Kapitalisme : Penyebab kehacuran keluarga

Kapitalisme : Penyebab kehacuran keluarga

Oleh : Jartika (aktivis dakwah kampus)

WWW.POJOKOPINI.COM — Keluarga adalah sekumpulan orang yang terikat dalam hubungan pernikahan kemudian hidup dalam satu rumah tangga. Di dalam keluargalah kita mendapatkan kasih sayang yang tulus, keharmonisan serta orang yang paling berarti dalam hidup kita. Sebagaimana lirik lagu “Harta yang paling berharga adalah keluarga”. Dan firman Allah juga dalam Surat Ar Rum(Surat 30) ayat ke 21:

Dan diantara tanda-tanda (Kebesaran)Nya, ialah Bahwa ia menciptakan istri-istri bagimu dari jenis kamu sendiri, supaya kamu dapat hidup tenang bersama mereka, dan diadakan-Nya cinta dan kasih saying antara kamu. Sungguh, dalam yg demikian itu, ada bukti-bukti bagi orang yg menggunakan pikiran.

Namun sangat disayangkan dalam keadaan yang sedang menyoroti kita hari ini. Dimana keluarga telah kehilangan peran yang sesungguhnya. Kini keluarga tidak lagi menjadi benteng untuk meluapkan keharmonisan atau peran orang tua untuk mencetak generasi yang berprestasi. Tapi malah kita melihat dalam keluarga hanya kehancuranlah dan dari kebanyakan itu berujung pada perceraian.

Katadata_Bahkan di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Pada 2018, angka perceraian Indonesia mencapai 408.202 kasus, meningkat 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Penyebab terbesar perceraian pada 2018 adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus dengan 183.085 kasus. Faktor ekonomi menempati urutan kedua sebanyak 110.909 kasus. 
Sementara masalah lainnya adalah suami/istri pergi (17,55%), KDRT (2,15%), dan mabuk (0,85%).Berbagai kasus perceraian ini, nantinya akan menjadi sebuah pukulan bagi anak dan akan berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak-anak.

Keperihatinan yang di rasakan beberapa anggota DPR terkait dengan ketidak harmonisan keluarga Indonesia, mendorong mereka untuk mengusulkan RUU ketahanan keluarga yang di harapkan bisa menjadi solusi untuk memecahkan problematika keluarga. Diantaranya, Ledia Hanifa dan Netty Prasetiyani (PKS), Ali Taher (PAN), Sodik Mudjahid (Grindra) dan Endang Maria Astuti (Gorkar).

Dari RUU Ketahanan keluarga terlihat harapan besar untuk menjadikan keluarga sebagai pondasi kebahagiaan, ternyata banyak kalangan masyarakat yang tidak menjadikan sebagai angin segar bagi ketahanan keluarga. Pasalnya RUU ini memuai banyak kontra karena dianggap terlalu memasuki ranah privat keluarga. Dan kebebasan yang selama ini dijamin oleh negara dianggap akan bertolak belakang dengan adanya RUU yang akan di usulkan.

Kontra yang terjadi dalam masyarakat adalah sesuatu yang tidak bisa kita salahkan 100%. Di karenakan RUU yang di buat adalah hasil buatan manusia. Adanya harapan baik kepada masyarakat namun di sisi lain telah memberikan kebebasan dan UU yang mangatur lainnya. Sehingga menimbulkan ketidak sesuaian antara aturan yang satu dengan yang lain. Manusia itu adalah makhluk yang terbatas sehingga tidak akan mampu membuat aturan untuk manusia lain dalam tanda kutip untuk menenteramkan setiap jiwa.

Dalam sistem ini (demokrasi) telah memberikan kebebasaan sebebas-bebasnya kepada setiap rakyat baik dalam bertindak maupun dalam berucap. Mereka juga telah di ajarkan secara tidak langsung untuk mengukur segalanya dengan materi, di samping sebelumnya ketakwaan individu di jauhkan dari benak kaum muslim. Di karenakan inilah pernikahan terjadi hanya untuk pemuasan seksual, reproduksi dan rekreasi semata.

Rusaknya visi misi dalam pernikahan akan menyebabkan keluarga ini berjalan sesuai apa yang ingin dicari. Setelah mendapatkan apa yang ingin di cari, kebahagiaan tak kunjung tiba. Di tambah dengan masalah yang sering terjadi, seperti: kebebasan dalam bergaul akan menyebabkan kecemburuan sepihak pasangan, kurangnya lapangan pekerjaan menyulitnya suami dalam menafkahi keluarga, giur Feminisme dan emansipasi wanita mendukung istri lebih mudah berkarir dan mendapatkan pundi-pundi Rupiah di bandingkan suami. Maka wajar dari kebanyakan kasus perceraian yang terjadi, di gugat oleh istri, dan permasalahan lainnya. sehingga menjadi bibit keretakan keluarga. Bukankah bibit permasalahan dalam keluarga ini berakar dari sistem demokrasi yang mengatur kita modern ini.

Jauh berbeda ketahanan keluarga yang digambarkan oleh Islam.Sebelum masyarakat mengenal kebebasan ala kapitalis, perceraian adalah sesuatu langka dan hina. Keluarga menjadi bahagia karna di bentengi dengan keimanan dan aqidah yang benar. Suami istri saling melengkapi, ibu menjadi pencetak bagi tumbuh kembang anak dan suami menjadi pelindung dan pemenuhan nafkah. Negara menjadi fasilitasi untuk keluarga bahagia seperti menjamin lapangan pekerjaan, kesehatan dan pendidikan, ketika kebutuhan fisik dan batin terpenuhi maka kebahagiaanlan yang akan menghampiri.

Masihkah kita mau mempertahankan atau malah mendukung sistem yang lahir dari barat ini? Yang nyata-nyatanya tidak akan pernah membawa kita pada kebahagiaam hakiki termasuk dalam keluarga. Dan bukan sesuatu yang tidak memungkinkan kita untuk mengembalikan ketahanan keluarga yang harmonis sebagaimana tatanan Islam. Jika menginginkan keluarga layaknya istana megah maka kita harus sesegera mungkin mencampakkan sistem kapitalisme dan mendukung serta menggatinya dengan Aturan sang pencipta (Islam). Wallahu’alam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *