Islamofobia Lagi dan Lagi

Kanada adalah rumah bagi peradaban kapitalis sekuler. Karakter sekuler itu mendarah daging dan berkarat di dalam nadi mereka. Sekularisme akan menempatkan Islam, yang merupakan akidah yang mengatur seluruh aspek kehidupan, mewajibkan pemeluknya berkomitmen tinggi pada hukum syariah, sebagai lawan abadi. Hal ini wajar karena keduanya diasuh oleh ideologi yang berlainan.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Pekan ini menjadi pekan berkabung nasional bagi Muslim Ontario Kanada, sebuah kota di barat Toronto dengan populasi Muslim yang besar. Luka mereka menganga, untuk kesekian kali karena islamofobia yang menjangkiti masyarakat Barat, komunitas global dimana mereka hidup dan berjuang di tengah-tengahnya. Serangan kali ini terjadi pada 6 Juni 2021, menimpa tiga generasi dari sebuah keluarga Muslim Pakistan yang berimigrasi ke Kanada selama 14 tahun. Mereka dibunuh dengan penuh perencanaan oleh seorang yang bersarang kebencian terhadap Islam di dalam hatinya. Keluarga itu habis seluruhnya menyisakan seorang yatim piatu berusia 9 tahun yang kini juga tengah berjuang untuk pulih di rumah sakit.

Keluarga ini adalah keluarga Muslim yang terkenal dan menjadi teladan di London, Ontario Kanada. Mereka adalah Afzaal (46) seorang fisioterapis, istrinya Madina Salman (46) Peneliti yang sedang menempuh gelar Ph.D dalam bidang teknik di Universitas West London, putri mereka Yumna (15) siswa berprestasi kelas sembilan di Oakridge Secondary School dan nenek Talat Afzaal (74) dan putra bungsu mereka Fayez (9) terluka parah. Pembunuh menabrak keluarga ini dengan menargetkan akidah mereka. Keluarga Afzaal ditabrak di persimpangan saat mereka keluar untuk jalan-jalan sore.

Pembunuh teroris islamofobia itu adalah Nathaniel Veltman (20) penganut supremasi kulit putih. Ia sengaja menabrak keluarga itu dengan truk pick-up. Awalnya dia didakwa dengan empat tuduhan pembunuhan tingkat pertama, atau direncanakan, dan satu tuduhan percobaan pembunuhan namun kemudian oleh karena tuntutan masyarakat yang semakin meluas dakwaan tersebut akhirnya ditingkatkan menjadi aktivitas terorisme.

Leah West, seorang profesor yang berspesialisasi dalam kontraterorisme dan hukum keamanan nasional di Universitas Carleton di Ottawa mengatakan sangat jarang melihat tuduhan terorisme yang sebenarnya diajukan karena menambah beban jaksa tanpa benar-benar menambah apapun dalam hal hukuman. Namun Nadia Hasan, Chief Operating Officer Dewan Nasional Muslim Kanada, mengatakan tuduhan terorisme harus dikejar (nytimes.com 11/6/2021).

Serangan ini bukanlah serangan yang pertama, melainkan sebuah episode islamophobia yang terus berulang. Sejatinya masyarakat Ontario sedang berjuang mengatasi islamophobia dan kefanatikan, terutama setelah penembakan massal yang mematikan di sebuah masjid di kota Quebec pada Januari 2017.

Pada tahun 2019, tahun terakhir yang memuat sediaan statistik mengenai kejahatan rasial dimana polisi melaporkan 1.946 terjadi di Kanada. Meskipun ada lebih sedikit kejahatan kebencian yang dilaporkan yang menargetkan agama tahun itu, mereka yang menargetkan Muslim naik 9 persen dari 2018.

Sungguh tak mudah bagi Muslim untuk hidup di tengah-tengah kegemerlapan Kanada. Negara metropolitan ini tak dapat memberikan rasa nyaman bagi setiap orang yang benaung di dalamnya. Banyak komunitas Muslim Kanada tetap ketakutan. Selma Tobah mengatakan banyak anggota masyarakat merasa seolah-olah “bisa saja salah satu dari kita” (aljazeera.com 14/6/2021).

Padahal di sisi lain Kanada dikenal karena keterbukaannya terhadap imigrasi dan keragaman etnisnya. Komunitas Muslim di London berasal dari pergantian abad ke-20 dan sangat menonjol. Ed Holder, Walikota London, mengatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa kedua yang paling umum di kota dan sekitar 10 persen dari 405.000 penduduk kota membentuk komunitas Muslimnya.

Dari peristiwa ini kita memahami bahwa keamanan adalah sesuatu hal yang mewah bagi kaum Muslimin. Akibat insiden ini menyebabkan ketakutan di kalangan Muslim meluas. Untuk itu pemerintah Kanada akan menjadi tuan rumah bagi serangkaian petemuan puncak termasuk KTT Nasional tentang islamofobia. Hal ini guna memetakan jalan ke depan bagi Kanada dalam mengakhiri kekerasan terhadap Muslim.

Namun sebagaimana yang kita pahami jalan ini masih sangat panjang. Kanada adalah rumah bagi peradaban kapitalis sekuler. Karakter sekuler itu mendarah daging dan berkarat di dalam nadi mereka. Sekularisme akan menempatkan Islam, yang merupakan akidah yang mengatur seluruh aspek kehidupan, mewajibkan pemeluknya berkomitmen tinggi pada hukum syariah, sebagai lawan abadi. Hal ini wajar karena keduanya diasuh oleh ideologi yang berlainan.

Bagi kaum Muslimin tempat yang paling kondusif bagi peradabannya adalah Khilafah. Demikian pula bagi non Muslim, tempat yang menjamin keadilan dan keamanan hanyalah Khilafah. Jangankan umat Islam, umat manusia secara umum seluruhnya mengalami kemerosotan yang tajam ketika hidup ditengah-tengah peradaban selain Islam. Silahkan dibuktikan, selama objektifitas tetap dijaga maka kebenaran tidak akan sulit ditemukan.

Dalam peradaban Persia, apakah umat manusia sejahtera? Bagaimana dengan peradaban Romawi, baik Romawi kuno dengan raja, kaisar dan rohaniawan maupun Romawi modern yang direpresentasikan oleh kapitalisme, tidak ada keamanan. Semua peradaban itu adalah peradaban materialisme, eksploitasi, ketidakadilan, kedzaliman dan angkara bersanding disana. Jangankan mereka yang miskin, golongan yang kaya saja tak henti digoyang dengan berbagai kebijakan dan rules yang mencekik kemerdekaan, kehormatan, keadilan dan jauh dari kemakmuran.

Namun semua penderitaan itu hilang ketika naungan Islam membentang di dua pertiga dunia. Islam tidak memiliki doktrin omong kosong seperti liberte, egalite, frathernite. Tidak ada klausul ompong hak asasi manusia. Namun tuntunan wahyu telah mendudukkan manusia sebagai manusia, hamba Allah yang dilindungi kehormatannya, akidahnya, nasabnya, akalnya, hartanya bahkan jiwanya.

Berikut sekelumit kesaksian orang-orang Barat baik yang bepergian dan singgah di negeri-negeri dalam wilayah Khilafah maupun yang betah menetap dan menikmati semua penjagaan Islam. Para pelancong, turis, pedagang dan pencari ilmu membanjiri andalusia, Barcelona dan Valencia untuk menikmati pelayanan yang diterima kaum Muslimin, mulai dari pendidikan, pe-ri’ayah-an, keindahan dan keamanan dari Daulah Islamiyah.

Pada tahun 890 M Alfonso besar menginginkan pendidik untuk anaknya, coba tebak siapa yang dipilihnya? Muslim? Tepat sekali. Dia memilih dua Muslim Cordoba untuk keberhasilan pendidikan putranya.

Contoh lain, ketika kaum Muslim berhasil menaklukkan Andalusia, maka sebagian penduduk Nasrani Andalusia memilih pindah ke Prancis. Berkaitan dengan ini sejarawan Inggris (1864-1930) mengisahkan sifat perlakuan kehidupan yang diterima para imigran Andalusia di Perancis tidak menjadi lebih baik dibandingkan saudara Nasrani mereka yang tinggal dalam naungan Islam.

Arnold menambahkan banyak kaum Nasrani yang menggunakan nama-nama Arab dan meniru tetangga Muslim mereka dalam menjalankan keagamaan. Banyak dari mereka yang melakukan khitan. Sebagaimana sebuah perubahan drastis terjadi pada pasukan salib yang menjajah Syam.

Montgomery Watt (1909-2006 m) orientalis Inggris yang memiliki spesialisasi studi Islam, sampai merasa heran dan mengatakan, “Anehnya, orang-orang yang ikut dalam perang salib mengatakan bahwa agama mereka adalah agama perdamaian”. Akan tetapi, kondisi mereka setelah bercampur dengan kaum Muslimin mengalami perubahan.

Lain lagi sejawaran Will Durant, Dia mengatakan, orang-orang Eropa yang menduduki dua negeri ini (Syria dan Palestina saat perang salib, telah berhias dengan hiasan Islam sedikit demi sedikit. Hubungan mereka dengan kaum Muslimin dikawasan tersebut menjadi semakin kuat. Itulah gambaran dominan kehidupan manusia dalam naungan Khilafah Islamiyah.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *