Kapan Badai Berakhir?

Saatnya semua bermuhasabah. Semesta bersimpuh di hapan ilahi. Mengakui salah dan dosa yang telah diperbuat selama ini. Maksiat harus diakhiri dengan ketaatan sempurna kepada Allah. Sehingga azabnya tak lagi menimpa bumi.


Oleh: Jumratul Sakdiah

POJOKOPINI.COM — Sulawesi Selatan menduduki lima provinsi tertinggi jumlah pasien terinfeksi virus Corona. Jumlah kasus per 15 Juli 2020 mencapai 7.460 orang, 251 diantaranya meninggal dunia (m.bisnis.com, 15/07/2020). Update 16 Juli 2020 kasus penambahannya sebanyak 178 kasus (amp.kompas.com, 16/07/2020). Dan kini salah satu wilayahnya tengah diuji dengan bencana baru. Belum selesai badai covid-19 muncul lagi badai, petir dan hujan yang mengakibatkan Luwu Utara ditimpa banjir bandang.

Korban jiwa akibat banjir bandang di wilayah Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan, hingga Jumat (17/7/2020) siang ini, pukul 13:00 Wita, sebanyak 33 jenazah korban telah ditemukan dan dievakuasi. Masih puluhan orang hilang diduga tertimbun lumpur (koran.seruya.com, 17/07/2020)

Bencana demi bencana terus berdatangan, menyisakan rasa resah dan was-was dari diri setiap insan. Warga Indonesia telah menjalani hari-harinya di masa mencekam. Terhitung dari awal bulan Maret sampai bulan Juli ini. Belum ada cahaya terang untuk penanganan kasus Corona di Indonesia. Genap 5 bulan bangsa ini berada pada bayang-bayang menakutkan akan penularan makhluk Allah tak kasat mata itu.

Allah kuasa atas segala sesuatu, bencana yang datang tak mungkin tanpa sebab. Musibah yang datang bertubi, sebagai tanda murkanya Sang Penguasa bumi. Manusia berbuat sesuka hati seolah Allah tak ada untuk mengawasi. Padahal bukankah manusia dicipta dengan visi misi? Berjalan di atas muka bumi harus bersandar kepada aturan dari Ilahi.

Namun lihatlah saat ini, betapa pongahnya manusia kepada Allah. Mencampakkan hukumNya dari kehidupan dunia ini. Bahkan berani mengkriminalisasi ajaran Islam nan suci. Mempersoalkan perkara yang seharusnya tak menjadi prioritas pemangku jabatan bangsa ini. Miris, di situasi seperti ini terjadi krisis managemen di era krisis. Sehingga tak heran masalah datang bermunculan di kala masalah lainnya belum juga selesai. Hal ini terbukti dari upaya negara dalam mengatasi covid-19 yang sampai saat ini belumlah usai.

Lambannya negara memberantas penyebaran virus Corona ditambah ketidakseriusannya dalam menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai serta kebijakan yang tak menyentuh akar persoalan, cukup menjadi alasan kenapa Indonesia berada di rangking 27 negara terbanyak kasus Corona di seluruh dunia.

Ditambah lagi, di Indonesia masih saja ada yang menyibukkan diri kepada hal yang tak kalah penting dengan dengan nyawa manusia. Misalnya, menyiapkan dana pilkada serentak, mengundang TKA dan bahkan yang miris, masih saja membenturkan ajaran khilafah dengan institusi negara ini. Akhirnya, mulai dari merevisi buku ajar sampai peraturan terhadap moderasi Islam di kurikulum pembelajaran pun dilakukan. Seolah ini adalah sebuah kegentingan. Padahal agaknya penguasa tengah memaksakan kegentingan di atas kegentingan sesungguhnya.

Maka tentu, kezaliman negara semakin mengundang murka Allah. Betapa tidak, para pemangku jabatan di negeri ini tak mau bertekuk lutut kepada syariatNya. Lebih memilih memakai aturan yang dirancang oleh akalnya yang lemah dan berpeluang melahirkan masalah demi masalah. Daripada berhukum kepada aturan yang bersumber dari Allah, Zat Maha Sempurna sekaligus Pencipta alam semesta.

Akhirnya terbukti, melalui pandemi. Allah menampakkan lemahnya sistem pemerintahan yang bukan berdasar sistem ilahi. Sistem kapitalisme sekuler membuka aibnya sendiri. Telah nyata gagal atasi masalah manusia. Di mana segelintir kapitalis terikat kepentingannya sendiri, sementara jutaan rakyat tak bisa melakukan apa-apa kecuali tetap berharap rezeki dari ilahi. Di saat penguasa angkat tangan urusi rakyatnya sendiri.

Untuk itu, dari musibah ini, saatnya semua bermuhasabah. Semesta bersimpuh di hapan ilahi. Mengakui salah dan dosa yang telah diperbuat selama ini. Maksiat harus diakhiri dengan ketaatan sempurna kepada Allah. Sehingga azabnya tak lagi menimpa bumi. Ditambah lagi, Indonesia ini buminya Allah. Selayaknya mengambil Islam dalam semua lini kehidupan manusia, termasuk bernegara. Maka berkahpun akan datang dari segala arah. Baik dari langit maupun bumi. Walhasil, pelita Islam akan membawa bumi ini dari kegelapan menuju cahaya, insya Allah.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *