Islam Ada, Makanan Terjaga

Islam Ada, Makanan Terjaga

Oleh : Mulyaningsih, S. PtAnggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel

WWW.POJOKOPINI.COM — Allah menciptakan manusia dengan seperangkat keistimewaan yang berbeda dengan makhluk yang lainnya. Setiap insan mendapatkannya tanpa pengecualian, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa ataupun anak-anak semua diberikan hal yang sama. Salah satunya adalah Allah memberikan khasiat pada manusia yaitu kebutuhan jasmani. Dengan kebutuhan tersebut akhirnya manusia dapat mempergunakan akalnya dengan baik dan benar. Karena persoalan terkadang muncul ketika memenuhi kebutuhan jasmani tersebut.

Layaknya seperti makan dan minum, kedua hal ini adalah bagian dari kebutuhan jasmani manusia. Banyak sekali persoalan yang akhirnya muncul darinya. Sebagaimana fakta sekarang yang menyebutkan terkait dengan kehalalan sebuah produk. Dilansir dari media nasional bahwa sertifikasi halal produk masuk dalam Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law.

Jaminan konsumen untuk mendapatkan produk UMKM yang tersertifikasi menjadi salah satu hal yang diusulkan masuk ke dalam RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Hal tersebut diungkapkan Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki. Saat ini, UMKM sulit menyertakan sertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) maupun halal pada produknya. Pasalnya, sertifikasi itu diperuntukkan ke masing-masing produk.

“Misalnya warung Padang. Sertifikat halalnya mesti satu per satu produk. Katakanlah dia punya 20 menu, satu menu biayanya Rp 10 juta. Satu restoran Padang untuk sertifikasi bisa Rp 80 juta. Ini kan menghambat,” ujar Teten.

Kementeriannya pun mengusulkan agar sertifikasi bukan lagi pada produk jadi, namun pada bahan bakunya. Dengan demikian, sertifikasi tidak dibebankan kepada pelaku UMKM, namun kepada produsen bahan baku. Misalnya pisang goreng harus disertifikasi halal. Bahan pisang goreng kan jelas, ada pisang, minyak goreng, terigu, susu, gula. Nah, bisa mungkin yang disertifikasi nanti bukan pisang gorengnya, tapi bahan bakunya.

Namun demikian, lembaga terkait harus rajin melakukan cek produk. Apabila ditemukan ada produk yang bahan bakunya tidak tersertifikasi, maka akan ditindak tegas. Selain itu, kementeriannya juga mengusulkan agar pelaku UMKM yang ingin mengembangkan produknya ke luar negeri mendapatkan sertifikasi internasional dengan mudah dan cepat (kompas.com, 04/01/2020).

Masalah makanan dan minuman ini sangat penting adanya. Karena sesungguhnya keduanya merupakan bagian dari kebutuhan jasmani yang harus terpenuhi adanya. Banyak efek jika hal tersebut tidak dapat dipenuhi. Oleh karenanya amat sangat perlu perhatian yang serius terkait dengan hal tersebut.

Pandangan Islam

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Tak hanya mengatur persoalan ibadah kepada Rabb saja, namun permasalahan yang lain juga diatur olehnya. Pengaturan itu meliputi tiga hubungan, yaitu antar sesama manusia, dengan dirinya sendiri dan Rabbnya.

Pola hubungan manusia dengan dirinya sendiri meliputi beberapa aspek. Yaitu persoalan terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani seperti makan, minum, pakaian dan yang lainnya. Dalam hal ini manusia wajib untuk terikat pada aturan yang telah dijelaskan oleh islam.

Terkait dengan makanan, maka manusia harus sesuai dengan Islam. Ada dua ketentuan yang wajib terpenuhi, yaitu berbagai aspek yang ada di dalamnya, yaitu halal dan thoyib. Sebagaimana yang tercantum dalam terjemahan Qur’an Surat al Maidah ayat 88.

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thoyib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepadaNya”

Ditambah dalam surat al Maidah ayat 3 yang berbunyi “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang terkecik, yang dipukul, yang jatuh ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali kamu sempat menyembelihnya.”

Dari terjemahan ayat di atas bahwa Allah sebagai Robb kita memerintahkan kepada hambanya untuk memakan makanan yang halal serta thoyib. Konteks halal-nya pun sudah jelas karena ada makanan yang memang diharamkan bagi manusia. Bangkai, darah, babi, hewan yang disembelih atas nama selain Allah adalah makanan yang diharamkan bagi manusia. Berarti hanya itu saja makanan yang diharamkan oleh Islam selebihnya adalah halal.

Lantas kemudian setelah tahu bahwa makanan tersebut halal maka perlu ada tambahan yang lain. Hal ini dimaksudkan agar apa-apa yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah sesuatu yang menyehatkan. Itulah yang dinamakan thoyib, menyehatkan bagi tubuh manusia. Disinilah perlu juga kehati-hatian manusia dalam memilah dan memilih segala sesuatunya. Karena di pasaran sana banyak berhamburan produk-produk halal namun tidak thoyib. Sebagai contoh adalah zat pengawet, pewarna dan pemanis buatan. Semua itu adalah beberapa contoh yang tidak thoyib. Ada baiknya seorang ibu memasak makanan sendiri di rumah karena lebih terjamin dari sisi halal serta thoyibnya.

Layaknya seperti kasus di atas, kehalalan sebuah produk makanan memang sangat diperlukan bagi masyarakat. Artinya adalah negara dalam hal ini pemerintah mempunyai kewajiban untuk mengontrol peredaran makanan. Tak hanya dari segi halal berdasarkan zatnya saja namun perlu juga ditelusuri dari sisi cara mendapatkannya. Jika mendapatkan barang tidak sesuai dengan syariat Islam maka kehalalannya menjadi hilang. Contohnya barang didapatkan dari hasil mencuri, merampok, atau membegal maka barang yang didapatkan tidak dapat dikatakan halal walau dari segi zatnya halal.

Kemudian hal thoyib ini perlu diperhatikan juga. Karena bisa jadi di pasaran banyak sekali produk-produk makanan yang memakai bahan-bahan yang tak thoyib. Misalnya pewarna pakaian, pemanis buatan, ataupun penyedap yang berlebihan. Semua itu dapat menyebabkan hal berbahaya bagi manusia.

Semua itu terjadi karena memang didukung oleh sistem Kapitalis-sekuler yang diterapkan sekarang ini. Para penjual dengan seenaknya memberikan campuran pada dagangannya tanpa mempertimbangkan dari sisi thoyibnya. Tentulah asas manfaat dari sisi ekonomi yang akhirnya mereka kedepankan. Bagaimana caranya agar mengeluarkan modal kecil tetapi menghasilkan laba yang sangat besar. Dengan begitu, akhirnya mereka menggunakan zat-zat penambah makanan yang tidak baik untuk dikonsumsi manusia. Kemudian ditambah kurangnya pengawasan dari pemerintah maka yang terjadi adalah pembenaran adanya. Hal ini mengindikasikan lemahnya pengontrolan dari negara, dalam hal ini para petugas pemerintah yang terkait dengan masalah tersebut. Tentunya hal ini masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai.

Ditambah lagi dengan lemahnya aqidah mereka, maka semakin merajalela kondisi seperti yang gambaran di atas. Kejadian-kejadian tersebut biasanya banyak bermunculan ketika bulan Ramadan tiba.

Sangat jauh berbeda manakala sistem Islam diterapkan dalam kehidupan. Dalam sisi makanan serta minuman, hal yang utama yang harus diperhatikan adalah halal dan thoyib-nya. Negara wajib menjaga kesehatan rakyatnya. Salah satunya dengan tidak mengizinkan barang dari negara lain untuk masuk ketika belum ada ada dua faktor tersebut. Jika di dalam negeri masih bisa mencukupi kebutuhan rakyat maka tidak diperlukan impor barang. Utamanya makanan dan minuman, karena hal ini sangat sensitif. Perlu pengawasan yang ekstra ketat dan akurat. Karena sesuatu yang dimakan dan diminum akan berpengaruh pada ibadah kaum muslimin. Jika ada benda haram yang masuk ke dalam tubuh maka ibadahnya tidak akan diterima selama 40 hari.

Kemudian negara akan melakukan pembinaan serta pengontrolan terhadap makanan dan minuman. Semua itu akan selalu dijalankan oleh qadhi hisbah, polisi dan ditemani oleh pekerja yang ahli dalam bidangnya. Tentunya negara juga melakukan pembekalan aqidah serta ilmu kesehatan kepada para pedagang agar mereka menjual barang sesuai dengan yang dibolehkan dalam Islam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *