Kaum Melambai Semakin Menampakkan Jati Diri

Kaum Melambai Semakin Menampakkan Jati Diri

Oleh: Iis Siti
pegiat dakwah

WWW.POJOKOOINI.COM — Isu seputar LGBT (Lesbian, Homoseksual, Biseksual dan Transgender) akhir-akhir ini makin panas. Ada yang pro adapula yang kontra. meski suara yang pro sesungguhnya minoritas, kaum yang berpenyakit itu mendapatkan dukungan dari kalangan liberal, disokong oleh banyak media mainstream, dan disponsori oleh dana ratusan miliar rupiah. Tak tanggung-tanggung mereka di support oleh kedubes Amerika Serikat. Akibatnya, suara kalangan lgbt di negeri ini tampak semakin bebas.

Dampak buruk lgbt sangatlah berbahaya dan dapat mengakibatkan sarana efektif bagi penyebaran penyakit HIV/AIDS. Jika dibiarkan berkembang, lgbt juga jelas bisa mengancam kelestarian jenis manusia.

Peluit kaum lgbt semakin nyaring terdengar. Para penganut penyimpangan orientasi seksual ini bisa bernafas lebih lapang. Bila dulu mereka harus menyembunyikan orientasi seksualnya di kamar sunyi, kini hal itu dapat diekspresikan di ruang publik. Perlahan-lahan khalayak seperti sudah menganggap LGBT sebagai hal biasa. Tentu, bukan karena hal itu benar secara logika apalagi norma agama, tetapi karena ada arus kuat di belakang kaum lgbt, yang berhasil memanipulasi pikiran publik.

Dilansir dari laman Kompas.com, baru-baru ini Kejaksaan Agung, Mukri, menuturkan tentang larangan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), untuk mengikuti seleksi pegawai negeri sipil (CPNS) 2019 di institusinya. Karena diduga akan berpotensi mengganggu kinerja calon jaksa. Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Perilaku menyimpang penyuka sesama jenis sebenarnya bukanlah hal yang baru. Perilaku ini telah lama ada, dibiarkan hingga eksis sampai srkarang. Mereka menjadi corong gaya hidup barat, tanpa norma, dangkal aqidah. Diikuti dan diberikan payung hukum di negeri-negeri muslim termasuk di Indonesia, kemudian disosialisasikan dengan gencar dengan berbagai macam cara.

Merajalelanya lgbt di negeri ini adalah buah diterapkannya sistem kapitalisme dengan ide dasar sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang tak sadar terus dipeluk dan diadopsi oleh masyarakat dan diterapkan oleh pemerintah. Negara membuka pintu lebar, membuka kran kebebasan secara kebablasan padahal perilaku mereka tidak bisa ditolerir. Para perilaku menyimpang seksual ini bisa gencar beraksi karena mendapat justifikasi atas nama HAM. Kebebasan berekspresi yang dibangun di atas ideologi sekuler yang menafikan agama dari kehidupan. Para pendukung mereka pun selalu punya seribu satu alasan untuk membela.

Kaum lgbt adalah virus penebar penyakit, merasuk ke semua celah yang ada di masyarakat. Keluarga, masyarakat, pendidikan dan ingin juga masuk ke lembaga pemerintahan seperti kasus di atas.

Sebut saja kampus, yang juga disasar kaum melambai untuk menyebar kebejatannya, menjadi celah kondusif atas dukungan menristekdikti sebelum pilpres kemarin. Banyaknya mahasiswa yang tinggal di kos-kosan atau di asrama, dimana tempat berkumpulnya perempuan sesama mereka, juga tempat laki-laki berkumpul dengan sesama mereka. Di tempat-tempat semacam ini para pelaku dan pendukung gaya hidup lgbt melakukan pergerakan dan untuk mencari dukungan ke kalangan intelektualitas khususnya mahasiswa juga pejabat kampus.

Menilik fakta diatas bahwa kehidupan sekuler-kapitalisme mengajarkan manusia hidup bebas, sebebas bebasnya. Sistem rusak inilah yang menjadi penyebab rendahnya ketaqwaan masyarakat, dan penyebab minimnya pengetahuan masyarakat terhadap syariah Islam. Juga penyebab lemahnya pemahaman masyarakat terhadap Islam sebagai solusi hidup. Akibatnya, semakin banyak di antara individu masyarakat yang menganggap bahwa perilaku lgbt, bukanlah hal yang terlarang dalam agama. Kemudian diperparah dengan abainya tanggung jawab pemerintah dalam meriayah rakyatnya, dan dengan tidak diterapkannya sanksi tegas bagi pelaku lgbt yang sampai saat ini tidak memberikan efek jera. Sehingga para pelaku lgbt masih bebas melenggang untuk menjalani kehidupannya.

Sejatinya Islam memandang perilaku lgbt ini hukumnya haram. Semua perbuatan haram itu sekaligus dinilai sebagai tindak kejahatan/kriminal yang harus dihukum. Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al Hakim dan al-Baihaqi).

Sebagai kaum muslim yang cerdas sudah seharusnya kita mencegah dan memberantas penyimpangan seksual ini. Harus dimulai dari akarnya yakni dengan mencampakkan ideologi sekuler berikut paham liberalisme, demokrasi dan kapitalisme dengan berupaya mengembalikan aturan Allah agar segera diterapkan.

Islam memberikan solusi preventif (pencegahan) terhadap perilaku menyimpang ini dengan cara : Pertama, Mewajibkan negara untuk terus membina keimanan dan memupuk ketakwaan rakyat. Hal itu akan menjadi kendali diri dan dan benteng yang menghalangi kaum muslim terjerumus pada keharaman. Kedua, Islam memerintahkan untuk menguatkan identitas diri sebagai laki-laki dan perempuan. Ketiga, Islam mengharuskan pemisahan tempat tidur anak-anak baik itu sesama laki-laki ataupun sesama perempuan. Keempat, Islam melarang tidur dalam satu selimut. Kelima, Secara sistemik negara harus menghilangkan rangsangan seksual dari publik termasuk pornografi dan pornoaksi.

Untuk itu, selama sistem kehidupan ini masih diatur oleh demokrasi dan teman-temannya, tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah lgbt secara tuntas. Sebaliknya, sistem ini akan melegalkan kejahatan akibat membiarkan keberadaan mereka. Pencegahan dan pemberantasan lgbt tak bisa dilakukan secara parsial, tapi harus sistemik. Bukan sistem kufur tapi sistem Islam. Tidak bisa perubahan ini dilakukan secara individual juga sebab menyangkut banyak faktor yang saling terkait satu sama lain. Di sinilah pentingnya peran negara untuk menyelesaikan permasalahan lgbt tersebut. Maka, solusi bagi masalah lgbt tidak lain hanya dengan bersegera terapkan syariah kaffah dalam institusi kekhilafahan. Kaum muslim akan tercegah dan bisa diselamatkan dari perilaku tersebut. Kehidupan umat pun akan dipenuhi oleh kesopanan, keluhuran akhlak, kehormatan, martabat, ketenteraman dan kesejahteraan. Maka akan terwujudlah Islam rahmatan lil ‘alamiin di muka bumi.

WaLlahu a’lam bi ash-shawwab

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *