Jiwa-Jiwa Tersandera

Jiwa-Jiwa Tersandera

Meski mereka lahir dari kehidupan Islam namun kemudian pribadi-pribadi yang telah teracuni pemikiran kufur itu persis meniru gaya hidup dan pandangan penjajah. Mereka melakukannya dengan penuh kebanggaan karena telah lenyap kesadaran ideologisnya. Barat telah mencerabut ruh Islam dari generasi ini.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Misionaris Samuel Marinus Zwemer (1867-1952) mengatakan kepada teman-temannya dalam konferensi yang diselenggarakan di Al-Quds Islamiyah; “Wahai saudara-saudara sekalian sungguh dalam periode ini , yang dimulai sepertiga dari abad-19 sampai sekarang, kami telah menguasai program pendidikan di wilayah kekuasaan Islam… Terima kasih kepada saudara-saudara sekalian, kalian telah menyiapkan generasi yang tidak lagi menyadari adanya hubungannya kepada Allah, tidak ingin mengetahuinya, serta mengeluarkan orang Islam dari keislamannya”.

Upaya kafir Barat memisahkan Islam dari kehidupan Muslim, lalu mengenalkan sekulerisme telah dimulai pada abad keenam belas masehi. Inilah tonggak dimana Eropa menyadari bahwa mereka tidak akan pernah bisa mengalahkan Islam dan kaum Muslimin selama ruh Islam masih tertanam di dalam diri setiap Muslim. Ruh inilah yang hari ini disebut sebagai ideologi.

Mereka tidak akan mampu mengalahkan Muslim dalam berbagai medan jihad, karena fitrah seorang Muslim ideologis yang telah menginternalisasi Islam kedalam dirinya adalah mencintai kematian. Mereka berlari menjemput kematian dalam perjuangan dengan senyum-senyum merekah, sementara malam-malamnya dihidupkan dengan ibadah dan dzikir merindui Rabb-Nya. Islam telah mengkristal sedemikian rupa sehingga mereka menjadi pribadi Islam yang berjalan. Seorang Muslim yang telah mentajasad Islam kedalam dirinya pastilah kepribadian yang melekat padanya adalah kepribadian Islam. Pola pikirnya Islam, pola sikapnya pun demikian.

Ketika seorang Muslim mengimplementasikan kejujuran, murah hati, gemar menolong, ramah, adil maka ia melaksanakan semua itu karena semuanya adalah bagian dari perintah Allah. Ketika ia menepati janji misalnya, hal itu karena ia memenuhi syariat Allah dalam berjanji. “Dan tepatilah perjanjianmu apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah menegukannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat” (QS. An-Nahl ayat 91).

Singkatnya, akhlak seorang Muslim lahir dari implementasi syariah pada dirinya. Ketika seorang Muslim bersikap tanpa dilandasi syariah maka sejatinya ia sedang berjalan di atas keridhaan selain Allah. Karena satu-satunya tujuan Muslim sejati adalah mencari ridha Allah semata-mata. Maka mengikat diri pada syariah Allah adalah sebuah keniscayaan.

Mengapa karakter Muslim sejati amat ditakuti musuh? Eropa misalnya mengalami trauma terhadap kejayaan Islam hingga berabad-abad setelah perang salib. Trauma itu mengkristal menjadi kedengkian dan dendam kesumat yang membawa corak karakter kepribadian mereka tetap sama hingga hari ini. Yaitu culas, gemar melanggar perjanjian, pengejar kesenangan dunia, tamak dan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan.

Lalu Eropa bekerja dalam rentang yang demikian panjang mencari rahasia kejayaan Islam. Rahasia itu ada pada kaum Muslim yang berislam secara kaffah, mengambil syariah Allah sepenuhnya dan menjadikannya penunjuk jalan kehidupan. Inilah rahasia keunggulan generasi yang dibina oleh Rasulullah SAW. Inilah rahasia para pejuang, inilah rahasia Ali bin Abi Thalib, Mushab bin Umair, Khalid binWalid, Thariq bin Ziyad. Inilah rahasia keberhasilan penaklukkan Konstantinopel yang amazing oleh Muhammad Al-Fatih bersama pasukan terbaiknya.

Maka ketika mengindera rahasia ini, Eropa mengirimkan misionaris yang membanjiri Daulah Islam. Berkedok misi kemanusiaan dan ilmu pengetahuan, mereka merusak pemikiran umat ini. Tidak mudah, butuh setidaknya 150 tahun untuk kaderisasi awal. Dengan berbagai konspirasi di tengah kelemahan berpikir umat, pelan namun pasti akidah umat ini tergerus. Hingga melemahlah negara Islam yang terbentang di tiga benua, mulai dari Maroko di Afrika, Spanyol di Eropa hingga India dan China di Asia.

Mereka racuni pemikiran umat, mengganti standar kehidupannya, tentang apa yang dipandang baik dan buruk, terpuji dan tercela hingga berubahlah tujuan kehidupan mereka. Meski mereka lahir dari kehidupan Islam namun kemudian pribadi-pribadi yang telah teracuni pemikiran kufur itu persis meniru gaya hidup dan pandangan penjajah. Mereka melakukannya dengan penuh kebanggaan karena telah lenyap kesadaran ideologisnya. Barat telah mencerabut ruh Islam dari generasi ini.

Setelah melakukan penjajahan pemikiran, mereka melakukan penjajahan budaya kemudian dilanjutkan dengan penjajahan politik. Caranya demikian halus sehingga umat ini terlena dalam ketidaksadaran dengan realitas yang sebenarnya. Umat malah mengira mereka berjalan menuju kemajuan dengan meninggalkan syariah dan institusinya yang agung Khilafah Rasyidah.

Lalu meraka mulai di dera azab Allah, karena memberlakukan riba, menolak syariah, dan menukarnya dengan peradaban kufur. Kesempitan hidup melanda baik karena terjajah secara pemikiran, ekonomi, militer, pendidikan maupun hukum. Mereka menjadi objek segala keburukan. Kemiskinan, kebodohan, kedzaliman menimpa mereka sementara mereka tak berdaya.

Jiwa-jiwa mereka tersandera oleh dunia. Ia mengetahui kebenaran, namun tak dapat menyuarakan kebenaran sebaliknya justru bersinergi dengan kebathilan dan kedzaliman. Lisannya kelu untuk mengangungkan Allah hingga menyandingkan syariah yang mulia dengan hasil cipta karya manusia.

Mengutip dari laman harianaceh.co.id tertanggal 19/11/2020, Ketua Komisi Dakwah MUI Muhammad Cholil Nafis mengatakan bahwa Pancasila tidak dapat diubah. Jika Pancasila diubah menjadi Pancasila Bersyariah atau NKRI Bersyariah, maka kata Cholil, perubahan itu akan mendistorsi makna dari sila-sila Pancasila. Menurutnya, Pancasila itu adalah sebuah tatanan akhlak melebihi Syariah. Sebab tanpa akhlak, Syariah tidak akan sempurna. Cholil pun menjelaskan alasannya mengatakan bahwa akhlak lebih sempurna dari Syariah. “Syariah itu tidak cukup tapi harus ada akhlaknya. Misalnya, dalam diskusi ini kita pakai kaos oblong dan celana pendek, itu sudah sesuai Syariah tapi kan tidak berakhlak,” kata Cholil.

Menurut hemat saya yang awam, syariah Islam dalam berpakaian adalah memenuhi kaidah menutup aurat, sesederhana itu saja. Khalifah Umar menghadiri berbagai diskusi dengan rakyatnya dengan pakaian yang penuh tambalan. Apakah ini termasuk tidak berakhlak? Sepertinya kyai terlalu fokus pada mode dan estetika hingga menomor duakan syariah. Dengan kesederhanaannya, Khaifah Umar menjadi pemimpin yang dikenang kepemimpinannya hingga hari ini. Bahkan terdapat pemimpin kekinian yang memirip-miripkan kepemimpinannya dengan kepemimpinan Khalifah Umar.

Nah, kembali ke pembahasan awal bahwa diantara keberhasilan serangan peradaban kufur Barat penjajah adalah eksistensi intelektual dan tokoh politik yang terbaratkan pemikirannya. Mereka menyanjung peradaban Barat pada saat bersamaan mengecilkan syariah. Jika mereka melakukannya secara tidak sadar maka ia tergolong korban peradaban Barat. Sebaliknya jika ia justru menjadi agen dan corong Barat maka ia adalah komprador.

Mengapa Kyai membandingkan syariah dengan hasil cipta karya manusia? Lalu mengaduk semua terminologi itu dengan akhlak. Mendengarnya saja umat ini bingung, pendengarankah yang salah atau sang Kyai yang tidak jujur?

Sejatinya sumber akhlak dalam peradaban Islam adalah wahyu. Hal ini berbeda dengan sumber akhlak yang hanya sebatas teori manusia, kebiasaan-kebiasaan, adat, perilaku dan yurisprudensi. Kebiasaan ini dan teori-teori ini akan terus berkembang dan berubah karena ia tidak baku. Hal ini akan berbeda pada masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya, dari satu pemikiran menuju pemikiran lainnya. Ini realitas.

Sementara sumber wajib dalam akhlak Islam adalah kesadaran manusia terhadap pengawasan Allah. Sedangkan akhlak yang berdasarkan pandangan manusia hanya hal yang tersembunyi, atau berdasarkan penginderaan, atau kesepakatan dan undang-undang yang diberlakukan. Alexis Carell dalam Man The Unknown halaman 153 menyampaikan, “Pada negara masa kini sedikit sekali kita menyaksikan orang-orang yang menjadikan akhlak mulia sebagai teladan. Padahal, kedudukan akhlak lebih tinggi dari ilmu dan keahlian. Akhlak merupakan dasar peradaban”.

Disisi lain Gustav Le Bon dalam The Arab Civilization menyampaikan, “Sungguh akhlak kaum Muslimin di bawah bimbingan Islam lebih utama dan lebih mulia daripada umat manusia seluruhnya”.

Andai saja para tokoh Muslim menelaah ucapan Aa Gym yang menjadi viral dan menduduki trending Twitter saat ini, yaitu ucapan beliau dihadapan para tokoh negara ini dalam acara Indonesia Lawyers Club, “Hai kalian bersikaplah jujur. Karena jujur itu mengantarkan kepada kebaikan. Jika seseorang tidak jujur maka kebaikannya adalah topeng semata. Kebaikan tersebut hanya untuk menutupi ketidakjujurannya. Ketika orang tidak jujur, energinya akan digunakan untuk menutupi kebohongannya dengan membuat kebohongan baru, bagaimana bangsa ini bisa besar kalau yang diberi amanahnya hanya membuat untuk menutupi kebohongan, ketidakjujuran?

Aa Gym menyebut bahwa orang yang berbohong atau tidak jujur tidak akan nyaman hidupnya. Kalau dirinya tidak nyaman, itu wajahnya tidak nyaman dilihat. Omongannya tidak nyaman didengar. Tulisannya tidak nyaman di baca dan keputusannya pasti tidak akan adil.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *