Pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafiz, mulai masuk, jadi imam, lama-lama orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid, kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide seperti yang kita takutkan,” paparnya (aceh.tribunnews.com, 05/09/2020).

Pernyataan itu menuai tanggapan banyak pihak. Ada yang sakit hati karena sebenarnya semua ciri-ciri yang disebutkan sangat dekat dengan kebaikan yang diajarkan dalam Islam. Namun mirisnya, ada juga yang memilih untuk tampil biasa saja dengan alasan takut dicurigai sebagai penganut paham radikalisme yang hakikatnya sengaja diarahkan kepada Islam.

Padahal sebenarnya Islam adalah agama yang mengajarkan kebaikan dan menjamin ketentraman manusia. Dengan sikap yang santun dan lembut. Sangat jauh dari apa yang mereka labelkan terhadap Muslim yang menjalankan aturan Islam dengan benar. Maka tuduhan itu sama sekali tak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Namun di lain sisi, antara memaklumi dan merasa miris dengan kondisi saat ini. Maklum karena memang sekarang tatanan kehidupan manusia jauh dari kata Islami. Juga miris terhadap apa yang terucap dari lisan ulama yang biasa didengar titahnya. Ma’ruf Amin selaku ulama sekaligus wakil presiden Indonesia menyampaikan bahwa K-Pop sebagai koreanwave yang tengah digandrungi oleh kawula muda patut diapresiasi. “Saat ini anak muda di berbagai pelosok Indonesia juga mulai mengenal artis K-pop dan gemar menonton drama Korea,” kata Ma’ruf, dikutip PikiranRakyat-Indramayu.com dari RRI.co.id.

Ma’ruf menilai ketertarikan anak muda Indonesia terhadap Korea juga telah mendorong peningkatan wisatawan Indonesia ke Korea beberapa tahun belakangan ini. Ia juga berharap sebaliknya, wisatawan Korea juga bisa semakin banyak datang ke Indonesia (indramayu.pikiran-rakyat.com, 21/09/2020).

Bukankah dengan maraknya koreanwave adalah bagian dari perusakan generasi bangsa? Mau jadi apa bangsa ini jika para penerusnya alay alias lebay? Maka agaknya tentu ini adalah bagian dari pengikisan identitas dan patut dicurigai akan justru menjerumuskan pemuda kepada jurang kehinaan dan jauh dari kata kemuliaan. Inilah jika negara tak punya peta yang jelas dalam mencerdaskan anak bangsa dan mencetak pemuda cerdas yang mampu mendongkrak peradaban gemilang di masa yang akan datang. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *