Kapitalisme Penyebab Marebaknya Keretakan Rumah Tangga

Kapitalisme Penyebab Marebaknya Keretakan Rumah Tangga

Oleh : Sriyanti
Ibu Rumah Tangga

WWW.POJOKOPINI.COM — Angka perceraian di Indonesia setiap tahunnya kian meningkat, mayoritas terjadinya tersebut berasal dari gugatan istri. Fenomena ini seakan menjadi hal yang lumrah baik di kalangan masyarakat ataupun para pesohor negeri ini. Lalu sebenarnya apakah yang menjadi penyebabnya?

Mahkamah Agung (MA) mencatat data perceraian sepanjang tahun 2019, yang terjadi di dua pengadilan yaitu pengadilan negeri dan pengadilan agama. Data dari pengadilan negeri di seluruh Indonesia, hakim telah memutuskan perceraian sebanyak 16.947 pasangan. Sedangkan di pengadilan agama sebanyak 347.234 perceraian yang berawal dari gugatan istri dan 121.042 perceraian dilakukan atas permohonan talak suami. (detiknews 28/02/2020)

Mengamati fakta di atas, terdapat berbagai faktor yang kerap menjadi pemicu terjadinya perceraian saat ini. Mulai dari pertengkaran, ketidak harmonisan, KDRT, perselingkuhan, gaya hidup hedonis, gempuran pemikiran feminisme dan kesetaraan gender, serta masalah ekonomi. Semuanya itu bermuara pada satu penyebab, yaitu diterapkannya sistem kapitalis sekuler yang melahirkan berbagai kerusakan. Di sistem ini aturan yang dipakai dalam kehidupan adalah aturan hasil buah pikir manusia yang sarat dengan hawa nafsu. Selain itu juga menjadikan materi sebagai tolak ukur, termasuk standar kebahagian.

Kasus perceraian juga menyisakan banyak masalah. Salah satunya adalah nasib anak yang menjadi korban. Tak sedikit anak-anak korban broken home yang menjadi frustrasi. Mereka mencari kesenangan di luar hingga pada akhirnya terjerumus pada hal-hal buruk seperti narkoba, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Maka jelas sekali, selain menyebabkan rapuhnya ketahanan keluarga permasalahan ini juga dapat berakibat rusaknya generasi masa depan bangsa.

Oleh karena itu harus ada keseriusan untuk mengatasi problem ini. Pemerintah pun menyadari dampak buruk dari masalah ini dan berusaha memberikan solusi. Salah satunya dengan membuat RUU dan kebijakan-kebijakan. Namun sangat disayangkan, upaya tersebut belum mampu menuntaskan problem karena solusi yang disodorkan tidak sampai menyentuh akar permasalahannya yang sistemik. Penyelesaiannya hanya bersifat parsial bahkan cenderung kontraproduktif atau memunculkan masalah baru. Misalnya sertifikasi pra nikah yang digalakkan untuk meminimalkan terjadinya perceraian. Program ini dinilai kurang efektif karena dirasa mempersulit seseorang yang hendak menikah jika calon pasangan tidak mendapat sertifikat lulus. Sehingga berpotensi menimbulkan kemaksiatan sebagai jalan menuju pernikahan. Terbalik dengan fakta yang seolah membiarkan seks bebas di kalangan remaja dewasa ini.

Dalam pandangan Islam perceraian bukanlah hal yang dilarang sekalipun dibenci oleh Allah Swt. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda:

“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah ialah talak.” (HR. Abu Daud)

Namun jika terus mengalami peningkatan, maka hal ini bukanlah suatu kewajaran. Ada hal yang harus diperbaiki. Tentu bukan hanya perbaikan individunya saja. Namun dibutuhkan perbaikan yang menyeluruh dan mendasar. Yaitu dengan menjadikan Islam sebagai ideologi yang mengatur kehidupan dan diterapkan oleh negara. Seluruh masyarakat akan diedukasi agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kokoh serta menjadi insan mulia di hadapan Allah Swt. Edukasi bagaimana seharusnya seorang muslim menjalani kehidupan berumah tangga termasuk di dalamnya. Hal ini dilakukan oleh negara dengan jalan membuat iklim kondusif bagi suasana keimanan di tengah masyarakat. Juga menetapkan kebijakan edukasi yang masif melalui pendidikan formal maupun non formal. Sebagai bentuk pelaksanaan syariat, negara pun berkewajiban meriayah umat termasuk dalam pemenuhan kebutuhan yang bersifat primer. Seperti sandang, pangan, papan, juga kebutuhan kolektif masyarakat seperti kesehatan, pendidikan dan keamanan. Maka dari itu, niscaya masyarakat akan hidup sebagaimana mestinya. Hingga persoalan keretakkan rumah tangga pun teratasi.

Maka tak ada jalan lain untuk solusi masalah ini, pemerintah harus mencampakkan sistem kufur yang saat ini dipakai. Lantas menggantinya dengan sistem Islam yang berasal dari Sang Maha Pencipta dan Pengatur. Hingga akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Waallahi a’lam bi ash-shawab[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *