Islam itu Sistem Hidup, bukan cuma Sistem Ekonomi

Islam itu Sistem Hidup, bukan cuma Sistem Ekonomi

Benci Khilafah tapi mengambil keuntungan dari ghirah umat Islam yang ingin berislam dengan dalih sosialisasi waqaf demi mewujudkan ketakwaan sosial. Seolah memfasilitasi keshalihan padahal tak lebih dari memanfaatkan demi kepentingan materi.


Oleh: Ummu Farhan

POJOKOPINI.COM – Lucu sekaligus aneh, saat ada yang mengatakan waqaf merupakan salah satu amalan untuk mewujudkan kesalihan sosial kita disamping zakat, infak dan sedekah, namun di sisi lain bersikap menentang Islam dengan mencitraburuk Khilafah. Agaknya memang tak tertolak untuk disadari keunggulan sistem ekonomi Islam menciptakan ketahanan sosial bangsa, dan memang hanya sistem ekonomi Islam yang terbukti kuat dan telah sempurna dengan seperangkat aturan anti krisis.

Meski begitu, baru-baru ini mencuat narasi tendensius bahwa negara Islam juga berutang. Ditambah dengan menyebut beberapa negara di dunia yang sejatinya menunjukkan ketidakpahaman terhadap perbedaan negara Islam dan negara mayoritas Muslim.

Memang Islam itu menarik. Islam itu unik. Islam sudah komplit sempurna sebagai sistem yang siap mengelola hajat hidup manusia ketika dia diterapkan. Ya, Islam adalah sistem. Islam tak hanya memiliki sistem ekonomi yang tentunya mampu mewujudkan dan memback-up ketahanan sosial, Islam pun memiliki sistem pendidikan, sosial, peradilan, keuangan, pemerintahan, politik dalam negeri, polugri, kesehatan dan sebagainya yang teruji waktu pernah menjadi digdaya dunia dalam Khilafah.

Pengelolaan Islam terhadap hajat hidup publik berbeda total dengan bagaimana kita diurus saat ini oleh sistem kapitalisme sekuler. Sistem kapitalisme sekuler ini menjadikan segala apa demi bisa mengumpulkan uang rakyat. Benci Khilafah tapi mengambil keuntungan dari ghirah umat Islam yang ingin berislam dengan dalih sosialisasi waqaf demi mewujudkan ketakwaan sosial. Seolah memfasilitasi keshalihan padahal tak lebih dari memanfaatkan demi kepentingan materi.

Di satu sisi kapitalisme melegitimasi utang luar negeri yang membengkak dengan dalih ‘negara Islam juga berutang’, di sisi lain menggunakan waqaf, infaq, dan sedekah sebagai satu jalan untuk memobilisasi harta umat dengan dalih mewujudkan ketahanan sosial. Padahal problem ketahanan sosial adalah tanggung jawab negara, bukan rakyat dengan konsep tolong menolong yang dilabel taawun seolah segaris dengan syariat. Justru syariat memandang segala hajat hidup rakyat dibebankan kepada negara, bukan di pundak setiap individu rakyat alias nafsi-nafsi.

Jadi, mengambil Islam sepotong-sepotong sesuka hati sama saja seperti upaya utopis mengecat langit, sekaligus menunjukkan hipokrisi kapitalisme sekuler yang sejatinya memang tak mampu mengurusi rakyat.

Islam akan mewujudkan sejahtera jika diterapkan kaffah, bukan setengah-setengah. Islam pun mustahil bercampur dengan tegak di atas sistem kapitalisme sekuler, karena keduanya sudah sejak secara azas berbeda. Kapitalisme menjadikan sekularisme (pemisahkan agama dan kehidupan) sebagai landasannya, sedangkan Islam ada sebagai sistem ideologis yang mengelola seluruh aspek hidup manusia di dalam pengurusannya.

Sistem Islam sempurna dengan seperangkat aturan yang dimiilkinya untuk mewujudkan ketahanan sosial. Semua sub sistem yang terdapat dalam sistem Islam saling terintegrasi dan terhubung saling menyejahterakan. Saling melengkapi untuk tujuan mewujudkan kesejahteraan manusia baik Muslim maupun bukan. Jika sistem Islam diterapkan kaffah, bukan hanya kesejahteraan sosial bangsa ini yang terwujud, dunia akan hidup dalam cahaya dan kelegaan. Jadi target kesejahteraan sosial yang bersifat lokal itu kecil sekali bagi Islam, karena Islam dalam Khilafah telah pernah membuktikan mampu mewujudkan sejahtera sepertiga dunia dalam naungannya.

Alhasil, sistem ekonomi hanya satu bagian dari keseluruhan sistem Islam yang saling terkait. Waqaf, infaq, dan sedekah, adalah satu sub yang lebih kecil dari sistem ekonomi Islam yang besar dan sempurna itu.

Menerapkan Islam menghilangkan derita manusia, mewujudkan kelegaan dan bebas dari kegelapan. Termasuk membebaskan bangsa dari jeratan utang riba yang mencekik. Pun harus dipahami bahwa tegaknya peradaban Islam dan menyejahterakan manusia adalah keniscayaan, janji Allah dan merupakan kabar gembira yang tersebut dalam hadits Rasulullah. Saat Islam tegak, syariat Allah hidup dalam kehidupan manusia, itulah masanya kita semua memahami makna Islam rahmatan lil alamin. Namun semua itu hanya akan terwujud dalam Khilafah, inilah rumah bagi sistem Islam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *