Kamala Harris: Angin Segar Keberhasilan Perempuan?

Kamala Harris: Angin Segar Keberhasilan Perempuan?

“Saya tidak akan menjadi yang terakhir, karena setiap gadis kecil yang menonton malam ini melihat bahwa ini adalah negara yang penuh peluang.” (Kamala Harris)


Oleh: Ummu Abdullah

POJOKOPINI.COM — Kemenangan Joe Biden – Kamala Harris mengalahkan Donald Trump- Mike Pence membawa angin segar tak hanya bagi warga AS tapi juga bagi negara lain pada umumnya dan wanita khususnya. Selain kampanye Biden yang akan mencabut sejumlah kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump terkait Palestina dan Timur Tengah, juga terkait Harris yang merupakan Wakil Presiden wanita pertama AS, yang mampu menjadi role model bagi para wanita agar mampu mencapai puncak kekuasaan, terlebih di negara adidaya seperti AS. Selaras dengan pidato kemenangan Harris yang berjanji kepada negara bahwa dirinya tidak akan menjadi wanita terakhir yang bekerja di kantor pemerintah Amerika Serikat. “Saya tidak akan menjadi yang terakhir, karena setiap gadis kecil yang menonton malam ini melihat bahwa ini adalah negara yang penuh peluang,” ujar Harris (solopos.com, 10/11/2020).

Ajakan Harris ini seperti angin segar bagi para wanita. Wanita boleh bekerja, berkarir, bahkan berkuasa seperti dirinya. Alam demokrasi tidak menentang hal ini, bahkan menyatakan sebagai Hak Asasi Manusia yang dilindungi dan dijunjung tinggi pelaksanaannya.

Dalam pandangan pegiat gender, kiprah wanita di ranah publik harus mampu mencapai hingga capaian tertinggi karirnya. Wanita berhak untuk memperoleh akses, partisipasi, kontrol dan manfaat yang sama dengan pria. Pandangan inilah yang membuat perempuan boleh mengaktualisasikan dirinya di segala lini. Terlebih lagi, dalam balutan kebebasan yang diagung-agungkan, membuat kiprah perempuan menjadi tak terbatas hanya urusan karir pekerjaan semata, namun juga karir politik.

Islam memiliki pandangan yang khas dalam kiprah perempuan di ranah publik. Islam tidak melarang perempuan bekerja, namun ada rambu-rambu yang menyertai aktivitasnya. Islam mewajibkan perempuan untuk menutup auratnya dengan jilbab dan kerudung dengan sempurna saat keluar rumah, tidak berkhalwat dengan rekan lawan jenisnya, tidak berhias berlebihan dan memakai wangi-wangian yang dapat mengundang syahwat laki-laki. Jenis pekerjaan yang dilakukan pun yang menunjukkan keahlian perempuan, bukan mengeksploitasi kecantikan dan tubuhnya. 

Dalam kiprah politik, Islam memberikan kesempatan kepada perempuan untuk terjun ke dalamnya. Islam membolehkan perempaun untuk.melakukan muhasabah (kontrol) kepada penguasa. Hal ini pernah terjadi di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Seorang perempuan datang kepada beliau untuk mengkritik kebijakan Khalifah yang ingin membatasi mahar pernikahan. Atas kritikan tersebut sang Khalifah pun merevisi kebijakannya.

Perempuan diperbolehkan melakukan baiat, seperti yang terjadi pada tahun ketiga belas kenabian. Saat itu datang kepada Rasulullah SAW tujuh puluh lima orang Muslim, yang terdiri dari tujuh puluh tiga orang pria dan dua orang wanita. Mereka semuanya membaiat Rasulullah SAW dengan Baiat Aqabah II. Baiat ini merupakan baiat untuk siap bertempur dan berperang, juga merupakan baiat politik.

Juga setelah Baiat Ridhwan yang terjadi di Hudaibiyah, para wanita pun membaiat Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman pada Surat al-Mumtahanah ayat 12:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِذَا جَآءَكَ ٱلْمُؤْمِنَٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰٓ أَن لَّا يُشْرِكْنَ بِٱللَّهِ شَيْـًٔا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَٰنٍ يَفْتَرِينَهُۥ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِى مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُنَّ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan Mukmin untuk mengadakan janji-setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anakanaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Baiat ini juga merupakan baiat atas pemerintahan, karena Al-Quran mengakui bahwa para wanita itu adalah Mukmin. Baiat  tersebut adalah baiat untuk tidak berbuat maksiat kepada Raaul dalam hal kemakrufan. Perempuan memiliki hak meyampaikan pendapat, juga berhak mewakilkan pendapat itu kepada orang lain. Karena dalam wakalah (akad perwakilan) tidak disyaratkan laki-laki, sehingga wanita juga berhak mewakili orang lain.

Namun, Islam melarang perempuan menjadi pemimpin umat. Hal ini berdasarkan pada apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Bakrah yang berkata, ketika sampai berita kepada Rasulullah SAW bahwa penduduk Persia telah mengangkat anak perempuan Kisra sebagai raja, Abu Bakrah berkata,

لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ « لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً »

Tatkala ada berita sampai kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa bangsa Persia mengangkat putri Kisra (gelar raja Persia dahulu) menjadi raja, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, ” Suatu kaum itu tidak akan bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita.” (HR. Bukhari)

Larangan menyerahkan urusan kepada seorang perempuan dikaitkan dengan suatu indikasi (qarînah) yang menunjukkan bahwa tuntutan untuk meninggalkan tindakan menyerahkan urusan kepada perempuan merupakan tuntutan yang bersifat tegas. Karena itu, mengangkat wanita menjadi waliy al-amr hukumnya haram. Yang dimaksud dengan mengangkat wanita sebagai kepala negara dan jabatan lain yang termasuk ke dalam jabatan pemerintahan.

Begitu indah Islam memuliakan perempuan.  Setiap bentuk larangan ataupun kemubahan yang diberikan Allah SWT adalah untuk menjaga kehormatan perempuan. Tak diskriminasi dalam syariat Islam. Hanya saja, Allah SWT sudah menempatkannya sesuai fitrah laki-laki dan perempuan. Maka,  mengapa masih menampik keindahan sistem ini? Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *