Jatuh Cinta Lagi

Terima kasih manusia-manusia baik. Dari ketaatan dan keteguhan iman kalianlah aku belajar makna hidup. Dari lisan mulia kalianlah aku belajar memahami konsep keselamatan. Pun dari untaian kata yang kalian tuliskan aku jadi belajar arti perjuangan. Bahkan dari gerak-gerik suluk kalian aku pun aku jadi belajar manisnya adab.


Oleh: Althafunnisa

POJOKOPINI.COM — Aku kira jatuh cinta itu hanya seperti saat-saat merah jambu kala muda. Ketika pertama kalinya kita merasakan getaran aneh karena mendengar sebuah nama atau tak sengaja berada pada satu latar suasana dengannya. Aku pun mengira jatuh cinta itu hanya pada lawan jenis yang rasanya tak bisa terlukis antara senang, malu, takut, marah dan entah rasa apalagi. Dan aku pun mengira jatuh cinta itu sekali pada seorang teristimewa, tapi aku jutru merasakan jatuh cinta berkali-kali pada banyak insan mulia.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Sang Maha Mengasihi. Atas ijin-Nya aku belajar mengenali rasa cinta yang semestinya. Betapa bahagia bisa mengenal manusia-manusia istimewa dengan ilmu dan cinta yang luarbiasa. Dari sanalah aku mulai jatuh cinta pada mereka. Dari nasehat yang mereka lisankan, aku semakin cinta. Dari bait-bait seruan yang ia tuliskan, aku kembali jatuh cinta. Bahkan hanya mendengar kecenderungannya pada hal sederhana tapi itu menghantarkannya pada ketaatan, itu membuatku semakin cinta. Lagi dan lagi aku jatuh cinta.

Bukan semata-mata karena mereka aku jatuh cinta. Tapi karena Allahlah tumbuh benih-benih cinta itu. Iya, aku mencintai mereka tak lebih karena kecintaan mereka pada Allah dan Rasulnya yang begitu tinggi. Mereka yang saking cintanya pada Rabb-nya mampu hidup dengan ketenangan dan kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan karena mereka rida.

Pun mereka memahami makna tawakal. Mengambil bagiannya dengan sempurna, sehingga mereka tak pernah rida dengan kejahiliyahan hidup. Ada banyak upaya yang mereka kerahkan agar hidup benderang sebab cahaya ilmu dan kebenaran. Begitu pun mereka tak pernah diam melihat saudaranya ditimpa kesulitan, mereka berjuang dengan menyuarakan kebenaran karena nalarnya jernih bisa melihat segala macam problematika dengan sudut pandang yang cemerlang.

Aku memang tak terlahir dari rahim manusia taat, tapi aku bersyukur lahir dari rahim yang penuh kasih sayang. Sehingga dari sanalah aku mengenal makna cinta hingga akhirnya kutemukan rasa cinta yang semestinya. Aku jatuh cinta dan aku belajar banyak hal tentangnya. Ternyata, sebaik-baik cinta adalah ketika kita menempatkan Allah dan Rasul-Nya sebagai muara cinta tertinggi. Ketika seluruh aktivitas dalam hidup semata-mata hanya demi menggapai cinta tertinggi, rida-Nya. Sebab itulah kehidupan penuh cinta tanpa ada akhir bisa jadi tempat kembali.

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, “Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, “Kapankah hari kiamat itu?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?” Orang itu menjawab, “Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari)

Terima kasih manusia-manusia baik. Dari ketaatan dan keteguhan iman kalianlah aku belajar makna hidup. Dari lisan mulia kalianlah aku belajar memahami konsep keselamatan. Pun dari untaian kata yang kalian tuliskan aku jadi belajar arti perjuangan. Bahkan dari gerak-gerik suluk kalian aku pun aku jadi belajar manisnya adab. Meski aku tahu kalian tak sesempurna yang terlihat, tapi aku tetap cinta. Sebab aku tahu, kita semua adalah manusia yang tak sempurna tapi kita akan selalu berusaha menyempurnakan diri berjalan selaras dengan titah-Nya.

Aku juga berharap Allah jaga kecintaan ini tanpa melebihi batas. Sehingga ketika kelak muncul rasa kecewa, nalar tetap menjadi nahkoda. Hanya Allah pemilik kesempurnaan yang hanya Dialah satu-satunya Zat yang patut kita cintai melebihi segalanya. Sebab kecintaan yang lahir dari kekuatan ruh iman inilah yang akan mampu membimbing rasa dan akal untuk selalu berbaik sangka. Mungkin memang diri tak sempurna, amal salih masih terlalu jauh dari yang diharapkan. Setidaknya dengan kecintaan pada manusia-manusia mulia inilah kelak aku akan dikumpulkan bersama mereka, di sebuah lembah yang penuh nikmat tanpa akhir. Semoga Allah kabulkan.[]

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.