Jilbabmu Identitasmu

Jilbabmu Identitasmu

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S. Kom

WWW.POJOKOPINI.COM — Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab. Ia mengakui bahwa setiap muslimah tidak wajib untuk mengenakan jilbab karena memang begitu adanya yang tertulis di Al Quran jika memaknainya dengan tepat. “Enggak juga (semua muslimah harus memakai jilbab), kalau kita mengartikan ayat dalam Al Quran itu secara benar,” kata Sinta. (Tempo.com)

Jilbab adalah pakaian wajib bagi setiap muslimah, namanya muslimah pasti ia adalah seorang muslim. Namun saat ini maraknya penggunaan jilbab syar’I membuat beberapa orang gerah, konon lagi penjual jilbab syari ini sudah merata diseluruh Indonesia. Bahkan mudah sekali mendapatkan jilbab syari saat ini. Beberapa tahun yang lalu para pejuang jilbab syari ini begitu kesulitan mensosialisasikan ini ditengah umat. Tapi lihatlah saat ini lautan jilbab syari diseluruh negeri ini membuktikan bahwa inilah identitas kaum muslimah sebenarnya.

Namun pernyataan ibu ini sungguh membingungkan umat, di karenakan pernyataan tanpa ilmu tadi bisa menyesatkan pemikiran umat bahwa sesungguhnya yang di wajibkan Allah tertulis jelas didalam Al-Qur’an sebagai Nash syara dan tidak ada bantahan terhadapnya. Karena berasal dari yang Maha benar. Kewajiban memakai jilbab sudah ada sejak 1400 tahun lalu, yaitu ketika Rasul menyampaikan risalahnya kepada kaum muslimin terutama para wanitanya. Bahwa itu sebuah perintah yang dimana kita harus tunduk dan patuh kepadanya.
Ada beberapa hal yang musti kita pahami bahwa Islam memerintahkan kaum muslimahnya untuk menutup auratnya, menutup aurat disini seperti dalam sholat. Aurat secara makna syariat, adalah bagian tubuh yang haram dilihat, dan karena itu harus ditutupi. Khusunya bagi para muslimah, auratnya adalah semua bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.

Aisyah ra meriwayatkan, suatu hari Asma’ binti abu Bakar darang menemui Rasulullah saw dengan pakaian tipis. Takkala melihatnya Rasulullah saw segera memalingkan wajahnya dari Asma, lalu bersabda :
“Wahai Asma! Sesungguhnya wanita apabila sudah balig, tidak boleh dilihat darinya kecuali ini dan ini”. Beliau menunjukkan Wajah dan telapak tangannya. (HR. Abu Dawud)

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama Islam tentang Batasan Aurat. Bahwa seluruh tubuh wanita dari rambut sampai kakinya, kecuali wajah dan telapak tangan adalah auratnya yang wajib ditutupi. Karena hal ini wajib, maka jika tidak ditutupi atau dinampakkan kepada lelaki yang bukan mahramnya maka hukumnya adalah dosa besar. Dan kemudian setelah menutup auratnya maka wajib bagi wanita menutup kepalanya dengan kain kerudung (khimar) hingga batas dadanya.

Selain menutup aurat, muslimah wajib memakai khimar (kerudung ) yang menutup dadanya dan jilbab yang yang diulurkan hingga menutupi seluruh tubuhnya. Inilah identitas seorang muslimah yang membedakannya dengan wanita kafir pada umumnya. Dan Allah juga mengatakan bahwa dengan ia menutup aurat secara sempurna dengan jilbab syar’I itu, maka sesungguhnya ia atidak akan di ganggu. Itu jaminan langsung dari Allah, maka dengan begitulah kemuliaan seorang wanita muslimah terjaga, terlindungi oleh Rabb-Nya. Berikut firman Allah yang menjelaskan tentang kewajiban berkerudung.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,…” (TQS. An-Nuur : 31)

Begitu juga perintah untuk menggunakan jilbab juga terdapat dalam firman Allah berikut ini :
Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. Al-Ahzab : 59)

Pendapat ahli bahasa dalam kamus tentang pengertian jilbab yaitu salah satunya kamus al-Muhith, Fairuzabadil mengatakan :
“Jilbab agalah gamis (qamish) pakaian yang luas, tapi selain selubung/selimut (milhafah) atau sesuatu yang dipakai olehnya untuk menyelimuti pakaiannya mulai dari atas seperti selubung/selimut (milhafah). Atau dia adalah khimar (penutup kepala)”

Adapun pendapat ulama-ulama tentang jilbab, Ibn Katsir dalam tafsirnya mengenai surat Al-Ahzab : 59 menuliskan :
“Jilbab adalah al-rida’ (selendang) yang dipakai di atas khimar. Begitu pendapa Ibn Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Hasan Al-Basri, Sa’id ibn Jubair, Ibrahim Al-Nakha’I,’Atha Al-Khurasani dan lainya. Jilbab itu seperti al-izar saat ini. Menurut al-Jauhari, jilbab adalah milhafah (mantel yang menyelubungi)”

Bila kita kelompokkan pendapat-pendapat ulama ini secara garis besar, kita dapatkan dua pengertian yaitu :
Pertama, jilbab adalah pakaian rangkap yang menutupi khimar dan baju rumah.
Kedua, jilbab adalah pakaian rangkap yang menutupi pakaian rumah, yang terulur menutupi tubuh baigan bawah selain kepala (baju kurung atau daster).

Dari semua pembahasan ulama tentang pengertian jilbab digabungkan dengan pembahasan makna jilbab oleh ahli bahasa dalam kamus-kamus, pendapat yang umum dipakai oleh masyarakat sekarang adalah jilbab adalah baju kurung atau gamis.

Ini membuktikan bahwa pemahaman yang ada ditengah umat itu salah, yakni makna jilbab itu sendiri sudah dijelaskan oleh para ulama yang bermakna baju kurung (gamis), bukan jilbab dalam makna kerudung. Inilah yang kemudian ibu Sinta tidak paham dan mengambil dalil mencontoh orang jaman dahulu. Yang seharusnya menjadi patokan kita berilmu adalah para ulama salaf, bukan lainnya. Bisa jadi pada saat itu mereka tidak mengetahui bagaimana syarat berjilbab yang benar. Dan tentu teladan kita adalah ummul mukminin yang langsung mendengar dari lisan mulia Sang Rasul dan kemudian di ikuti oleh para Sahabiyah lainnya.

Dan Rasulullah juga memintahkan kepada para wanita itu untuk menggunakan jilbabnya ketika hendak keluar rumahnya. Sebagai penguat, saya kutip sebuah hadist yang disepakati Iamam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ummu Athiyah berikut :
“Rasulullah Saw. Memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, baik gadis-gadis, wanita yang sedang haid.Maupun wanita yang sudah menikah. Mereka yang sedang haid tidak mengikuti shalat, dan hanya mendengarkan kebaikan dan nasihat-nasihat kepada kaum muslimin. “Maka aku (Ummu Athiyah) berkata, “Ya Rasuulullah, ada seseorang dari kami yang tidak memililki jilbab. Maka Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah, saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya.” (HR. Al-Bukhari Muslim).

Hadist ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa jilbab adalah pakaian rangkap yang dipakai seorang muslimah saat keluar rumah. Penegasan Rasulullah saw. Ini merupakan sebuah perintah bagi muslimah, saat keluar rumah wajib memakai jilbabnya. Tidak dibolehkan bagi wanita keluar rumah, kecuali ia kenakan pakaian menutup aurat dan juga syar’i. Yaitu pakaian yang dibenarkan oleh Allah melalui perintah dan larangan Rasul-Nya di dunia.

Rasullullah ketika menjadi seorang pemimpin mengatur setiap detil masalah kehidupan umat, apa yang boleh dan tidak boleh. Bagaimana cara melindungi semua umatnya termasuk wanita yang dimuliakan dalam Islam. Maka kemuliaan wanita diatur bagaimana mereka harus memakai jilbabnya jika keluar rumah atau jika ada lelaki asing. Inilah salah satu cara bagaimana kemudian mereka terlindungi dari mata nakal laki-laki asing. Dan allah yang menjaminnya, sekaligus identitasnya yang membedakannya dengan para wanita kafir lainnya. Dengan memakai jilbab pun aktivitas mereka tidak terganggu sama sekali, bahkan sangat leluasa mengerjakan semua tugasnya. Dan ini mematahkan semua argument dari orang bahwa jilbab itu menghalangi aktivitas muslimah.

Hari ini kita melihat rezim yang semakin hari semakin tidak jelas, membiarkan orang-orang tanpa ilmu berbicara tentang agama, dan menjadikannya publik figur seolah dia patut dicontoh. Sedangkan contoh yang benar itu sudah ada. Ini semakin membuktikan bawah rezim membiarkan umat tersesat dengan pemahaman yang salah. Sungguh Islam semakin hari semakin dibenci oleh para pengusung liberal, yang mulai merasa gerah ketika para artis juga ikut hijrah dan mulai mengenal istilah jilbab syari, Wallahu ‘Alam[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *