Ironi PPDB Zonasi

Ironi PPDB Zonasi

Dalam Islam negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek dalam sistem pendidikan yang diterapkan serta mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Mulai dari memberikan pendidikan secara gratis dengan sarana dan prasarana yang terbaik.


Oleh: Aan Dwi Astuti

POJOKOPINI.COM — Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta telah dibuka pendaftarannya sejak tanggal 15 Juni 2020 dan khusus untuk zonasi dimulai pada tanggal 25 Juni 2020 sampai tanggal 27 Juni 2020. Pelayanan pendaftaran secara daring melalui laman ppdb.jakarta.go.id. Penetapan zonasi di DKI Jakarta sudah berlaku sejak pelaksanaan PPDB DKI pada 2017. Namun, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta tahun 2020 menuai banyak protes dari para orang tua siswa.

Sistem zonasi yang diterapkan tidak sesuai dengan aturan soal jarak domisili ke sekolah yang dituju, karena lebih mementingkan kriteria usia. Bahkan Komisi Nasional Perlindungan Anak meminta dibatalkan dan diulang. Alasannya, kebijakan batas usia yang diterapkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dinilai bertentangan dengan Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019.

Pemendikbud Nomor 44 Tahun 2019 salah dilaksanakan dan diterjemahkan dalam juknis Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Kami menyebutkan gagal paham dari Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019,” kata Ketua Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait di tvOne, Minggu, 28 Juni 2020 (Viva News, 28/06/2020).

Banyak laporan dan protes dari orang tua siswa terhadap mekanisme pembatasan usia pada sistem PPDB, Salah satunya orang tua murid yang marah karena anaknya yang berusia 14 tahun tidak diterima di SMA Negeri, karena terlalu muda. Bukan hanya permasalahan usia tetapi juga persebaran sekolah yang tidak merata dan infrastruktur yang tidak memadai juga menjadi salah satu faktor munculnya masalah dalam penerapan sistem zonasi.

Padahal tujuan awal dari sistem zonasi, diantaranya untuk mendekatkan domisili peserta didik dengan sekolah sehingga dapat memudahkan siswa menjangkau akses layanan pendidikan dan menghilangkan eksklusivitas sekolah favorit untuk pemerataan sistem pendidikan, maka tidak ada lagi sebutan sekolah favorit pada suatu wilayah.

Pendidikan adalah hak dan kebutuhan dasar bagi setiap anak, agar dapat menghasilkan generasi penerus yang terbaik. Di sinilah peran negara sangat dibutuhkan, bukan hanya sebagai tempat terselenggaranya pendidikan tetapi juga sebagai garda utama dalam memajukan pendidikan dengan memberikan fasilitas, kurikulum, dan tenaga pengajar yang terbaik.

Tetapi dengan sistem pendidikan yang terjadi kini berdasarkan sekularisme-kapitalisme, hanyalah dilihat dari perolehan nilai dan ijazah semata, untuk mendapatkan pekerjaan bergengsi sehingga menghasilkan materi berlimpah. Maka bagaimana hasil dari generasi penerus tersebut? Akankah membawa kemajuan atau Kehancuran?

Dalam Islam negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek dalam sistem pendidikan yang diterapkan serta mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Mulai dari memberikan pendidikan secara gratis dengan sarana dan prasarana yang terbaik.

Begitu pula menyiapkan para tenaga pendidik terbaik dengan gaji yang tinggi. Sehingga dapat mewujudkan tujuan pendidikan dalam Islam yaitu Memiliki Kepribadian Islam, Menguasai pemikiran Islam dengan handal, Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/IPTEK), dan Memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Agar dapat terbentuk tujuan tersebut maka kurikulum pendidikan Islam bukan hanya terpaku pada materi semata, tetapi dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: pembentukan kepribadian Islami, penguasaan pengetahuan Islam, dan penguasaan ilmu kehidupan (IPTEK, keahlian, dan ketrampilan).[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *