Jilbab Tak Wajib, Kampanye Apalagi?

Jilbab Tak Wajib, Kampanye Apalagi?

Oleh :Kartiara Rizkina Murni

WWW.POJOKOPINI.COM — Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab menjadi kontroversi.

Ia mengakui bahwa setiap muslimah tidak wajib untuk mengenakan jilbab karena memang begitu adanya yang tertulis di Al Quran jika memaknainya dengan tepat. “Enggak juga (semua muslimah harus memakai jilbab), kalau kita mengartikan ayat dalam Al Quran itu secara benar,” kata Sinta (Tempo.co 16/01/2020)

Ia juga mengatakan hijab adalah budaya
“Itukan budaya, orang menerjemahkan ayat-ayat itu harus memenuhi persyaratan, menguasai alatnya, nahwu sarafnya. Dari segi budaya bagaimana! Semuanya harus ada” Ucapnya dalam wawancara di chanel YouTube Dedy Corbuzer.

Jelas saja ini merupakan pelanggaran syariat islam. Karena jilbab dan khimar merupakan kewajiban seorang muslimah. Kewajiban ini sudah jelas hukumnya (qathi’). Bahkan imam 4 madzhab saja mewajibkan jilbab dan khimar bagi muslimah, mereka juga sudah memenuhi semua persyaratan sebagaimana seorang mujtahid. Bahkan para ulama juga demikian, tidak ada perbedaan tentang kewajiban tersebut. Walau mereka berbeda pendapat mengenai batasan aurat wanita yang harus di tutupi hijab.

Pernyataannya ibu Sintapun di sambut oleh Putrinya Inayah Wulandari Wahid, ia mengaku heran terhadap justifikasi bagi wanita muslimah yang tidak memakai hijab lantaran belum mendapatkan hidayah.

Ia menghubungkannya dengan istri-istri ulama terdahulu (Nyai) atau istri pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan, pejuang perempuan RA Kartini pun tidak berhijab. Maka dari itu putri dari mantan presiden ke 4 ini menyatakan apakah mereka juga disebut belum mendapatkan hidayah? (Viva.co.id 16/01/2020)

Sangat tidak mendasar, sejak kapan tokoh-tokoh pahlawan Indonesia menjadi sandaran hukum Islam. Menjadikan RA.Kartini sebagai patokan pakaian Muslimah? Sungguh sangat dangkal pemikiran Inayah ini.

Dalil-dalil wajibnya jilbab jelas dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Ahzab [33] :59)

Lafal ‘Jalaabiib’ adalah bentuk jamak dari lafal ‘Jilbaab’ yaitu kain yang dipakai oleh seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya.
(Imam Al Qurthubi)

Walau ada juga sebagian ulama berpendap tentang penafsiran ayat tersebut yakni hendaknya muslimuslimah mengulurkan sebagian daripada kain jilbabnya itu untuk menutupi muka mereka, jika mereka hendak keluar karena suatu keperluan, kecuali hanya bagian yang cukup untuk satu mata.

Akan tetapi perintah mengenai jilbab itu jelas Allah SWT sebutkan dalam Al-Quran.
Kemudian dalil tentang khimar atau kerudung. Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ..
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka… ” (QS. An Nuur [24]: 31).

Islam mengajarkan untuk memiliki pemikiran yang benar haruslah bersumber dari rujukan yang Shahih. Bukan bersumber dari nenek moyang terdahulu, apalagi istri-istri Kiai dan tokoh pahlawan Indonesia.

Yang harus di pahami bahwa munculnya kampanye ini merupakan bentuk feedback dari banyaknya orang-orang yang hijrah. Ketika hijab syar’i menjadi fashion, gamis dan kerudung panjang tidak lagi di padang sebagai sesuatu yang aneh di masyarakat. Perkembangan inilah yang di anggap oleh musuh-musuh islam sebagai ancaman. Yang mana umat islam sudah mulai melaksanakan syariat agamanya.

Maka orang-orang yang anti islam, musuh-musuh islam akan terus mempropagandakan virus Islamophobia ini di tengah masyarakat. Virus yang sering mereka sebarkan adalah membenturkan Islam dengan budaya, Islam dengan Indonesia, Islam dan Pancasila. Dan virus tersebut mereka sebarkan melalui tangan-tangan orang Islam sendiri.

Masih ingat pernyataan kontroversial tentang cadar dengan konde, suara azan dengan Kidung yang di sampaikan oleh putri Ir. Soekarno, ibu Sukmawati. Serta pelarangan memakai cadar dan celana cingkrang oleh menteri Agama Fakhrurrazi.

Apalagi dalam sistem saat ini (Demokrasi) yang tidak mendorong pelaksanaan syariat Islam. Justru mendorong dan menyuburkan sekulerisme dan liberalisme.

Maka perlu adanya peran negara sebagai pelaksana sistem syariat, sehingga tidak hanya ketaatan Individu tapi juga ada penjagaan dari negara, maka jilbab bukan lagi perkara mau atau tidak mau akan tetapi kewajiban yang diatur oleh negara. Negara juga akan mengawasi dan menindaklanjuti bentuk-bentuk kampanye yang bertentangan dengan Islam. Dan itu tidak bisa kita temui dalam sistem sekarang, hanya dengan Daulah Khilafahlah solusi tuntas dari setiap problematika yang ada, Wollohu’alam Biasshowab.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *