Jas Hujan Pengganti ADP, Kemana Penguasa?

Jas Hujan Pengganti ADP, Kemana Penguasa?

Oleh : Rajni Fadillah , S. Pd (lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Tim medis adalah pejuang di garda terdepat dalam menangani covid-19. Keselamatan, kebersamaan dengan keluarga bahkan nyawa mereka dipertaruhkan dalam menangani wabah ini. Seluruh alat dan atribut yang mereka butuhkan harus disediakan oleh penguasa. Semakin bertambahnya pasien covid-19 ini membuat tim medis kewalahan. Rumah sakit semakin padat, alat kesehatan semakin menipis bahkan hampir tidak ada. Sehingga Ramai dimedia sosial para dokter dan tim medis lain nya membuat tulisan “Kami berjuang di Rumah sakit demi kalian, maka tetaplah dirumah demi kami”, ini menunjukkan bahwa tim medis sudah sangat terdesak karena jumlah pasien yang semakin meningkat sedangkan alat tidak mencukupi.

Di perparah lagi sebagaimana dilansir oleh kumparan.com pada Senin (23/3/20). Ada petugas medis yang melakukan penjemputan terhadap pasien positif COVID-19 dan keluarganya di Ternate, Maluku Utara, menggunakan jas hujan sebagai Alat Pelindung Diri (APD). Dari video yang tersebar, tampak seorang petugas mengenakan jas hujan berwarna biru, yang harganya sekitar Rp 10 ribu rupiah. Pada bagian belakang jas tersebut juga terlihat sobek.
Asghar Saleh, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rorano yang intens menyikapi persoalan kesehatan dan kebencanaan, menuntut agar pemerintah segera menyediakan ADP sesuai prosedur.

“Kalau masih punya nurani, tolong keluarkan dana darurat, Beli ADP. Petugas kesehatan juga manusia, punya keluarga. Mereka juga berhak hidup. Jangan terbitkan SK Gugus Tugas, tetapkan Malut darurat corona tapi petugasnya tidak dibekali apa-apa,” tulis Asghar di laman Facebooknya, Senin (23/3).

Menyikapi hal ini ada beberapa poin yang harus dikritisi dari berbadai bidang.

Pertama, Penguasa telah menetapkan Malut darurat corona, namun tanpa membekali para tim medis dengan ADP dan alat yang dibutuhkan untuk menyelesaikan wabah yang melanda negeri. Sikap abai dan tidak serius nya pemerintah terhadap penyelesaian wabah menunjukkan bahwa penguasa masih belum bisa menentukan prioritas yang harus segera ditangani. Penguasa sibuk dengan aktifitas yang tidak penting sedang nyawa rakyat dipertaruhkan. Inilah watak asli penguasa kapitalis yang selalu menjunjung tinggi keuntungan hingga nyawa tidak ada harganya.

Kedua, banyaknya tempat wisata, dan tempat keramaian lain yang masih beroperasi di tengah pandemi corona Lagi-lagi karena lemahnya edukasi dan ketegasan hukum dari penguasa pusat terhadap masyarakat secara menyeluruh. Hingga tim medis sendiri yang harus turun tangan untuk menghimbau masyarakat dengan berbagai foto, video dan tulisan agar masyarakat sadar akan bahayanya penyebaran dan penularan corona.

Ketiga, lambatnya memenuhi ADP dan alat lengkap medis menunjukkan bahwa penguasa lepas tangan dari tanggung jawabnya dalam mengurusi rakyat. Sehingga para dokter dan tim medis harus mengenakan jas hujan bahkan kantong sampah untuk mengganti ADP demi menyelamatkan pasien Walaupun nyawa taruhannya. Padahal negaralah yang paling berperan penting dan mampu untuk menyediakan keperluan untuk penanganan corona.

Sungguh sebuah fenomena yang menyesakkan Dada. Disaat dunia melakukan lockdown total untuk memutuskan mata rantai wabah maka negeri ini malah melakukan sebaliknya, sehingga pasien semakin bertambah pesat. Sikap pemerintah menunjukkan ketidak pahamannya terhadap aktivitas politik padahal ia tokoh politik. Ini artinya tidak semua tokoh politik paham apa itu aktifitas politik. Sehingga ketika memimpin maka kebijakan yang diambil akan senantiasa menyengsarakan masyarakat. Maka bukan hanya aturan yang benar yang kita butuhkan, namun sosok yang paham bagaimana cara mengelola negeri juga kita butuhkan agar tidak terjadi kedhaliman.

Semua ini disebabkan karena penerapan sistem Demokrasi kapitalis yang menjadikan uang dan keuntungan sebagai prioritas utama negara. Bahkan keselamatan dan nyawa masyarakat pun tidak menjadi hal penting untuk diurusi. Sistem yang lahir dari keterbatasan akal manusia ini membuat manusia itu sendiri kehilangan sifat kemanusiaannya. Maka jika kita ingin masalah ini selesai, kembalikanlah semua kepada aturan yang telah Allah turunkan untuk mengurusi segala hajat hidup manusia. Jika pengelolaan negeri dikembalikan kepada aturan Allah dan kepada sosok yang paham ilmu nya maka insya Allah negeri ini akan Allah anugerahkan keselamatan, keberkahan dunia akhirat.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *