Jejak Khilafah di Nusantara: Ada Ibrah dan Hikmah

Jejak Khilafah di Nusantara: Ada Ibrah dan Hikmah

Ada mata rantai serta relasi yang sangat jelas, bahwa keberadaan Islam di Nusantara adalah peran Daulah Khilafah, sejak Khulafaur Rasyidin, Masa Bani Umayah, Bani Abbasiyah hingga Daulah Turki Utsmaniyah yang pada masanya, sebagai negara adidaya dan pusat peradaban, melaksanakan kewajibannya menyebarkan dakwah Islam ke seluruh belahan dunia.


Oleh: Ana Frasipa

POJOKOPINI.COM — Hal yang paling menyedihkan dari keadaan kaum Muslimin saat ini adalah mereka lupa akan jati dirinya. Akibatnya ada ketidakbanggaan sebagai Muslim serta sifat inferior karenanya. Lebih silau dengan peradaban barat yang tengah menjadi hegemoni. Tak usahlah kita jauh-jauh mengukur masalah ini dengan berbagai variabel ini itu, cukuplah tanya, pahamkah mereka dengan sejarah Islam? Bagaimana Islam ini datang dibawa oleh yang Mulia Baginda Rasulullah? Bisa dipastikan sebagian besar menjawab tidak tahu. Lalu bagaimana kita bisa mengambil ibrah dan pelajaran dari sejarah, jika sejarahnya saja tak kita ketahui?

Pada 1 Muharram 1442 H, dilakukan penayangan secara serentak sebuah film Dokumenter yang berjudul “Jejak Khilafah di Nusantara”. Film ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat luas. Terbukti banyaknya yang mendaftar secara daring untuk mendapatkan tiket gratis hingga lebih dari duaratus ribu pendaftar, ini membuktikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap opini khilafah dan perjuangan penegakkannya semakin nampak.

Di sisi lain, film inipun memunculkan pro dan kontra. Komentar nyinyir dan pedas dialamatkan terhadap tayangan ini. Bahkan di tengah tayangan, film tersebut mendapat gangguan yaitu di-banned dengan alasan adanya keluhan hukum dari pemerintah. Sungguh ironi, mengaku Muslim namun begitu apriori dan alergi dengan fakta sejarah yang disodorkan. Hal ini sesungguhnya sesuatu yang wajar. Faktor ketidaktahuan dan lemahnya penghayatan akan sejarah.

Di sisi lain pengaruh barat sudah sangat kuat mengakar dalam benak kaum Muslimin, menjadi racun dalam alam pikiran mereka. Kurikulum pelajaran sejarah di sekolah- sekolahpun lebih didominasi oleh perspektif Barat. Umat Islam nyaris tidak mengenal secara valid, bagaimana sesungguhnya Islam masuk ke Nusantara, hingga akhirnya Indonesia menjadi negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Secara logika kemayoritasan ini tentu bukan hal yang simsalabim, ada proses panjang dan rentetan sejarah yang mengantarainya.

Padahal film “Jejak Khilafah di Nusantara” bukanlah film fiksi, penuturannya adalah hasil riset berdasarkan fakta-fakta, catatan, sumber serta realitas sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam film tersebut menunjukkan bahwa sejarah Islam di Nusantara tak bisa lepas dari eksistensi dan peran khilafah Islam. Ada mata rantai serta relasi yang sangat jelas, bahwa keberadaan Islam di Nusantara adalah peran Daulah Khilafah, sejak Khulafaur Rasyidin, Masa Bani Umayah, Bani Abbasiyah hingga Daulah Turki Utsmaniyah yang pada masanya, sebagai negara adidaya dan pusat peradaban, melaksanakan kewajibannya menyebarkan dakwah Islam ke seluruh belahan dunia.

Lalu ketika kekuasaan Kekhilafahan melemah dibarengi dengan munculnya imperialis barat yang menjajah Nusantara, yang menjadi garda terdepan aktivitas jihad adalah para ulama dan kaum muslimin, hal ini menunjukkan bahwa Islam menjadi kunci perjuangan melawan penjajah. Jejak Khilafah Islam di Nusantara, mustahil dikaburkan apalagi dikuburkan, bukti-bukti sejarah adalah fakta yang tak mungkin diingkari.

Sebagai Muslim, pantaskah kita buta akan sejarah sendiri, sejarah yang merupakan akar dari entitas keberadaan kita, tentu tidak bukan? Alhasil urgensitas menggali kembali kebenaran jejak sejarah khilafah di nusantara adalah sesuatu yang layak digaungkan, agar tidak ada alasan penolakan bahwa perjuangan khilafah adalah perjuangan yang ahistoris.

Kondisi bangsa yang semakin tidak karuan, problematika umat yang semakin kompleks tanpa solusi yang menuntaskan, menunjukan sistem kapitalisme dan sekularisme telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Islam sebagai ajaran yang paripurna menawarkan khilafah sebagai salah satu solusi. Di sini bisa dipahami bahwa penegakkan khilafah sejalan dengan kebutuhan perubahan bangsa saat ini.

Berdasarkan hal tersebut, kita bisa menarik kesimpulan bahwa terdapat distorsi sejarah dalam benak kaum Muslimin, nyaris di semua negeri-negeri mayoritas Muslim lainnya. Ada bias dalam memahami sebuah fakta sejarah. Sebuah adagium mengatakan “History has been written by the victors” (Sejarah ditulis oleh para pemenang). Barangkali dalam konteks saat ini adagium ini benar adanya. Sejarah resmi yang kita kenal, kita baca dan diajarkan di sekolah-sekolah pada saat ini, sangatlah subyektif, jelas didominasi oleh pandangan sekuler Barat, dengan ruh islamfobia yang sangat kental.

Sudah selayaknya mulai saat ini kita “aware” dengan sejarah, dan menyadari betapa pentingnya bagaimana belajar sejarah yang benar. Maka kaum Muslimin saat ini tidak boleh melupakan sejarah, sejarah bisa menjadi petunjuk, menjadi jalan terang menuju kegemilangan Islam berikutnya. Sebuah peradaban yang memuliakan manusia. Kita jangan hanya terkagum-kagum, hanya mengenang kegemilangan peradaban Islam, terjebak dalam romantisme sejarah. Namun ambilah ibrah untuk memulai lagi sejarah baru yang lebih agung dari sebelumnya.

Teringat sebuah ungkapan dari seorang Ahli Sejarah Islam. Ustadz Budi Ashari, beliau mengatakan “Segeralah ubah kenangan itu menjadi panduan, ambil mutiara (pelajaran) bukan lukanya“. Islam dan sejarahnya adalah cahaya, maka seorang Muslim tentu tak layak berlari dalam kegelapan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *