Kapitalisme Sekuler Telah Sukses Menyuburkan Masyarakat Stress

Kapitalisme Sekuler Telah Sukses Menyuburkan Masyarakat Stress


Oleh : Khansa Mubshiratun Nisa
Ibu Rumah Tangga, Aktivis Dakwah

WWW.POJOKOPINI.COM — Akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan dengan munculnya sekelompok orang yang mendirikan keraton atau kerajaan baru. Salah satunya adalah Keraton Agung Sejagat yang berada di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Purworejo yang mengklaim sebagai penerus kemaharajaan Nusantara, Majapahit, yang muncul setelah perjanjian 500 tahun dengan Portugis berakhir. (m.cnnindonesia.com, 16/1/2020)
Belum lama KAS (Keraton Agung Sejagat) ramai diperbincangkan, kini muncul kelompok yang mengatasnamakan dirinya Sunda Empire-Earth Empire.

Kelompok ini memprediksi pemerintahan dunia akan berakhir pada 15 Agustus 2020 mendatang. Tak hanya itu, tahun-tahun sebelumnya juga sempat ramai tentang Kerajaan Ubur-Ubur dan Kerajaan Eden.
Di tengah frustrasi sosial dan ekonomi masyarakat, fenomena munculnya berbagai kerajaan baru bukanlah hal yang aneh di negeri ini. Menurut Ahmad Buchori, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran, keberadaan perkumpulan yang mengklaim sebagai sistem pemerintahan dunia yang dikendalikan dari Bandung, Jawa Barat itu merupakan cerminan dari krisis frustrasi sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Fenomena krisis yang muncul karena kejenuhan atau kebuntuan sebagian warga yang mungkin hilang orientasi ke depan. (liputan6.com, 18/1/2020)

Bila dilihat, banyaknya fenomena seperti ini terjadi berangkat dari kisah peristiwa Ratu Adil. Bukan fenomena baru sebenarnya, bahkan di dunia ada gerakan milenarianisme -adalah suatu keyakinan oleh suatu kelompok atau gerakan keagamaan, sosial atau politik tentang suatu transformasi besar dalam masyarakat dan setelah itu segala sesuatu akan berubah ke arah yang positif atau kadang-kadang negatif atau tidak jelas- yang muncul setiap waktu tertentu. Gerakan ini menawarkan jalan keluar bagi kebuntuan zaman. Kelompok-kelompok milenarian biasanya mengklaim bahwa masyarakat masa kini dan para penguasanya korup, tidak adil, atau menyimpang. Karena itu mereka percaya bahwa mereka akan segera dihancurkan oleh suatu kekuatan yang dahsyat.


Banyaknya fakta kasus yang terjadi saat ini membuktikan buruk dan gagalnya sistem kapitalis yang bercokol saat ini dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Sehingga ketika ada kelompok baru yang mengatasnamakan keadilan padahal yang ditawarkan tidak rasional, banyak yang tergiur dan tertarik untuk bergabung. Ini disebabkan kebuntuan mencari jalan keluar dari banyaknya persoalan yang terjadi saat ini. Mirisnya, ada kalangan tertentu yang memanfaatkannya untuk mencari untung materi dari para pengikutnya.

Publik dibuat bingung dengan sikap pemerintah yang seolah tidak tegas dan antisipatif terhadap kasus ini. Padahal kasusnya berulang hingga meresahkan masyarakat dan sudah banyak korban kerugian harta. Pemerintah tak cukup hanya mengakui bahwa saat ini banyak orang yang tidak waras dan stress saja, akan tetapi harus mengusut apa sumber penyebab mengapa masyarakat banyak yang stress dan tidak waras saat ini?
Pemerintah seharusnya mengakui bahwa lahirnya masyarakat stres dan tidak waras karena telah mengambil sistem yang salah untuk mengurus rakyat. Sistem kapitalisme sekuler telah terbukti gagal menyejahterakan rakyat.

Kemiskinan sistemik terus meningkat, pengangguran semakin bertambah, rakyat dipalak lewat kebijakan yang liberal, kini telah ‘sukses’ menyuburkan masyarakat stres.
Ir. Dudy Arfian, M.Si. (Ulama dari Lampung) menyatakan, karena sistem kapitalisme yang diterapkan, banyak penguasa yang ingkar janji, seperti stop utang luar negeri, namun faktanya utang Indonesia per-Agustus 2018 capai Rp4.636 triliun. Lalu janjinya persulit investasi asing, tapi faktanya perizinan dan agresivitas untuk menarik investasi asing di Indonesia semakin bertubi-tubi. Dan yang bohong lagi adalah janji merebut Indosat dari tangan asing, namun hingga kini tidak ada wujudnya. (mediaumat.news, 31/12/2018)

Jika telah terbukti sistem sekuler kapitalisme gagal menyejahterakan dan memberi keadilan, maka sudah seharusnya mengarahkan solusi pada sistem Islam yang telah terbukti selama kurang lebih 14 abad lamanya sukses menyejahterakan, memberikan keadilan serta mewujudkan masyarakat yang bertakwa dan beriman. Karena ketika masyarakat mempunyai masalah, keyakinan mereka kepada Allah, qada dan qadar, rezeki, ajal, termasuk tawakal begitu luar biasa. Masalah apa pun yang mereka hadapi bisa mereka pecahkan sehingga jauh dari stres.
Berbeda dengan saat ini, ketika kapitalisme diterapkan. Bagaimana mungkin mengharapkan masyarakat yang beriman sementara enggan menerapkan isi Al-Quran yang merupakan petunjuk bagi kehidupan manusia? Padahal kemaksiatan terbesar adalah keengganan manusia untuk berhukum dengan Alquran.

Inilah yang dikeluhkan oleh Rasulullah saw. Beliau bahkan mengadukan kepada Allah Swt. atas umatnya yang mengabaikan Al-Quran, sebagaimana firman-Nya : “Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan Alquran ini suatu yang diabaikan.” (TQS al-Furqan: 30)
Maka, dapat disimpulkan, bahwa “menjamurnya” kerajaan baru saat disebabkan penerapan sistem kapitalisme sekuler yang menyuburkannya. Sudah saatnya mengakhiri sistem ini, agar terwujud masyarakat beriman, jauh dari ketidakwarasan dan strees, Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *