Jangan Salahkan Dini!

Jangan Salahkan Dini!

Apakah benar pernikahan dini disebut-sebut sebagai biang dari mundurnya generasi dan menciptakan angka stunting? Ataukah ada penyebab lain yang menjadi akar masalah sebenarnya?


Oleh : Mulyaningsih, S.Pt (Pemerhati masalah anak dan keluarga)

WWW.POJOKOPINI.COM — Pernikahan dini kini digadang-gadang sebagai satu alasan pencetus stunting dan menurunnya kualitas generasi. Seperti yang disadur dari salah satu media online, bahwa angka pernikahan usia dini di Kalimantan Selatan masih sangat tinggi, untuk menurunkannya dalam rangka menciptakan generasi yang berkualitas, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar kuliah umum di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), yang tidak hanya diikuti mahasiswa setempat tetapi lintas kampus seperti UIN Antasari serta beberapa PTS di Banjarmasin.

Kuliah umum yang disampaikan Inspektur Utama BKKBN, Agus Sukiswo, menyasar mahasiswa sebagai remaja yang akan memasuki usia produktif untuk menikah, diantaranya dengan promosi GenRe (Generasi Berencana), Senin (16/3/20).

Melalui rebranding logo BKKBN yang telah diluncurkan awal tahun lalu, kaum milenial akan dilibatkan dalam hal memberikan masukan terkait target yang ingin dicapai. Tiga puluh lima persen, saat ini diisi oleh para generasi milenial. Lewat rebranding dan sosialisasi langsung kepada para mahasiswa sebagai bagian dari generasi bangsa, BKKBN optimistis dapat menekan angka stunting dan pernikahan dini di Kalsel. Tantangan dalam menghadapi bonus demografi yang diprediksi pada 2030, BKKBN mencoba untuk membentuk para mahasiswa sebagai remaja agar siap dalam merencanakan kehidupan berkeluarga.

Sementara, Plt Kepala BKKBN Kalsel, H Ramlan mengakui di Kalsel menikah di usia muda masih tinggi. Jadi penting untuk kaum milenial menyiapkan kesiapanannya dalam menikah nanti. Para mahasiswa sebagai generasi pemegang tongkat estafet untuk menggantikan generasi pendahulunya, harus benar-benar menyiapkan diri sebelum memasuki perkawinan. Dikatakan juga, usia yang ideal atau usia matang memasuki jenjang pernikahan adalah 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria. “Dengan usia yang matang memasuki jenjang pernikahan, diharapkan akan menghasilkan generasi lebih berkualitas di masa yang akan datang,’’ tutup H Ramlan. (kalimantanpost.com, 19/03/2020)

Pernikahan adalah aktivitas dua insan yang amatlah sakral. Bahkan ketika melakukannya maka menyempurnakan separuh agama kita. Selain itu, menikah merupakan sunnah Rasul. Tentunya menjadi tujuan setiap insan untuk bisa melangsungkannya. Banyak tantangan, hambatan, ujian, dan cobaan yang akan menerpa bangunan keluarga. Mulai dari perbedaan pandangan, mencari pekerjaan, kurangnya ilmu terkait keluarga, dan masih banhak yang lain. Termasuk pula terkait dengan pernikahan dini yang diduga menjadi biang masalah angka stunting dan generasi yang bermasalah.

Sebenarnya, apakah benar pernikahan dini disebut-sebut sebagai biang dari mundurnya generasi dan menciptakan angka stunting? Ataukah ada penyebab lain yang menjadi akar masalah sebenarnya? Dan semua belum menyakini akan hal tersebut.

Melihat dari sisi pernikahan, bahwa itu adalah aktivitas yang sakral dan penuh nilai ibadah. Bahkan kaum Muslim tentunya sepakat dan paham benar bahwa menikah adalah bagian dari ibadah. Tak ada yang salah ketika sepasang pemuda ingin melangsungkan pernikahan. Hanya saja ada aturan yang mesti mereka ketahui bersama. Hal ini terkadang luput dari pemahaman masyarakat pada umumnya.

Untuk menikah setidaknya ada syarat yang harus dipenuhi oleh kedua muda-mudi. Hal yang pertama adalah keduanya sudah baligh. Terkadang di masyarakat memandang bahwa baligh ini terkait dengan umur. Padahal dalam Islam, baligh ini berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Namun ada ciri pasti pada wanita dan pria. Mungkin semua sudah tahu mengenai ciri tersebut. Wanita dikatakan baligh jika sudah menstruasi alias datang bulan. Dan pria dikatakan baligh jika sudah mimpi basah.

Akan tetapi, ada hal lain yang mesti harus ditekankan kepada kedua belah pihak bahwa makna baligh tak sekedar ciri tersebut di atas. Namun, ada tambahan lain bahwa seseorang dikatakan baligh berarti dia sudah memikul sendiri kewajiban untuk selalu terikat terhadap hukum Allah. Hal ini yang kadang belum dimengerti oleh semuanya. Ketika baligh berarti dia mampu mengambil segala sesuatunya hanya berasal dari Islam saja bukan yang lain. Lantas mengapa remaja sekarang tak mengetahui akan hal itu? Serangan pemahaman di luar Islam yang membuat akhirnya mereka mempunyai pemahaman yang berbeda.

Kapitalis sekuler yang dibalut oleh liberalisme akhirnya membuyarkan pemahaman Islam pada diri-diri pemuda saat ini. Mereka lebih menyukai pemahaman tersebut ketimbang Islam. Gaya hidup hedonis yang saat ini mengakar kuat juga menimbulkan masalah yang nyata.

Tentunya semua akan berefek pada pemahaman mereka. Begitu pula ketika mereka ingin membangun rumah tangga. Konsep yang mereka jalankan jauh dari Islam, sehingga bangunan yang dibentuk tak kuat terhadap terpaan yang ada.

Akar Masalah dan Solusi
Persoalan rumah tangga yang ada terjadi karena sistem yang sekarang berlaku jauh dari Islam. Sekularisme yang berteman dengan liberalisme membuat keluarga seolah-olah berada di ujung tanduk.

Kelemahan mengenai konsep keluarga dan rumah tangga sudah lama terjadi, bahkan sebelum bingkai rumah tangga terbentuk. Pemahaman yang minim terkait keluarga akhirnya membuat keretakan nyata. Sebut saja pemahaman terkait dengan fungsi dan posisi sebagai istri dan suami ataupun cara mendidik anak belum seutuhnya sampai pada benak mereka. Belum lagi dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok ataupun cara menghidangkan sampai ke meja makan menjadi soalan tersendiri. Dengan begitu, maka begitu ruwetlah keluarga dengan masalah-masalah yang ada.

Untuk mengatasi seluruh hal tersebut, tentu saja tidak mudah dan memerlukan solusi menyeluruh. Bukan hanya saat terjadinya pernikahan sebagai gerbang pembentukan keluarga, namun jauh sebelum itu. Perlu usaha pembentukan pemahaman yang benar mengenai konsep keluarga. Terkait dengan fungsi dan posisi sebagai seorang istri atau suami. Terkait pula dengan hak dan kewajiban keduanya.

Dasarnya adalah kembali kepada Islam sebagai pedoman hidup seluruh manusia, termasuk dalam hal membangun keluarga tangguh. Selain itu, permasalahan keluarga di negeri ini tak cukup diserahkan hanya pada individu-individu semata, perlu peranan negara di dalamnya. Negara berkewajiban untuk menanamkan akidah Islam sebagai pondasi dan tuntunan untuk membangun biduk rumah tangga muslim.

Tak cukup dengan kursus singkat pra nikah, namun harus ada pemahaman yang tertancap kuat dalam diri-diri kaum muslim. Hal ini bisa diterapkan dalam dunia pendidikan, melalui kurikulum yang diajarkan sekolah-sekolah. Ketika kurikulum sekolah berdasar pada akidah Islam maka akan mencetak generasi yang bertakwa dan mempunyai pondasi iman yang kokoh. Mereka paham benar bahwa hidup ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah saja.

Begitupula dengan aktivitas pernikahan, mereka akan menyakini bahwa hal tersebut adalah suatu ibadah. Sehingga tidak menjadikannya sebagai hal yang main-main atau ajang uji coba. Dengan begitu maka setiap diri remaja punya pondasi kokoh ketika hendak menuju pelaminan. Mengetahui secara jelas terkait dengan istri dan suami.

Di sisi yang lain, negara harus mampu melawan nilai-nilai di luar Islam yang akan merusak keutuhan rumah tangga. Pengaruh dari gaya hidup bebas, hedonisme, sekularisme, materialistik dan budaya konsumtif perlu dibuang jauh-jauh. Kemudian negara harus menjamin seluas-luasnya lapangan pekerjaan bagi para calon suami. Agar para suami-suami mendapatkan pekerjaan dengan mudah serta penghasilan yang memadai. Dengan begitu maka dari sisi ekonominya akan kuat.

Keharmonisan biduk rumah tangga perlu peran dari semua pihak. Yaitu ketakwaan dari individu, masyarakat, serta negara. Dengan kata lain harus menjadikan aturan Allah sebagai pondasi untuk semuanya.

Ketakwaan individu dapat dibentuk dari pembinaan ketakwaan dalam keluarga. Keluarga dapat membentuk ketakwaan individu jika mempunyai ketahanan yang tangguh.

Hal itu hanya bisa terwujud jika negara menjamin serta memfasilitasi semua kebutuhan dasarnya. Dengan begitu maka seluruh remaja mempunyai pemahaman sama terkait dengan rumah tangga. Dan bukan karena masalah umur yang akhirnya menjadikan menurunnya kualitas generasi dan meningkatnya stunting. Lebih karena sistem sekarang yang bukan berasal dari Islam sehingga membuat pemahaman remaja menjadi sepotong-potong saja.

Jadi, sekali lagi janganlah menyalahkan pernikahan dini sebagai biang kerok dari masalah cabang yang ada. Semoga kita mampu keluar dari berbagai persoalan yang ada dan mampu menerapkan sebuah sistem yang berasal dari Allah SWT.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *