Karamnya KRI Nanggala-402: Refleksi Visi Geopolitik Bawah Laut Indonesia

Namun modernisasi alutsista tak semudah yang dibayangkan banyak orang. Ada banyak kepentingan yang telibat di sana termasuk keberadaan para broker alutsista yang telah menjadi rahasia umum.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Laman tempo.co pada 30/4/2021 melaporkan bahwa sejumlah petinggi TNI Angkatan Laut menyodorkan kemungkinan baru penyebab kapal selam tua KRI Nanggala-402 hilang dan tenggelam di perairan utara Bali. Kemungkinan itu adalah faktor alam yang disebut “internal waves” alias gelombang di bawah laut.

Mengutip informasi dari beberapa pakar dan ahli oseanografi, mereka menyebut arus bawah laut yang cukup kuat yang bisa menarik secara vertikal. Jadi, jatuhnya kapal ke bawah lebih cepat dari umumnya. Keterangan itu didukung data dari satelit Himawari-8 milik Jepang dan Satelit Sentinel milik Eropa bahwa pada 21 April–hari hilangnya KRI Nanggala-terjadi internal waves yang bergerak dari bawah ke utara.

Kapal selam KRI Nanggala-402 adalah kapal selam serang bermotor diesel-listrik tipe U-209 buatan Jerman. Kapal selam itu diproduksi tahun 1978 di galangan Howaldtswerke-Deutsche Werft di Kiel, dipesan Indonesia tahun 1979 dan diserahkan ke Indonesia pada Oktober 1981 di Jerman. KRI Nanggala-402 sempat dimodernisasi di Jerman tahun 1989, kemudian diperbarui lagi tahun 2012 di Korea Selatan. Sebagian besar struktur atasnya diganti, dan persenjataan, sonar, radar, dan sistem kendalinya diperbarui. Setelah pembaruan di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering di Korea Selatan itu, Nanggala mampu menembakkan empat torpedo secara bersamaan pada empat target berbeda, dan juga mampu meluncurkan rudal anti-kapal seperti Exocet atau Harpoon.

Kedalaman menyelamnya yang aman ditingkatkan menjadi 257 meter (843 kaki), dengan kecepatan tertinggi ditingkatkan dari 21,5 knot (39,8 km / jam) menjadi 25 knot (46 km / jam). Menurut data Jane’s Information Group, daya tahannya di dalam air sekitar 50 hari. KRI Nanggala-402, namanya diambil dari senjata pewayangan, memiliki dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter, dengan mesin diesel elektrik. Kapal selam andalan Indonesia itu bisa dilengkapi dengan 14 buah torpedo 21 inci/533 mm dalam 8 tabung.

Dari awal telah disampaikan, musibah kapal ini bukan disebabkan human error. Namun ada faktor lain yaitu diakibatkan oleh kondisi kapal selam yang kemampuannya sudah mulai berkurang. Saat ini, kemampuan kapal selam itu tidak dapat lebih dari 200 meter. Menurut Pakar Kelautan ITS Surabaya, Wisnu Wardhana mengatakan kapal ini awalnya tahun 1980 itu didesain maksimum ketenggelamannya di kedalaman 300 meter, sekarang dengan pertambahan usia 40 tahun itu, diperkirakan kemampuan kapal selam Nanggala ini tidak lebih dalam melebihi 200 meter sehingga telah berkurang kemampuannya.

Sedangkan, tekanan KRI Nanggala sebanyak 80 bar. Tekanan hidrostatik air hanya 20 bar, karena setiap 10 meter kenaikan tekanan yaitu 1 bar. Menurut wisnu, lambung bagian dalam kapal yang biasa disebut pressure hall akan pecah atau hancur jika ditekan melebihi kemampuan tersebut. Faktor penyebab lainnya yang dilansir dari Harian KompasTV yaitu, diakibatkan karena sudah melewati batas maksimum kedalaman 700-850 meter. Dengan tekanan bawah air yang sangat besar di kedalaman 700-850 meter akan menyebabkan retak dan pecahnya lambung baja kapal.

Potret Pengelolaan Tata Ruang Laut Indonesia

Mengutip dari merdeka.com pada 16/12/2019, Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Panjangnya sekitar 99.093 kilometer. Namun hanya 10 persen dari panjang tersebut yang baru dimanfaatkan. Pemanfaatannya pun masih belum maksimal. Selama ini pengelolaan tata ruang laut Indonesia sebagian besar dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dalam bentuk pengembangan sentra kelautan dan perikanan terpadu termasuk juga pariwisata berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Padahal tata ruang laut Indonesia sangat strategis dan kaya. Kandungan dasar laut Indonesia memiliki 60 cekungan minyak dan gas bumi yang diperkirakan dapat menghasilkan 84,48 miliar barrel minyak. Dari jumlah cekungan itu, 40 cekungan terdapat di lepas pantai dan 14 cekungan lagi ada di pesisir. Selain itu, dari pengambilan sampel batuan di bawah laut pada kedalaman 500-600 meter di bawah permukaan laut, disekitar gunung api ditemukan batuan yang mengandung andesit dan basalt. Batuan ini terbentuk akibat proses hidrotermal melalui proses silisifikasi dan kloritifikasi. Selain itu teridentifikasi adanya mineral-mineral sulfida pirit, barit dan markasi (Sukamto, 2017).

Di sisi lain kekuatan sentra bawah laut bahkan hampir tak tersentuh. Padahal wilayah yang sangat luas itu adalah wilayah srategis yang seharusnya tidak hanya menjadi urusan Kementerian Kelautan dan Perikanan namun juga menjadi proyek pertahanan dan keamanan negara. Alfred Thayer Mahan dalam bukunya The Influencer of Sea Power Upon History 1660-1805, menyebutkan ada 6 elemen penting dari sea power yaitu posisi geografis, bentuk fisik, luasnya wilayah, jumlah penduduk, karakter bangsa dan karakter pemerintah. Dua elemen yang terakhir sangat menentukan untuk postur pertahanan sebuah negara yaitu bagaimana karakter bangsa dan bentuk pemerintahan yang diterapkan.

Jika kita melihat Indonesia, sejatinya negara ini terperangkap diantara dua kekuatan laut global yaitu China dengan agenda OBOR initiative-nya dan Amerika dengan proyek Indo-Pacific Region-nya. Saat ini China telah nyaris menyaingi kekuatan armada Amerika sebagai adidaya dunia. Cakupan BRI telah menguasai 60 negara yang setara dengan 55% GDP dunia, mencakup 70 % populasi dunia dan 75% sumber energi dunia.

Kini China memiliki proyek strategis bawah laut melalui proyek Digital Silk Road dengan penanaman kabel fiber optic. China menyediakan dana $17 miliar untuk membangun Digital Silk Road sejak 2013, termasuk pinjaman $7 miliar untuk fiber optic proyek telekomunikasinya. Huawei Marine Networks membangun 59.488 kilometer jaringan kabel bawah laut yang terbentang sepanjang Indo-Pacific, South Pacific dan regio Atlantic. Meningkat dari 7% pada 2012 menjadi 20% pada 2019.

Sementara di tata ruang udara, lebih dari 33 satelit BeiDou Navigation Satellite System terpasang menyaingi teknologi GPS yang dipimpin oleh Amerika. Di darat proyek smart city Huawei telah menjelajah 200 kota pada 40 negara dan Proyek ZTE mencakup 170 kota pada 60 negara di dunia. Ini belum termasuk penguasaan mereka atas pelabuhan-pelabuhan dunia yang dikelola sebagai smart port. Melalui digital silk road China meniscayakan mampu membaca perilaku dan memotret kebutuhan negara-negara di dunia jauh lebih cepat dan akurat untuk menjamin hegemoni ekonomi dan politik negaranya.

Untuk itu seharusnya Indonesia bangkit dari tidur panjangnya, yaitu mimpinya tentang poros maritim dunia. Indonesia harus bersegera meninggalkan ketinggalannya dalam mewujudkan pencapaian kekuatan pokok minimum (Minimum Essensial Force) maritimnya. Salah satu hal yang harus dikritisi dari MEF ini adalah realitas bahwa proyek ini tidak diarahkan pada konsep perlombaan persenjataan (arms race) maupun sebagai strategi pembangunan kekuatan untuk memenangkan perang total, namun malah dijadikan sebagai kekuatan pokok yang memenuhi standar tertentu dan hanya menjadi efek tangkal saja.

Imparsial mencatat setidaknya ada 4 persoalan dalam pengadaan Alutsista TNI. (1) pembelian alutsista di bawah standar. Pemerintah kerap membeli alutsista bekas dan harus boros dengan biaya perbaikannya; (2) pembelian alutsista bekas sulit mendukung transfer teknologi; (3) pengadaan alutsista yang tidak diimbangi dengan kelengkapan peralatannya; (4) keterlibatan broker dalam pengadaan alutsista (Pinterpolitik.com, 24/4/2021).

Melihat fakta di atas, tampaknya postur laut dan bawah laut Indonesia masih jauh dari perwujudan poros maritim dunia. Meski saat ini telah ada narasi modernisasi alat utama sistem persenjataan di tiga matra TNI, yaitu darat, laut dan udara. Bahkan Menhan Prabowo bersama-sama pimpinan TNI telah menyusun masterplan, rencana induk 25 tahun yang diharapkan akan memberi suatu totalitas kemampuan pertahanan. Namun modernisasi alutsista tak semudah yang dibayangkan banyak orang. Ada banyak kepentingan yang telibat di sana termasuk keberadaan para broker alutsista yang telah menjadi rahasia umum.

Islam adalah Inspirasi Indonesia menjadi Negara Adidaya

Dalam Islam terdapat perintah untuk mewujudkan kekuatan pertahanan dan keamanan yang mumpuni hingga mampu menggentarkan musuh. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal: 60; “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian dan orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya”.

Oleh sebab itu, perlu upaya upgrade politik Islam yang memiliki pengaturan terhadap pertahanan secara detail. Pembangunan kekuatan militer bagi negara Islam termasuk kekuatan maritim bukanlah sekadar persiapan pertahanan semata. Tetapi dia adalah sesuatu yang harus ada agar Khalifah dapat melaksanakan kewajiban, yang karena kewajiban itu kaum Muslim membaiatnya. Atau agar negara dapat melaksanakan apa yang telah diwajibkan Allah kepadanya, yaitu mengemban dakwah. Dengan kata lain agar negara dapat melaksanakan politik luar negerinya berdasarkan apa yang ditetapkan Allah, dan agar negara dapat menjaga kesinambungan perjalanan politik ini secara benar dan produktif.

Karena itu pembangunan kekuatan militer kepentingannya lebih dari sekadar keberadaannya sebagai satu-satunya baju pelindung bagi umat dari teror orang-orang kafir yang memeranginya, serta kemungkinan adanya serangan dari mereka, namun ia adalah satu-satunya metode (thariqah) untuk menjadikan politik luar negeri sebagai politik Islam. Untuk itu seharusnya Indonesia mengapresiasi Islam sebagai sebuah sistem yang komprensif terbukti menjadi adidaya baik di darat maupun di laut.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *