Jangan Silau, Kapitalisme tak Memukau!

Jangan Silau, Kapitalisme tak Memukau!

Adalah kebutuhan umat untuk makin mengenal identitasnya sebagai Muslim. Makin mengenal sistem Islam dalam bingkai Khilafah yang mampu memberikan solusi karena berasal dari Dzat Mahatahu dan menghasilkan kepatuhan permanen masyarakat terhadap aturan atas dasar dorongan iman. Bukan karena ketakutan terhadap sanksi & paksaan.


Oleh: Aras Tinambunan

POJOKOPINI.COM — Dunia masih dilanda satu kekhawatiran besar yang menakutkan, yaitu penyebaran wabah covid-19 yang masih mengancam entitas kehidupan. Sejak akhir tahun lalu bahkan hingga saat ini. Meski sudah banyak upaya dilaksanakan. Namun tetap saja bisa dikatakan, semua upaya tersebut belum mampu berhasil mengatasinya. Termasuk Indonesia, menyimpan kekhawatiran besar akan peningkatan kasus yang terus saja terjadi.

Bukan tanpa tindakan, Indonesia telah melakukan cukup banyak penanganan untuk mencegah peningkatan kasus penyebaran. Mulai dari penerapan PSBB, meski ada angin berhembus tentang Herd Imunity. Namun kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia masih saja belum mampu diatasi, bahkan klaster-klaster baru senantiasa bermunculan menambah PR besar bagi negeri tercinta ini.

Beberapa pemangku kebijakan menilai, masalah besar ini disebabkan juga karena betapa sulit diaturnya perilaku masyarakat dalam menghadapi wabah ini. Masyarakat cenderung abai dan menyepelekan, sehingga kebijakan yang diterapkan tak berjalan sesuai dengan yang dicita-citakan. Sifat masyarakat seperti ini memang merupakan sebuah keniscayaan dalam praktik demokrasi, dimana relasi antara negara dan masyarakat, tidak bersifat satu arah.

Hal inilah yang disorot Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang menyebut negara-negara yang menganut pemerintahan otokrasi atau oligarki lebih efektif menangani pandemi virus corona (Covid-19). “Negara-negara yang menggunakan sistem politik otokrasi tangan satu orang atau oligarki yang dikuasai sekelompok orang, seperti China dan Vietnam, menangani dengan lebih efektif karena mereka menggunakan cara-cara yang keras,” kata Tito disiarkan langsung akun Youtube Kemendagri RI (CNN Indonesia, 03/09/2020).

Hal yang hampir sama juga disesalkan oleh Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito. Saat merespons kabar Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit rujukan untuk pasien Covid-19 yang penuh. “Rumah sakit enggak akan pernah cukup kalau disoroti terus, yang disoroti adalah perilaku masyarakat. Intinya, masyarakat harus betul-betul menjaga jangan sampai terjadi penularan. Caranya, disiplin, menjalankan protokol kesehatan,” kata Wiku melalui sambungan telepon (CNN Indonesia, 06/09/2020).

Memang nyata kapitalisme demokrasi yang selama ini dibanggakan terbukti gagal hadapi pandemi. Bahkan yang paling berkuasa sekelas Amerika sendiripun takluk menghadapi pandemi ini. Sekalipun terdapat beberapa Negara lain yang diklaim mampu mengatasi pandemi lebih baik karena mampu menekan jumlah peningkatan kasus lebih minim daripada negara yang lain. Seperti Vietnam, Hongkong dan Taiwan. Namun bukan lantas ini bisa dianggap layak menjadi rujukan. Terlebih bagi negeri ini yang memiliki populasi umat Muslim mencapai 229,62 juta jiwa.

Penting diingat, ukuran keberhasilan dalam penanganan pandemi adalah terselamatkannya kesehatan dan jiwa semua manusia yang berada di dalam wilayah maupun di luar wilayah. Sebab satu nyawa saja sangatlah berharga dan penting untuk dijaga. “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…” ( QS. al- Maidah: 32).

Mengedukasi masyarakat adalah tugas negara. Ungkapan dan keluhan yang demikian hanya menunjukkan ketidakbecusan para pejabat negara mengurusi masyarakat di tengah pandemi. Lalu diputarbalikkan dengan berbagai pernyataan mereka yang terus mencari-cari kesalahan rakyatnya.

Kaum muslimin terlebih penguasa memang sudah sangat paham dan menyadari kegagalan dan kecacatan sistem ini. Tapi menganggap sistem yang diadopsi oleh negara kapitalisme adalah solusi satu-satunya merupakan logika yang menyesatkan. Sebab merekapun masih punya resiko yang sama dengan adanya jumlah kasus di sana. Dan terlebih lagi sistem yang diadopsi tersebut tidak sesuai dengan fitrahnya Umat Islam

Bisa dikatakan, ungkapan demikian karena silau akan setitik maslahat namun lupa (atau bahkan sengaja lupa) akan selautan keberkahan dalam agama Islam yang sempurna dan paripurna.
… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

Islam bukan sekadar agama spiritual saja, melainkan juga sebagai ideologi atau mabda‘. Mencakup pemikiran-pemikiran tentang aqidah dan hukum-hukum diberbagai aspek kehidupan (fikrah) sekaligus bagaimana menegakkan pemikiran-pemikiran tersebut dalam realitas kehidupan (thariqah).

Dalam persoalan kesehatan, sejarah Islam telah mencontohkan bagaimana sempurnanya Islam dengan Daulah Khilafah mampu mengatasi pandemi secara sempurna dan mampu memutus rantai penyebaran. Negara yang menjalankan sistem Islam akan mampu melakukan lockdown total, dan sangat mampu menjamin kebutuhan pokok rakyatnya baik yang terdampak pandemi maupun tidak sama sekali. Bahkan tidak ada pandemi sekalipun, negara Islam memang sudah menjamin seluruh kebutuhan pokok masyarakatnya. Baik sandang, pangan, papan. Tanpa memandang latar belakang agama, ras, suku, maupun sekat wilayah yang ada.

Hal ini terjadi dengan sangat meyakinkan karena negara memiliki sumber pendapatan yang jelas dan banyak sesuai dengan syariat Islam. Dari bagian Fai‘ & Kharaj, bagian Pemilikan Umum dan bagian shadaqah. Masing-masing bagian dan turunannya dikelola dengan sangat baik melalui Baitul mal.

Dengan demikian, negara akan dengan mudah mewujudkan layanan kebutuhan dasar baik yang bersifat individual dan publik bagi rakyatnya, secara swadaya tanpa bergantung sedikitpun pada negara lain. Bahkan negara lainlah yang bergantung kepada negara khilafah.

Lockdown total sumber wabah akan menghentikan laju penyebaran. Dan masyarakat daerah lainnya tetap dapat beraktivitas sebagaimana biasanya.
Lockdown akan mudah diterapkan sebagai bagian dari pelaksanaan syariat, tanpa khawatir penolakan, tanpa halangan egoisme kelokalan dan tanpa khawatir kekurangan banyak hal.

Rakyat pun akan taat karena paham kepentingan dan merasa tentram karena semua kebutuhannya ada dalam jaminan negara. Sementara tenaga terkait akan bekerja dengan tenang karena didukung segala fasilitas yang dibutuhkan dan insentif yang sepadan dengan pengorbanan yang diberikan.

Begitu detailnya Islam mengatur sendi kehidupan manusia dan ini hanya akan terealisasi jika ditopang oleh negara. Selaku muslim harusnya inilah yang menjadi fokus perhatian kita, menerapkan Islam secara sempurna. Bukan malah silau dan heboh menilai setitik maslahat serta berwacana ikut membebek kesana.

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Adalah kebutuhan umat untuk makin mengenal identitasnya sebagai Muslim. Makin mengenal sistem Islam dalam bingkai Khilafah yang mampu memberikan solusi karena berasal dari Dzat Mahatahu dan menghasilkan kepatuhan permanen masyarakat terhadap aturan atas dasar dorongan iman. Bukan karena ketakutan terhadap sanksi & paksaan.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *