Islam Pangkas Tuntas Kekerasan dalam Rumah Tangga

Dari penerapan Islam secara kaffah inilah terwujud kehidupan yang tentram, dalam biduk rumah tangga serta lingkungan masyarakat yang kondusif untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah warahmah.


Oleh: Eli Ermawati (Ibu Pembelajar)

POJOKOPINI.COM — Lagi-lagi kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali membuming. Setelah pasangan artis Lesty Kejora dan Rizky Billar tersandung kasus KDRT. Pasalnya pasangan ini digadang-gadang best couple yang selalu terlihat harmonis, sontak saja membuat kaget para penggemarnya kala Lesty Kejora mengaku mendapat tindak KDRT yang dilakukan oleh suaminya dan melaporkan ke polres Jakarta Selatan pada September lalu.

Keberanian Lesty Kejora melaporkan kasus yang dialaminya mendapat apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak. Speak Up atas kekerasan dari berbagai kalangan pun bergemuruh. Seperti yang disampaikan Menteri Pemberdaya Perempuan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga, ia mengatakan bahwa masyarakat harus berani angkat bicara apabila menjadi korban atau saksi pelecehan seksual ke perempuan dan anak. Dengan tujuan mendapatkan keadilan bagi para korban dan ada efek jera bagi para pelaku. Para korban atau saksi bisa melaporkan insiden pelecehan sepksual terhadap perempuan dan anak melalui saluran siaga (Hotline) dengan nomor 129 (kompas.com 25/9/2022).

Mirisnya kasus yang dialami publik figur ini menambah jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan Indonesia. Tercatat sebanyak 544.528 kasus sepanjang tahun 2014-2022 oleh Komnas HAM. Dan menurut data dari KemenPPPA, hingga Oktober 2022 ada 18.261 kasus KDRT di seluruh Indonesia, sebanyak 79,5% atau sudah 16.745 korbannya adalah perempuan (MetroTV News.com, 4 Oktober 2022).

Dari kasus-kasus yang tercatat meliputi kasus kekerasan terhadap istri, Kekerasan terhadap anak perempuan, kekerasan terhadap pekerja rumah tangga, kekerasan mantan suami, kekerasan dalam pacaran, bahkan ada juga kekerasan mantan pacar dan kekerasan relasi personal lainnya. Yang tertinggi kasus kekerasan terhadap istri. Meski banyak kecaman, dukungan terhadap perempuan dan berbagai regulasi yang ditetapkan, namun pada kenyataannya jumlah tersebut semakin meningkat. Alih-alih menyelesaikan persoalan KDRT dengan UU nomor 23 tahun 2004 justru malah melahirkan kasus baru. Bak jamur dimusim hujan, kasusnya pun bertambah subur.

Bukan tanpa sebab, banyak hal yang menjadi pemicu terjadinya KDRT di antaranya faktor individu, faktor perselingkuhan dan faktor ekonomi. Tindakan KDRT seperti memukul, menampar, mencekik, menendang dan sebagainya biasanya terjadi berawal dari pertengkaran.

Bagi kaum feminis yang menjadi permasalahan utama adalah karena adanya kesenjangan relasi gender antara perempuan dan laki-laki hingga terjadi kekerasan seksual pada perempuan. Dan mereka memandang posisi laki-laki sebagai pemimpin bagi perempuan menyebabkan perempuan dibawah kekuasaan dan kendali laki-laki. Karena posisi ini pulalah mereka menganggap bahwa perempuan itu lemah sehingga sering menjadi korban kekerasan laki-laki. Hakekatnya terjadi konflik yang nyata antara tuntutan mereka dengan realitas yang terjadi dimasyarakat dalam kerangka berfikir feminis, akibat pola pikir yang sekuler dan menempatkan kebebasan individu diatas segalanya, namun disatu sisi mereka juga ingin perempuan bebas dari kekerasan padahal itu semua justru memicu maraknya kekerasan pada perempuan.

Jadi persoalan ini terjadi bukan karena kepemipinan seorang suami, namun karena tidak diterapkannya aturan yang benar yang mengatur hubungan suami-istri, hubungan antara pemimpin dan yang dipimpinnya, hal inilah yang tidak dipahami seorang feminis, mereka bahkan dengan gencarnya menggaungkan kesetaraan gender dimana peran perempuan harus sama dengan peran laki-laki. Dan bukan cuma itu, penanganan yang tidak sampai pada akar permasalahannya sehingga tidak tuntas. Termasuk Speak Up atas kekerasan yang tidak bisa menyelesaikan persoalan ini.

Lantas bagaimana Islam memandang semua ini? Memang dalam biduk rumah tangga tak akan lepas dari permasalahan hidup, oleh karenanya Islam memberikan solusi untuk mengatasinya. Dalam syariat Islam dijelaskan bahwa hak istri atas suaminya dan hak suami atas istrinya, berdasarkan firman Allah Swt “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS. Al Baqarah 228)

Karena suami adalah Al qawwam yang bertanggung jawab atas pengaturan dan pemeliharaan rumah tangga dan wajib menjaga keluarganya dari api neraka. Termasuk kedalamnya mendidik dan membimbing istrinya agar taat pada Allah Swt dan Rasul-Nya. Namun demikian bukan berarti suami bertindak sewenang-wenang terhadap istrinya ketika ada seorang istri yang membangkang (nuzyus) pada suaminya, maka suami berhak mendidiknya dengan cara yang makruf, sebagaimana yang telah Allah ajarkan dalam al Qur’an surat An Nisa ayat 34 “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya.”

Pukulan yang dimaksud harus merupakan pukulan ringan, yaitu yang tidak membahayakan atau menyakitkan. Sebagaimana yang telah Rasulullah Saw. jelaskan dalam sabdanya “Jika mereka melakukan tindakan tersebut (yakni nusyuz), maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan atau menyakitkan.” (HR Muslim)

Kemudian jika dalam kehidupan rumah tangga terjadi persengketaan yang bisa mengancam ketentraman, Islam memerintahkan untuk ada pihak ketiga (dari pihak suami istri) yang membantu menyelesaikan. Hal inipun berdasarkan firman Allah Swt dalam QS. An Nisa: 35 “Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (Juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu.

Seperti itulah Islam dalam memberikan solusi terkait permasalahan KDRT tuntas hingga ke akarnya. Akan tetapi penerapan hukum Islam tidak bisa hanya dengan individu-individu keluarga saja, harus ada kontrol dari masyarakat dan peran penting negara yang menerapkan hukum Allah. Dengan dipahamkannya tentang Islam ke tengah-tengah masyarakat dan diterapkannya hukum syariat pada negara, maka Ketika ada pelanggaran syariat Islam seperti KDRT yang mengancam keselamatan, tentu Islam menetapkan hal itu sebagai tindak kejahatan sehingga akan diberi sanksi yang tegas. Dari penerapan Islam secara kaffah inilah terwujud kehidupan yang tentram, dalam biduk rumah tangga serta lingkungan masyarakat yang kondusif untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Wallahu a’lam bishawwab.[]

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.