Jejak Hitam PBB untuk Palestina

Pada tahun 1947, PBB menetapkan pembagian wilayah Palestina. Resolusi 181 merupakan resolusi PBB tertua bagi konflik Israel-Palestina dengan rekomendasi wilayah Palestina, yang saat itu dikuasai Inggris, dibagi menjadi dua negara bagian, satu untuk negara Arab Palestina dan satu bagian lainnya untuk Yahudi. Israel mendapat 55 % wilayah Palestina, sisanya untuk Palestina. Resolusi ini adalah cikal bakal terbentuknya negara Israel di tanah Palestina.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Selama ini Barat senantiasa melekatkan terorisme kepada Islam. Namun krisis di Palestina telah menyingkap wajah mereka. Mengutip dari cnnindonesia.com pada 13/5/2021, Dewan Keamanan PBB kembali mengadakan pertemuan darurat pada 12/5/2021 waktu setempat untuk membahas serangan antara Israel dan Palestina. Pertemuan tersebut kembali tak menghasilkan pernyataan bersama karena tantangan Amerika Serikat.

Sejumlah 14 dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB setuju mengeluarkan deklarasi bersama supaya bisa mengurangi ketegangan. Namun AS melihat pertemuan yang dilakukan Dewan Keamanan PBB sebagai tanda keprihatinan. Beberapa anggota Dewan dari Eropa yakni Norwegia, Estonia, Prancis, dan Irlandia, mengeluarkan pernyataan resmi bersama mengutuk penembakan roket dari Gaza terhadap penduduk sipil di Israel oleh Hamas dan kelompok militan lainnya yang menurut mereka sama sekali tidak dapat diterima dan harus segera dihentikan.

Di sisi lain Palestina telah meminta pertemuan publik melalui Duta besarnya di PBB, Riyad Mansour menuliskan sepucuk surat bagi petinggi organisasi tersebut. Ia memohon agar dewan bisa segera bertindak dan meminta Israel menghentikan serangan terhadap penduduk sipil Palestina, termasuk Gaza.

Laman detik.com 13/5/2021 menyampaikan, Joe Biden mengatakan Israel memiliki hak untuk mempertahankan diri ketika ribuan roket terbang ke wilayahnya. Inilah diplomasi Amerika yang menggambarkan kemunafikan yang nyata. Mereka pura-pura buta bahwa eskalasi konflik bermula dari upaya Israel menggusur paksa warga Palestina yang bermukim di Sheikh Jarrah Yerussalem Timur. Warga pemukiman tersebut kemudian merespon dengan unjuk rasa, yang dibalas dengan blokade oleh polisi Israel dan ancaman pengusiran kepada siapapun yang terlibat unjuk rasa. Bahwa ketegangan semakin meningkat pasca kerusuhan yang terjadi di Masjid Al Aqsa pada 7/5/2021 malam, ketika polisi Israel membubarkan warga Palestina yang tengah melaksanakan shalat tarawih.

Kembali ke pernyataan menyesatkan Joe Biden. Apakah Palestina seharusnya diam menjadi sasaran empuk teroris Israel? Tentu tidak. Jika kemudian Hamas di Jalur Gaza menembakkan roket ke arah Tel Aviv dan sejumlah wilayah Israel lainnya, ini adalah wujud pembelaan diri. Hal Ini layak bagi teroris brutal dan sombong seperti Israel, yang tidak pernah mengerti bahasa diplomasi kecuali bahasa perang.

Banyak pihak memandang bahwa resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB adalah solusi, pernyataan kutukan kepada Israel yang heroik, nyatanya semua hanya pernyataan hina sebatas kecaman kosong di atas kertas dengan stempel perdamaian.Tidak ada efek apapun bagi Israel, tidak ada sanksi, semua hanya retorika yang diucapkan berbusa-busa namun tidak memiliki konsekuensi apapun untuk menghukum kejahatan Israel.

Kejahatan itu adalah penjajahan Israel atas Palestina yang dirancang, disokong dan dikuatkan oleh negara-negara Barat terutama Amerika. Apa yang menimpa rakyat Palestina bukan lagi aksi terorisme namun jauh lebih jahat dan merusak dari itu yaitu dehumanisasi dan genosida.

Sejarah busuk Zionisme global yang mencengkram Palestina dimulai dari perjalanan gerakan misionaris menghancurkan Daulah Islamiyah di abad ke 17 Masehi yang berujung pada nasionalisme Arab. Nasionalisme Arab selanjutnya menjadi pemicu runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah di Turki. Sultan Hamid II, Khalifah terakhir kaum Muslimin menyadari misi global itu dan ia memasang dirinya sebagai “benteng terakhir” yang menghalangi upaya gerakan Zionisme Internasional untuk membeli Palestina.

DR. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya Sultan Abdul Hamid as-Tsanii menceritakan, jawaban telak Sultan atas tawaran Yahudi dengan berkata, “Jika Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Tetapi, bila aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah”.

Lalu Theodor Herzl bersama rekannya banker Yahudi Mizray Qrassow diusir oleh Sultan dengan membawa dendam kesumat menuju Italia. Kemudian Qrasow mengirim telegram kepada Sultan, “Anda akan membayar pertemuan itu dengan nyawa dan kekuasaan Anda”.

Setelah upaya itu gagal, orang-orang pro-zionis berkonspirasi untuk menjatuhkan Sultan dari dalam. Mereka menjadi agen-agen yang menjadi pejabat tinggi negara. Ketika Sultan Abdul Hamid dilengserkan dari tampuk Khilafah pada 1909, pada dasarnya sejak itulah Palestina telah jatuh ke tangan zionis. Melalui perjanjian Sykes-Picot 1916 Palestina dijadikan wilayah internasional di bawah perlindungan Inggris, Perancis dan Rusia.

Lalu orang-orang Yahudi dari berbagai negara, utamanya dari Eropa berbondong-bondong memasuki Palestina yang dipersiapkan untuk mereka. Disusul konspirasi busuk melalui Deklarasi Balfour yang menjanjikan Palestina sebagai tanah air Yahudi. Sejak itulah migrasi bangsa penjajah ini berlangsung dalam skala besar.

Kemudian PBB, lembaga yang menjadi pahlawan kesiangan bagi perdamaian dunia modern, sejatinya adalah lembaga yang paling bertanggung jawab bagi penderitaan Palestina. Pada tahun 1947, PBB menetapkan pembagian wilayah Palestina. Resolusi 181 merupakan resolusi PBB tertua bagi konflik Israel-Palestina dengan rekomendasi wilayah Palestina, yang saat itu dikuasai Inggris, dibagi menjadi dua negara bagian, satu untuk negara Arab Palestina dan satu bagian lainnya untuk Yahudi. Israel mendapat 55 % wilayah Palestina, sisanya untuk Palestina. Resolusi ini adalah cikal bakal terbentuknya negara Israel di tanah Palestina.

Namun bangsa penjajah yang rakus ini terus memperluas penguasaan tanahnya dengan cara-cara ilegal dan kriminal. Israel memerangi negara-negara Arab tetangga, yaitu Yordania, Suriah dan Mesir. Perang yang penuh tipudaya ini membuat Israel menguasai wilayah Palestina yang disebut dengan “Batas 1967”. Israel menguasai 78 % wilayah Palestina.

Apakah semua itu cukup? Ternyata tidak. Berikutnya terjadi perjanjian Camp David yang ditandatangani Jimmy Carter, Presiden AS saat itu, PM Israel Menachem Begin, Pimpinan PLO Yasser Arafat dan Presiden Mesir, Anwar Sadat. Perjanjian itu mendamaikan antara Palestina dan Israel dengan solusi dua negara (two state). Solusi ini ditegaskan melalui perjanjian Oslo dan Yasser Arafat menerimanya sebagai dasar pendirian Otoritas Palestina. Masalah Palestina kemudian berkutat pada tapal batas, apakah sebelum tahun 1947, batas 1967 atau lainnya.

Oleh karena itu tindakan Duta Besar Palestina meminta pertolongan kepada PBB agar bertindak dan meminta Israel menghentikan serangan terhadap penduduk sipil Palestina adalah tindakan yang tidak tepat, ahistoris bahkan sejatinya adalah pengkhianatan terhadap Palestina. Hal ini karena PBB dan negara-negara Barat adalah pemelihara eksistensi negara Yahudi. Merekalah yang menjadikan Israel sebagai pisau besar yang menusuk jantung negeri-negeri kaum Muslimin. Diantara sasaran-sasaran tersebut adalah :

Pertama, mereka berhasil mencangkokkan organ asing di tengah-tengah kaum Muslim di wilayah tersebut, yang mengacaukan hubungan diantara kaum Muslim dan menjauhkan kesatuan mereka.

Kedua, mereka senantiasa menyibukkan kawasan tersebut dan menyemai konflik yang mereka beri judul “Konflik Timur Tengah”. Konflik ini senantiasa memicu perseteruan dengan Yahudi. Dengan itu mereka telah mengalihkan perhatian umat dari berkonflik dengan Barat kufur yang telah menghancurkan institusi umat Khilafah Islamiyah. Perseteruan Barat dengan kaum Muslimin beralih menjadi perseteruan yang difokuskan hanya dengan institusi Yahudi. Karena Yahudi telah merampas Palestina. Kondisi ini meminimalisir perseteruan umat Islam dengan pihak yang justru mewujudkan situasi politik tersebut.

Ketiga, dengan menempatkan Yahudi di Palestina, negara-negara Barat dapat beristirahat dengan tenang dari permasalahan yang ditimbulkan Yahudi di negara mereka sendiri. Hal ini karena pada dasarnya negara-negara tersebut paham betul bahwa Yahudi dikenal dengan sepak terjangnya yang merusak dimana pun mereka berada.

Presiden Benjamin Franklin pernah mengingatkan itu seraya berpesan kepada rakyat Amerika, melalui pernyataan yang disampaikannya dalam konferensi penyusunan konstitusi Amerika pada tahun 1789 M; “Ketahuilah, disana terdapat bahaya besar yang mengancam Amerika Serikat, dan itu adalah bahaya Yahudi. Dimanapun mereka berada selalu menimbulkan kehancuran terhadap moralitas dasar yang luhur dan merendahkan tingkat kepercayaan perdagangan… Mereka adalah para penumpah darah. Sungguh aku mengingatkan kalian wahai para pemuka Bangsa Amerika, jika kalian tidak mengusir Yahudi secara tuntas, maka anak-anak dan cucu kalian akan melaknat kalian di atas kuburan kalian”.

Oleh karena itu melalui krisis Palestina dan negeri-negeri Muslim lainnya yang masih terjajah dibawah hegemoni Barat dan Timur, kita telah disadarkan bahwa tanah-tanah kaum Muslimin telah dirampas, berkurang sedikit demi sedikit dari bagian tepinya, bahkan dari tengah-tengah tempat tinggalnya yaitu bagian jantung dan isi perutnya.

Dan bahwa hadits Rasulullah tentang wahn (cinta dunia dan takut mati) telah menimpa kita, ketika musuh-musuh itu menerkam dengan ganas atas nama perjanjian bilateral dan kerjasama internasional. Lebih jauh, realitas itu menyadarkan kita bahwa kaum Muslim berada dalam penghinaan umat-umat lain, padahal sebelumnya mereka adalah para pemegang bandul peradaban dunia.

Disisi lain terdapat faktor-faktor internal umat Islam yang berkontribusi bagi langgengnya kondisi ini. Diantaranya adalah faktor utama dan paling menentukan, yaitu pengkhianatan dan diamnya penguasa kaum Muslimin atas sepak terjang Yahudi. Mereka hanya bisa mengecam, namun mengunci tentara-tentara mereka di baraknya, padahal tentara-tentara inilah yang dibutuhkan Palestina untuk membebaskan mereka. Apa yang menimpa Palestina seharusnya menggugah kesadaran kita untuk mengembalikan institusi kaum Muslimin sebagai junnah (perisai) tempat berlindung umat yang akan membebaskan saudaranya dari penjajahan.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *