Kapitalisme Pembawa Parasit LGBTQ

Kapitalisme Pembawa Parasit LGBTQ

Perlawanan terhadap LGBT harus dilakukan dengan upaya sistematis menghapus paham, sistem dan individu- institusi/lembaga liberal. Diganti dengan dominannya ideologi Islam yg melahirkan individu-institusi/lembaga Islami.


Oleh: Ummu Ahtar (Anggota Komunitas Setajam Pena)

POJOKOPINI.COM — “Kami berkomitmen untuk membuat rekan LGBTQ+ bangga karena kami bersama mereka. Karena itu, kami mengambil aksi dengan menandatangani Declaration of Amsterdam untuk memastikan setiap orang memiliki akses secara inklusif ke tempat kerja.

Begitulah pernyataan Unilever di akun Instagram-nya pada 19 Juni 2020 lalu, bahwa secara resmi berkomitmen mendukung gerakan LGBTQ+. Selain itu Unilever juga membuka kesempatan bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian dari koalisi global. Unilever meminta Stonewall yaitu lembaga amal untuk LGBT, mengaudit kebijakan dan tolok ukur bagaimana Unilever melanjutkan aksi ini (republika.co.id, 29/6/2020).

Dukungan Unilever terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+) telah menuai kecaman di dunia maya. Tak sedikit seruan untuk memboikot produk Unilever, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain, saat dihubungi Republika, (28/6).

Padahal tak hanya Unilever, namun ada 20 perusahaan di Indonesia mendukung LGBTQ+. Dilansir dari Hops.id (26/06/2020), bahwa laman huffingtonpost pada 2017 lalu juga telah mengeluarkan daftar 200 perusahaan Global yang terang-terangan mendukung LGBT. Dan beberapa di antara perusahaan besar tersebut tak asing lagi di Indonesia dan mungkin sudah sangat familiar dengan warga Indonesia. Di antaranya adalah Apple Inc, Microsoft Corp, Google Inc, Coca-Cola.co, Walt Disney.co, Visa, Mastercard, Yahoo! Inc, Chevron Corp, Ford Motor co, Nike Inc, Motorola Inc, Dell Inc, Unilever Co, Facebook, WhatsApp dan lain-lain.

Beberapa perusahaan tersebut bahkan juga pernah mengalami nasib yang sama dengan Unilever. Salah satunya Starbuck. Awalnya pada 2017 silam CEO Starbucks Howard Schultz secara terang-terangan mendukung LGBT. Pernyataan Schultz mendukung LGBT sebenarnya sudah dikatakan sejak tahun 2013, malah sempat heboh kembali di tahun 2017.

Membuat aksi boikot memang akan merugikan produsen, tapi tidak ada jaminan bahwa dukungan terhadap (LGBT) akan dihentikan. Faktanya di era dominannya kapitalisme, semisal MNC perusahaan Multinasional yg mendukung LGBT berpijak pada liberalisme yg diagungkan. Yang mana konten-konten yang mengandung LGBT malah justru laris dan diterima masyarakat.

Sungguh ironis bangsa ini telah rusak pola pikir dan bahkan akal sehatnya. Kapitalisme berhasil menjarah hingga mengomando negeri ini sesuai keinginan akal busuk mereka. Dengan LGBT sebagai senjata memuluskan keuntungan belaka padahal sejatinya membunuh jati diri manusia.

Kapitalisme melahirkan paham sekularisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Aturan agama tidak berhak mengatur kehidupan, sehingga penganut ideologi ini bebas mengatur segala aktivitasnya. Bahkan, kebebasan itu serba kebablasan dan hanya memuaskan nafsu diri tanpa ada dorongan dari ruh.

LGBT memang bukan dari Islam. Sehingga penyakit ini harus dibasmi sampai akarnya, agar tak menulari yang lain. Sejatinya negeri mayoritas Islam ini tau, bukan dibiarkan saja. Apadaya Kapitalisme membutakan mata hati demi meraih kecintaan dunia semata. Maklum, para Kapitalis dan anteknya yang sudah menguasai ibu pertiwi ini. Sehingga, “parasit” LGBT bermunculan dimana-mana.

Sungguh rakyat harus mulai berpikir, bahwa ada udang dibalik batu. Segala sesuatu yang bukan dari Islam hendaknya segera dibasmi. Sebaiknya perlu membuka sejarah bahwa Islam adalah satu-satunya yang bisa mengatasi segala persoalan kompleks. Yang berasal dari Allah SWT yaitu bersumber pada Al Quran dan As Sunnah, bukan dari akal manusia yang terbatas. Sehingga persoalan LGBT ini tuntas tanpa panjang lebar.

Islam mengatur pergaualan lawan jenis dan sejenisnya dengan membatasi interaksi yang belum menikah. Aurat yang bukan mahram, bagi wanita telah dijelaskan di surat Al Ahzab 59 adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sedangkan laki-laki dari pusar sampai lutut. Walaupun dengan mahramnya aurot harus dijaga. Islam menganjurkan memisah tempat tidur anak-anaknya diatas 7 tahun. Dan walaupun sesama jenis tidak boleh memakai satu selimut. Hal itu menghindari perilaku kebablasan apalagi LGBT.

Dalam Islam, LGBT dikenal dengan dua istilah, yaitu Liwath (homo) dan Sihaaq (lesbian). Liwath adalah perbuatan berhubungan antara laki-laki dengan laki-laki. Sedangkan Sihaaq adalah hubungan cinta birahi antara sesama wanita.

Untuk pelaku liwath ada peringatan dalam Alquran dan Hadits. Alquran menyatakan liwath sebagai perbuatan keji (lihat QS. Al-A’raf ayat 80-81). Alquran juga menjelaskan sanksi Allah bagi kaum Luth, yakni bahwa Allah SWT memberi sanksi kepada mereka dengan khasf (dilempar batu hingga mati), (lihat QS Hûd [11]: 82).

Sedangkan menurut Sunnah, telah diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin ‘Amru dan Nabi Saw bahwa beliau bersabda, “Terlaknatlah orang yang mengerjakan perbuatannya kaum Nabi Luth.

Perlawanan terhadap LGBT harus dilakukan dengan upaya sistematis menghapus paham, sistem dan individu- institusi/lembaga liberal. Diganti dengan dominannya ideologi Islam yg melahirkan individu-institusi/lembaga Islami.

Sehingga, dengan Islam menghapus paham yang bebas tanpa aturan melahirkan generasi yang sehat, taat dan menebar rahmat. Hal ini hanya bisa diwujudkan dengan metode dakwah konsisten menjalankan thariqah dakwah ‘alaa minhajin nubuwwah.
Wallahua’lam bisshawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *