Islamofobia Menggejala, Maunya Generasi Seperti Apa?

Islamofobia Menggejala, Maunya Generasi Seperti Apa?

Aneh memang, mengapa yang berbau Islam dijauhkan dari generasi, sedangkan nilai-nilai liberal justru digandrungi? Apakah yang sebenarnya diinginkan untuk generasi? Generasi shalih, shalihah penebar kebaikan ataukah generasi rusak, halu korban liberalisme? Lantas masa depan seperti apa generasi yang diharapkan? Generasi pengendali ataukah generasi dijajah dan dikendalikan musuh?


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Gerakan Literasi Nasional yang digencarkan sekolah, sangat penting untuk mewujudkan generasi literat. Apalagi Grand Design Pendidikan Karakter Kementrian Pendidikan Nasional menghadapi permasalahan dan tantangan yang tidak mudah. Dorongan membaca siswa-siswi masih rendah.

Peringkat Indonesia merosot dalam evaluasi Programme for International Student Asessment (PISA). Sejak empat tahun terakhir, posisi Indonesia menurun di semua bidang yang diujikan: membaca, matematika, dan sains. Berdasarkan laporan PISA yang baru rilis, Selasa 3 Desember 2019, skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77 negara, lalu skor matematika ada di peringkat 72 dari 78 negara, dan skor sains ada di peringkat 70 dari 78 negara (Liputan 6, 4 /12/2019).

PIRLS 2011 Internasional Result in Reading Indonesia menduduki peringkat 45 dari 48 negara dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012). PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke 64 dari 65 negara dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496). Data PIRLS dan PISA, khususnya dalam ketrampilan memahani bacaan menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah. Tentu ini sangat memprihatinkan. Bagaimana generasi ke depan jika dorongan membaca siswa-siswi ini tak dipupuk terus?

Tak berlebihan jika Dinas Pendidikan Provinsi membuat surat edaran mewajibkan siswa membaca buku tersebut dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi para siswa. Hal itu dikarenakan pada tahun 2021 akan dilaksanakan Asesmen Kopetensi Minimum (AKM) dan pengganti Ujian Nasional (UN) (Suara.com, 4/10/2020).

Untuk menumbuhkan budaya membaca tentu dibutuhkan buku- buku berkualitas dan menginspirasi. Buku Muhammad Al Fatih 1453 sangat menjawab persoalan dan tentu sangat bisa menginspirasi generasi.

Sebuah ibrah /pelajaran penting yang dapat menginspirasi generasi milenial saat ini dalam mewujudkan mimpi. Ungkapan yang sangat dalam, kolaborasi sebuah bisyarah dan kekuatan dahsyat. “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya” (HR Ahmad).

Hanya sayang ada pihak-pihak yang tak suka, hingga dibatalkan surat edaran untuk membaca buku Muhammad Al Fatih 1453. Meminjam ungkapan Ustaz Iwan Januar menyatakan, “Muhammad al-Fatih dibenci Barat karena kepahlawanan Islamnya. Berarti yang benci dan melarang buku macam ini kita sudah tahu kemana afiliasinya.

Sebenarnya kita ini adalah anak cucu dan generasi keturunan Muhammad Al Fatih. Wajar sangat penting bahkan mengenalnya dengan membaca kisah heroiknya yang nyata, bukan dongeng fiktif belaka. Penting mewarisi kehebatannya sebagai bekal untuk menaklukkan Roma sebentar lagi.

Penolakan mereka menjadikan buku Muhammad Al Fatih sebagai bacaan adalah karena mereka resah juga takut terhadap harapan penulis yang tertulis di buku itu pada halaman 314.

Melalui buku ini, saya berharap dan bermohon kepada Allah Swt, agar Dia berkenan menjadikan generasi Islam saat ini menjadi generasi para penakluk. Generasi yang akan membenamkan ide-ide kufur lalu menggantinya ide-ide Islam yang orisinil. Generasi yang akan meninggikan kalimatullah dan membangkitkan kembali kehormatan kaum Muslim dengan penerapan syariat Islam dalam bentuk Khilafah Islam.” (Felix Y. Siauw). Sungguh melalui tulisan, penulis sangat berharap terbentuk generasi berkarakter kuat. Cita-cita besar yang tertanam, tentu hanya dimiliki orang-orang besar.

Bertolak belakang, Ironi, miris dan mengkhawatirkan ketika Wakil Presiden Ma’ruf Amin justru berharap budaya K-Pop dan drakor bisa menginspirasi generasi Indonesia. Memangnya kita mau generasi kita hanya menjadi budak industri musik dan film para kapitalis? Apalagi sebelumnya juga viral narasi liar Pak Menteri Agama yang mengatakan radikal masuk melalui pemuda ‘good looking‘, pandai bahasa Arab dan hafidz Quran. Sungguh radikalisme seolah menjadi momok mengerikan negeri ini. Padahal radikalisme hanyalah proyek asing untuk menghalangi tegaknya Islam. Hingga penguasa muslim menjalankan program ini dan membidik para ulama, kyai, santri dan orang-orang yang berpegang teguh pada tali Islam.

Aneh memang, mengapa yang berbau Islam dijauhkan dari generasi, sedangkan nilai-nilai liberal justru digandrungi? Apakah yang sebenarnya diinginkan untuk generasi? Generasi shalih, shalihah penebar kebaikan ataukah generasi rusak, halu korban liberalisme? Lantas masa depan seperti apa generasi yang diharapkan? Generasi pengendali ataukah generasi dijajah dan dikendalikan musuh?

Semoga Islamofobia yang terus dihembuskan para pendengki Islam, menjadikan kesadaran kaum muslimin untuk semakin rindu hidup dalam naungan Islam. Karena hanya hidup dalam penerapan Islamlah generasi kita akan terlindungi. Islam sebagai Dien yang sempurna pasti mampu menjawab krisis generasi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : َاْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى. “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” Wallahu a’lam bishawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *