Istriku Sahabatku

Istriku Sahabatku

Sudahkah kau memperlakukannya seperti sahabatmu? Atau, sudah seberapa jauh upayamu untuk membuatnya cukup layak untuk kau sebut sahabat? Sekuat apa upayamu mendidiknya dalam persahabatan abadi ini?


Oleh: Ummu Farhan

POJOKOPINI.COM — Saat bulan menggantikan matahari, pekat malam mulai menyelimuti dan menghadirkan hening. Coba kau lihatlah wajah letih itu, dia yang seharian merawat anak-anakmu, menjaga perut sekeluarga, memastikan ada baju dan celana untuk menutup aurat sekeluarga, jika mampu dia pun bersedia membantumu menafkahi kebutuhan hidup bersama meski mubah baginya, rasakanlah remuk redam keletihannya.

Pernahkah kau puji dia saat kau seruput kopi yang dibuatnya dengan doa dan cinta itu? Adakah setiap kau kenakan baju bersih itu, otomatis mengingatkanmu segala upayanya sehingga membuatmu melayangkan ciuman sayang ke keningnya yang letih? Ingatkah kau siapa yang mengajari anak-anakmu menyebut “Allah”? Adakah pelukan setiap hari untuk wanita mulia yang menjaga nama baikmu seumur hidupnya itu? Kau mungkin tak merasakan, dalam setiap kemudahan yang kau lalui, ada doa istrimu di sana. Adakah doa itu kau jaga agar tetap terlisan dari dia yang ikhas mendampingi hidupmu?

Dia takkan membubuhi garam di kopimu meski kau tak puji dia, bahkan saat kau pergi begitu saja meninggalkan rumah, dia tetap mendoakanmu dan menjaga dirinya demi menjaga kehormatanmu. Karena engkau adalah pakaian baginya, dan dia pun sadari bahwa dia adalah pakaianmu.

Kau pernahkah membayangkan bahwa di sela-sela kesibukannya mengabdi kepadamu, dia juga melebur di tengah-tengah umat untuk menjadi dokter bagi umat ini? Dia melakukan aktivitas langit, mengajak manusia untuk hanya taat kepada Allah Rabb-nya yang menggenggam jantungmu. Istrimu itu pengemban dakwah, dia takkan menangis untuk hal-hal yang tak strategis, sebisa mungkin. Tapi kau sadarilah, dia manusia yang punya perasaan, bukan robot yang tak butuh pelukan dan pujian penyemangat.

Bukan dia tak sadari, dia pun banyak bersalah dan tak sempurna. Tapi dia juga bukan tak memaklumi kekuranganmu yang banyak itu. Yang dilakukannya adalah menengadah tangan dan memohon Allah senantiasa menolongmu, menghilangkan segala susah dan gundahmu, karena kesempitanmu juga deritanya. Lihatlah, dia sangat kamu, adakah kau juga?

Sungguh tak sulit membuatnya bahagia, sesederhana itu, saat kau melihatnya dan membuatnya tersipu malu. Dia akan ingat pandangan kasih sayang itu. Itu akan menjadi energi baginya dalam keseharian yang padat agenda.

Visi, pernahkah kau ajak dia duduk dalam pertigaan dekapan malam setelah tahajjud bersama, untuk me-refresh visi perjuangan melalui pernikahan? Untuk juga menyirami kebun cinta yang mulai kering, menata lagi rasa dan menjaga manisnya iman dalam kehidupan rumah tangga.

Relasi suami istri adalah persahabatan. Kau bersahabat dengannya, dia itu sahabatmu. Bukan mitra kerja, pula bukan bos dan bawahan, apalagi majikan dan budak. Bukan. Kalian bersahabat sepanjang hidup, inilah syariat-Nya bagi kehidupan rumah tangga Islam. Sudahkah kau memperlakukannya seperti sahabatmu? Atau, sudah seberapa jauh upayamu untuk membuatnya cukup layak untuk kau sebut sahabat? Sekuat apa upayamu mendidiknya dalam persahabatan abadi ini?

Pengemban ide tidak menangis,” kalimat itu terngiang-ngiang saat kerikil hidup merobek kaki. Tapi tahukah kau dia tetap berjalan menjemput masa depan meski dalam kepayahan, tak ada niatan berkeluh apalagi berhenti, atau berpaling. Namun manusiawi, ketika makhluk Allah bernama wanita menangis karena luka hati.

Mungkin tak kau sadari, ada kau gores luka di hatinya. Dengan sikap, kata, atau pandangan mata yang membuatnya pesimis, merasa tak berharga, terkucilkan, mematikan semangat, dan membuat ruam pada hati.

Cobalah perhatikan lagi wajah itu, wajah letih itu, itu keletihan yang sungguh disukai oleh Allah. Letihnya dalam dakwah dan menjalankan fungsinya sebagai ummun wa rabbatul bayt, ditambah ringkih tubuhnya membantumu mencukupi kebutuhan keluarga dalam sistem kapitalisme yang mencekik ini. Coba pandang wajah itu, rasakan kesehariannya dengan sikapmu yang dingin itu. Pantaskah dia mendapatkan itu?

Coba peluklah dia, ambillah tangannya dan doakan tangan itu. Biarkan dia merasakan cintamu dan suntikan energi yang dirindukannya dari sahabat sejatinya. Dia tetap mencintaimu apapun yang terjadi, karena dia bukan wanita sembarang. Dia adalah pengemban ide, dan pengemban ide takkan berpaling dari ideologinya. Bersyukurlah, bersyukurlah kau memilikinya. Sebagaimana diapun selalu mensyukuri nikmat diperistri olehmu.


Rasulullah selalu mencium istrinya saat hendak atau pulang dari bepergian. Aisyah bercerita, “Nabi SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudhu dahulu.” (HR Ahmad).

Sebuah hadis yang berasal dari Anas RA, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi SAW menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari).

Rasulullah SAW pernah menyatakan cinta kepada Aisyah lewat kata-kata, bahkan di depan para sahabatnya. Amr bin ‘Ash berkata, “Rasulullah saw mengutusku bersama sebuah pasukan. Di sana ada juga Abu Bakar dan Umar. Ketika aku kembali aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling engkau cintai?” Rasulullah menjawab, “Aisyah.” Amr bin ‘Ash berkata lagi, “Sesungguhnya yang aku maksudkan dari kalangan laki-laki.” Rasulullah saw menjawab, “Ayahnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Aisyah ra, “Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haid, lalu Nabi mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” (HR Abdurrazaq dan Said bin Manshur).


Semoga mewakili rasa para muslimah mulia itu. Terus terang, aku tak cukup pintar dalam menerjemah dirimu dan kepayahanmu, karena kupahami kau jauh lebih letih dari itu, tapi yakinlah Allah adalah Rabb yang melihat, memahami, dan mengabulkan doa. Doaku untukmu, bersatu engkau dalam sakinah bersamanya, saling menemukan dalam mawaddah, dan senantiasa menjaga rahmah. Aamiin.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *