Islam bukan Barang Dagangan!

Islam bukan Barang Dagangan!

Inilah wajah perpolitikan dalam demokrasi. Tidak ada idealisme di dalamnya. Karena kepentingan menjadi tolok ukur yang mesti diperjuangkan. Islam hanyalah sebuah instrumen yang digunakan dalam meraih suara rakyat.

Oleh: Susi Ummu Zhafira

WWW.POJOKOPINI.COM — Ketika jualan surga sudah tak lagi dirasa menguntungkan, maka arah permainan politik harus diubah sesuai keinginan pasar. Sekuler anti Islam menjadi pilihan karena terbukti laris di Pilpres 2019 lalu dengan kemenangan partai-partai sekuler. Bahkan partai penista agama.

“Jadi bukan jualan agama yang diharapkan, tapi apa kebijakan berdampak yang bisa ditawarkan kepada masyarakat,” kata Ketua Umum Partai Amanat Nasional di sebuah kesempatan penutupan Silaknas dan Milad Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), beberapa waktu lalu. (Antaranews.com, 8/12/2019)

Menurutnya, isu-isu tentang agama yang diterapkan saat Pemilu 2019 lalu tidak relevan lagi. Hanya memperoleh posisi ke delapan dalam pemilu tersebut, menjadi bukti ketidakefektifan isu Islam dalam meraih kekuasaan. Dengan demikian, dia mengajak partainya untuk berfikir pragmatis. Tak perlu bawa-bawa agama, yang penting tujuan perolehan suara bisa dicapai sesuai target yang diinginkan.

Inilah wajah perpolitikan dalam demokrasi. Tidak ada idealisme di dalamnya. Karena kepentingan menjadi tolok ukur yang mesti diperjuangkan. Islam hanyalah sebuah instrumen yang digunakan dalam meraih suara rakyat. Namun, ketika suara perolehan tak lagi sesuai harapan, maka keputusan untuk mengubah haluan menjadi partai yang tak lagi membawa isu agama menjadi pilihan.

Sangat disayangkan jika ternyata partai Islam memiliki cara pandang yang keliru terhadap agamanya. Sungguh, Islam bukanlah barang dagangan yang bisa diperjualbelikan. Mempertahankannya hanya tersebab faktor laku dan tak laku. Tapi Islam itu sungguh aturan baku yang mesti diperjuangkan.

Sebagai partai dengan basis massa Islam, maka sudah selayaknya menjadikan Islam sebagai ideologinya. PAN juga seharusnya memahami, apa penyebab utama umat tidak memberikan dukungannya kepada partai Islam?

Tentu saja ini disebabkan oleh sistem demokrasi yang sekuler dan liberal yang diterapkan di negeri ini. Dengannya umat tidak memahami agama yang dianut secara sempurna. Hanya memandang agama dari sisi ritual saja. Lebih miris lagi, saat rasa kepedulian itu sirna ketika agama bahkan rasul-Nya dinista.

Di sinilah seharusnya partai Islam itu berperan. Berjibaku di tengah-tengah umat untuk memberikan edukasi Islam agar umat tercerahkan. Mengambil Islam tak lagi hanya sebagian, tapi seluruh ajaranya wajib diterapkan. Karena sungguh, Islam solusi untuk berbagai problematika yang kini umat hadapi. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *