Islam Menyejahterakan Kehidupan Perempuan⁣

Islam Menyejahterakan Kehidupan Perempuan⁣

Jika ideologi Islam ini tegak, dipastikan dominasi kapitalisme yang memiskinkan dan menghinakan perempuan dihapuskan. Dengan itu, kemuliaan umat termasuk perempuan akan kembali diwujudkan.


Oleh: Nurul Aini Najibah⁣ (Muslimah Pejuang Dakwah⁣)

POJOKOPINI.COM — Beberapa waktu lalu, tepatnya 17 Agustus 2020 diadakan diskusi Sawala Aksi Wanoja Sunda (Sawanda) di Aula redaksi Pikiran Rakyat Jl Asia Afrika. Acara ini mengangkat tema “Wanita Sunda sebagai Ibu Peradaban untuk Indonesia” mengajak para wanita sunda berperan aktif semisal dalam aspek pendidikan, ekonomi dan politik. Dalam diskusi tersebut dirumuskan kebijakan yang dilakukan demi memotivasi kemajuan kaum wanita di segala bidang yang mengarah pada aktivitas modernisasi sesuai arahan demokrasi kapitalis (pikiranrakyat.com)⁣.

Kaum perempuan saat ini belum beranjak dari keterpurukannya, hal ini nampak dari meningkatnya kasus pelecehan, pemerkosaan atau juga kasus eksploitasi. Fakta inilah yang selama ini dijadikan alasan bagi para aktivis perempuan (kaum feminis) untuk menyampaikan berbagai tuntutan mereka atas nama emansipasi, kesetaraan gender, dan lain-lain yang kental dengan nuansa demokrasi dan kebebasan.⁣

Demokrasi memberikan keleluasaan kepada semua orang untuk bebas berkeyakinan, berperilaku, memiliki sesuatu, dan berpendapat. Kesadaran terhadap nasib buruk perempuan dalam sistem kapitalis sebenarnya telah dimiliki oleh mereka sendiri. Bahkan, ketertindasan itulah yang menggelorakan semangat untuk bangkit dan bergerak memperjuangkan hak-haknya. Namun, perjuangan perempuan untuk bangkit justru sering bermuara pada upaya membebaskan diri dari belenggu apapun.⁣
Untuk itu, para feminis menyerukan agar kaum perempuan beramai-ramai terjun ke sektor publik demi memperjuangkan kesetaraan gender.

Walaupun faktanya tidak semua perempuan yang terjun ke sektor publik didorong oleh kesetaraan gender, karena kemiskinan yang terstruktur pun berpengaruh besar bagi mereka hingga terjun ke sektor publik.⁣
Padahal pada saat yang sama, mereka tak bisa berlepas diri begitu saja dari kodratnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak mereka. Karena nyatanya, kaum perempuan banyak yang terjebak dalam dilema peran ganda. Kualitas keluarga sebagai basis masyarakat pun dipaksa menjadi taruhannya.⁣

Sistem kapitalisme telah terbukti menjadi penyebab tragisnya nasib perempuan. Eksploitasi tenaga perempuan demi berputarnya industri dan peningkatan modal negara menyebabkan nasib kaum ibu semakin kritis. Tidak sekedar peran keibuannya yang terhempas, fisik dan mentalnya pun berada dalam tekanan besar. Kaum perempuan yang seharusnya menjadi pilar baik-buruknya negara, telah ditempatkan sebagai komoditas yang jauh dari kemuliaan yang telah dilekatkan Islam pada dirinya. ⁣

Di samping itu, telah menjadi konsekuensi yang harus dihadapi keluarga, ketika para ibu terpaksa harus bekerja dan meninggalkan tanggung jawab sebagai ummu wa rabbatul bait. Secara tidak langsung hal tersebut membawa pengaruh pada anak-anaknya yang harus kehilangan sosok ibu, yang seharusnya mendidik serta membesarkan anak-anaknya. Tidak heran jika saat ini banyak sekali anak-anak yang merasa kehilangan kehadiran ibunya karena tuntutan pekerjaannya. ⁣

Oleh karenanya, tidaklah heran jika hal tersebut menjadi penyebab kehancuran keluarga. Sebagai institusi terkecil dalam struktur kemasyarakatan, keluarga seharusnya berperan dalam pembangunan generasi peradaban. Namun hal ini justru rusak karena peran dan fungsi anggota keluarganya tak lagi selaras dengan tatanan yang semestinya. Yang muncul bisa jadi bukan sekedar merusak kualitas generasi, namun kepunahan generasi juga bakal menjadi ancaman masa depan.⁣

Demikianlah yang terjadi ketika negara ini berpijak dan mengambil kebijakan berlandaskan sistem rusak. Kapitalis telah nyata menunjukkan kelemahannya untuk memberi solusi atas seluruh permasalahan manusia. Dalam sistem ini, negara tidak lagi berperan sebagai pelayan rakyat yang menyediakan semua hajat hidup masyarakat secara layak dan murah, bahkan gratis. Tapi penguasa telah bersalin rupa menjadi pengusaha yang turut menjadikan rakyat sebagai sumber pendapatan negara.⁣

Sebaliknya, Islam datang benar-benar untuk memuliakan dan memberdayakan kaum perempuan secara hakiki. Sesungguhnya Islam telah menetapkan bahwa peran utama kaum perempuan adalah sebagai pencetak generasi, yang akan menjalani perannya sebagai ibu sekaligus pengatur rumah tangga. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:⁣
… Seorang istri adalah penanggung jawab di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas apa yang diurusnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).⁣

Islam telah memberikan nilai tak terhingga terhadap kedudukan seorang perempuan. Ideologi Islam tidak pernah memandang perempuan sebagai benda, melainkan sebuah kehormatan. Sebagai Ibu, mereka dapat berperan dalam mempersiapkan anak dan generasi umat agar menjadi pemimpin dan mujahid yang akan meneruskan perjuangan ini.⁣

Bahkan keberadaan perempuan sebagai pendamping suami berperan besar dalam memberikan support serta mengkondisikan rumahnya dengan suasana ibadah dan dakwah. Untuk itu, peran ini sangat strategis dan politis bagi sebuah bangsa atau umat. Maka, Allah Swt menetapkan berbagai aturan yang menjaga kaum perempuan dan menjaga kehormatan mereka. Dengan begitu posisi strategis itu bisa berjalan sebagaimana mestinya.⁣

Penjagaan Islam terhadap perempuan berupa aturan dalam berpakaian, aturan wali, mahram, waris, dan segala hukum yang berkaitan dengan fungsi ibu dan pengatur rumah tangga sedemikian luar biasa. Jika ia menjalankan semua itu dengan baik juga rasa takut kepada Allah Swt., berharap ridha-Nya, karena kecintaan-Nya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia adalah perempuan sukses, tidak saja di dunia melainkan sukses di akhirat. Namun, pelaksanaan hukum-hukum penjagaan tersebut akan menjadi sempurna dengan adanya peran negara di dalamnya.⁣

Dalam Islam, negara wajib memastikan pemenuhan segala hak perempuan dan pelaksanaan kewajibannya secara maksimal. Negara akan menghukum kepala keluarga yang tidak memberi nafkah kepada perempuan/istri dan anak-anaknya dengan standar tertentu. Negara juga menyelenggarakan sistem pendidikan yang menunjang fungsi utama perempuan agar mampu berkualitas dalam mendidik generasi. Kaum perempuan pun akan difasilitasi dengan berbagai sarana informasi yang membantu pelaksanaan tugas pendidikan keluarga di rumah.⁣

Islam pun memberikan ruang yang luas kepada perempuan untuk berkiprah di tengah umat, dengan memberikan hak untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi, perdagangan, pertanian, industri dan melakukan berbagai transaksi di dalamnya. Mereka diperbolehkan untuk memiliki dan mengembangkan harta, berhak mendapatkan pendidikan yang baik dan lengkap, serta mendapatkan akses kesehatan terbaik.⁣

Dalam permasalahan politik, Islam memberikan hak pada perempuan untuk memilih penguasa, berhak memilih dan dipilih dalam majelis perwakilan umat dan punya kewajiban untuk berbaiat kepada pemimpin, seperti halnya laki-laki. Suara perempuan pun akan didengar ketika mengadukan persoalan publik yang berkaitan dengan ri’ayah pemimpin terhadap hak umat.⁣

Sejarah telah banyak mencatat bagaimana para wanita di masa Rasulullah saw. (para shahabiyah) melakukan aktivitas dan perjuangan politik bersama-sama beliau dan para sahabat lainnya. Seperti halnya, Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq. Ia adalah belahan jiwa Rasulullah saw. di dunia dan di akhirat. Ia juga sosok ahli fiqih yang taat pada Rabbnya. Pada saat Rasulullah saw. meninggal dunia, usia Aisyah baru menginjak 19 tahun setelah sembilan tahun hidup bersama Rasulullah saw. Namun demikian, Aisyah telah memenuhi seluruh penjuru dunia dengan ilmu. Dalam hal periwayatan hadis, beliau adalah tokoh yang sulit di cari bandingannya. Ia lebih memahami hadis, dibanding istri-istri Rasul yang lain.⁣

Selain itu, ada juga Asy-Syifa’ binti Abdullah al-‘adawiyah, yang mengajar ilmu pengobatan di masa Nabi saw. Nama sebenarnya adalah Laila, tetapi lebih dikenal sebagai Asy-Syifa’ karena dari zaman sebelum Islam ia sudah pandai ilmu pengobatan. Sedangkan beliau memiliki nama julukan, yaitu Ummu Sulaiman. Ia sangat mahir dalam membaca dan menulis, beliau juga mahir dalam bidang ruqyah (berobat dengan memohon doa). Setelah masuk Islam, Ummu Sulaiman berhenti melakukan ruqyah. Namun, Rasulullah saw. Mengizinkan untuk meneruskannya kembali, bahkan menyuruh Ummu Sulaiman untuk mengajarkan kepada salah satu istri beliau, yaitu Hafshah binti Umar bin Khattab.⁣

Tentu tidak lupa juga keberadaan Ummu Salamah ra. yang mengikuti dan mendukung proses pendidikan anak-anak di kuttab (tempat baca tulis) sejak zaman khalifah Umar bin Khattab, pembelajaran di kuttab dimulai dari usia 4-12 tahun. Ummu salamah meminta kepada guru kuttab agar di waktu istirahat anak-anak kuttab dibawa ke rumahnya untuk bermain dan belajar bersama di dalam rumahnya. Karena Ummu Salamah ra. adalah muslimah yang cerdas dan ia pandai baca tulis, sebagaimana yang kita tahu membaca dan menulis adalah keahlian yang masih langkah di zaman itu.⁣

Telah sangat jelas banyak bukti yang menunjukkan bahwa Islam begitu memuliakan perempuan, menyejahterakan kehidupan mereka, bahkan umat secara keseluruhan. Namun sayang, gambaran negara sebagai pengayom rakyat tersebut saat ini belum terwujud. Sebuah negara yang akan menerapkan hukum-hukum Islam secara menyeluruh, mengangkat kehinaan yang menimpa kaum perempuan yang saat ini marak terjadi. Yang akan mengangkat kembali umat Islam agar bangkit lagi menjadi umat yang mulia sebagaimana yang seharusnya.⁣

Inilah yang seharusnya menjadi agenda perjuangan umat Islam, termasuk para perempuan. Intinya bagaimana agar Islam kembali diterapkan sebagai aturan kehidupan melalui penegakkan institusi Khilafah yang mendunia. Jika ideologi Islam ini tegak, dipastikan dominasi kapitalisme yang memiskinkan dan menghinakan perempuan dihapuskan. Dengan itu, kemuliaan umat termasuk perempuan akan kembali diwujudkan. Insya Allah.⁣ Wallahu a’lam bii ash-shawab.⁣[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *