Islam Solusi Fundamental atasi Stunting Global

Harus ada pemecahan mendasar agar masalah ini segera terselesaikan. Dialah Islam, sebuah aturan sempurna yang bersumber dari Allah SWT. Aturan tanpa cela yang akan mengantarkan manusia pada kemandirian ekonomi dan kesejahteraan.


Oleh: Misbah Munthe S.Pd (Pemerhati Kebijakan Publik)

POJOKOPINI.COM — Kekuatan sebuah negara sangat ditentukan oleh kwalitas generasi muda nya. Sebab di tangan mereka lah tampuk kepemimpinan masa mendatang diserahkan. Hadirnya calon-calon pemimpin yang cerdas, berkualitas, dan produktif juga tak lepas dari pengaturan sebuah negara dalam mengatur urusan rakyatnya. Termasuk, memastikan agar setiap bayi yang lahir terpenuhi seluruh kebutuhan pangan, pendidikan dan keamanannya. Sehingga tercukupinya kebutuhan mendasar dapat mendorong setiap orang tua agar menjadikan rumahnya sebagai madrasatul ‘ula bagi anak-anak nya.

Sebaliknya, Jika masalah generasi ini diabaikan maka kita akan dapat memprediksi bagaimana kacaunya sebuah peradaban di masa mendatang. Contoh kecil yang cukup mencengangkan adalah persoalan stunting atau gizi buruk yang dialami sebagian besar negara, termasuk Indonesia.

Indonesia menjadi salah satu negara yang disorot UNICEF terkait hal ini. Mengingat tingginya angka kasus stunting, wasting, dan berat badan berlebih hingga mencapai 27.7 persen atau sekitar 6.3 juta dari populasi 23 juta populasi balita di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga menjadi urutan ke-4 dunia dan ke-2 se Asia Tenggara terkait kasus ini (Merdeka.com, 21/12/2020).

Meskipun pemerintah mengklaim bahwa ada penurunan dari tahun lalu, tapi tetap saja angka kasus tersebut masih jauh dibawah standar yang ditetapkan WHO, yaitu di bawah 20 persen. Padahal, sebanyak 21 lembaga pemerintah telah dikerahkan untuk mengentaskan persoalan ini. Namun, tak menjadikan Indonesia sukses menekan lajunya angka kasus tersebut. Ini juga yang menjadi alasan pemerintah akan memercayakan urusan ini pada satu lembaga saja. Sebagaimana pernyataan menteri koordinator bidang pembangunan manusia dan kebudayaan RI, Muhajir Efendi bahwa Presiden menginginkan ada satu badan khusus yang menangani persoalan ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Sulsel, Ichsan Mustari mengungkapkan sulitnya menurunkan angka kasus ini disebabkan anggaran yang kurang memadai. Padahal, anggaran yang digelontorkan pemerintah pusat untuk wilayah Sulawesi Selatan ini mencapai Rp. 8 miliar untuk lima kabupaten (Merdeka.com, 08/11/2020).

Sungguh, persoalan terancamnya generasi muda dengan malnutrisi-stunting, wasting, dan berat badan berlebih bukan disebabkan anggaran yang tidak memadai ataupun terlalu banyaknya lembaga yang menangani kasus ini. Bukan juga disebabkan oleh pandemi Corona yang berkepanjangan. Melainkan lalainya pemerintah dalam mengatur urusan rakyat. Buktinya, meskipun hutang luar negeri Indonesia membengkak tapi rakyat tetap berada dalam taraf kemiskinan yang semakin parah.

Penerapan Kapitalisme Global Sumber Petaka

Kepelikan pemerintah dalam menanggulangi permasalahan ini telah lama berlangsung. Berbagai upaya disetiap daerah ditempuh namun nihil. Berulang kali pemimpin berganti tak menjadikan negeri ini pulih. Rakyat kecil terus menelan pahitnya kemiskinan. Bayi dan balita tak berkembang bahkan meninggal sia-sia. Peringatan Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap tahunnya juga tak memberikan arti apa-apa selain seremonial belaka. Bumi khatulistiwa masih menempati urutan ke-4 tertinggi didunia dalam masalah gizi dan tumbuh kembang balita.

Adalah sebuah kelaziman bahwa asas yang rusak akan melahirkan kerusakan turunan dan kezaliman yang tak terbendung. Stunting dan wasting adalah satu dari ribuan petaka yang lahir dari “rahim” kapitalisme yang menghantui manusia dan semesta. Harusnya, pemerintah berkaca dari tahun-tahun yang telah berlalu bahwa kebijakan yang ada tak pernah benar-benar menyejahterakan rakyat.

Sumber daya alam yang berlimpah juga tak menjadikan setiap warga negara dapat memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi nya sehari-hari. Bahkan dapat dikatakan, rakyat pribumi tak menikmati berlimpahnya kekayaan negeri. Lihat saja, angka kemiskinan yang tinggi tersebar keseluruh pelosok daerah. Jangankan untuk memenuhi gizi dan nutrisi, untuk makan tiga kali sehari saja sulit.

Kondisi demikian adalah wajar di bawah pengaturan kapitalisme. Sebab, distribusi bukanlah sesuatu yang penting dibandingkan produksi. Sehingga negara sibuk mengatur bagaimana terus memproduksi barang atau jasa tanpa mempedulikan apakah pendistribusian sudah tersebar merata atau hanya pada segelintir manusia-manusia kaya.

Alhasil, generasi muda yang digadang-gadang akan menggantikan tampuk kepemimpinan di masa mendatang dan membawa negara pada titik kejayaan adalah khayalan. Tak kurang dari 96 tahun lamanya sejak Islam tak lagi memimpin dunia dengan sistemnya yang mulia (Khilafah) dan digantikan demokrasi yang hina. Sejak itu pula para pemuda generasi harapan bangsa kehilangan jati dirinya. Kapitalisme yang mem”bidani” lahirnya gaya hidup liberal dan hedonis sukses menjauhkan generasi dari kemuliaan. Bahkan, cenderung terperosok ke dalam jurang kebinasaan.

Negara Butuh Solusi Fundamental, bukan Parsial

Selama ini pemerintah telah menyuguhkan berbagai macam solusi dan penggelontoran dana yang cukup besar untuk setiap daerah. Namun, karena solusi yang ditawarkan bersifat parsial, Maka wajar saja kemelut stunting dan wasting ini tak pernah surut.

Harus ada pemecahan mendasar agar masalah ini segera terselesaikan. Dialah Islam, sebuah aturan sempurna yang bersumber dari Allah SWT. Aturan tanpa cela yang akan mengantarkan manusia pada kemandirian ekonomi dan kesejahteraan. Dalam bidang ekonomi, Islam memiliki seperangkat determinasi terkait kepemilikan. Dari sinilah nantinya akan dipecahkan bagaimana Islam dengan Khilafahnya mampu menghapus kemiskinan dan tentunya memberantas gizi buruk yang mengancam balita.

Islam telah membagi urusan kepemilikan ini dalam tiga kategori, yaitu: kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Sehingga dari ketentuan ini akan tercipta keseimbangan ekonomi dalam masyarakat. Dalam hal kepemilikan individu akan ditentukan bagaimana cara memilikinya dan mengelolanya. Selain itu, Islam juga memperhatikan perbedaan kuat lemahnya fisik seseorang. Sehingga dengan ini individu yang lemah akan terbantu dalam mencukupi kebutuhannya.

Negara Khilafah juga menjalankan fungsinya sebagai penanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan rakyat dan mendorong mereka untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai kadar kesanggupannya. Selain itu, Sirkulasi kekayaan wajib terjadi pada setiap anggota masyarakat. Sebagaimana yang telah dinyatakan Allah SWT dalam QS. Al-Hasyr: 7 “…Supaya harta itu jangan beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kalian.”

Kekayaan negara yang mengandung hajat hidup orang banyak atau kepemilikan umum dikelola oleh negara dan diperuntukkan bagi kemaslahatan rakyat. Lalu, indikator kemiskinan/kesejahteraan akan diukur dari pemenuhan kebutuhan setiap individu masyarakat. Baik dalam bidang sosial, pendidikan, keamanan dan lainnya. Bukan hanya sebatas angka pertumbuhan ekonomi yang penentuannya dilihat secara umum.

Islam juga merupakan sebuah sistem yang melahirkan pemimpin-pemimpin bertanggung jawab atas setiap urusan rakyat dan menjamin kesejahteraan mereka. Sebagai pengingat, Umar bin Khattab adalah pemimpin (khalifah) pertama yang memberikan tunjangan kepada setiap bayi yang baru lahir. Sehingga dengan itu kedua orang tuanya akan mampu memenuhi setiap kebutuhan gizi dan nutrisi bayinya. Tidak hanya itu, setelah cukup usianya untuk menempuh pendidikan formal maka setiap orang dapat mengakses pendidikan berkualitas secara gratis. Sebuah lembaga pendidikan yang melahirkan generasi tangguh nan mulia, jauh dari hura-hura.

Lihatlah, bagaimana penerapan Islam dalam tatanan kehidupan bernama Khilafah menyejahterakan dan memuliakan. Memenuhi semua kebutuhan manusia dan memelihara urusan mereka. Sehingga tidak akan ditemukan ketimpangan ekonomi dan kesenjangan yang tinggi antara si kaya dan si miskin seperti yang terjadi dalam negara kapitalis.

Khalifah Umar bin Abdul aziz dengan masa jabatan yang singkat (sekitar 2-3 tahun) mampu menghapus kemisikinan terhadap warga negara dengan aturan Islam yang sempurna. Bahkan ketika seorang utusan Khalifah ditugaskan mengutip zakat kemudian bermaksud membagikannya kepada fakir miskin, utusan tersebut tidak menemukan seorangpun yang miskin.

Jadi jelas, bahwa Islam sebagai aturan yang mulia akan menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya dan melahirkan generasi gemilang sejak belia. Wa maa taufiqi illa billah.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *