Kausalitas : Bela Kekufuran Timbulkan Kerusakan

Kausalitas : Bela Kekufuran Timbulkan Kerusakan

Oleh : Nazril Firaz Al-Farizi

WWW.POJOKOPINI.COM — Saat ini kasus Covid-19 di Amerika semakin memperkokoh posisinya di puncak “klasemen” dengan perolehan kasus per 2 Juli 2020 sebanyak 2.779.953. Padahal kasusnya sudah konsisten terus menurun sejak 4 April hingga 9 Juni hanya bertambah sebanyak 19.085 kasus baru.

Tetapi dengan adanya kasus rasisme terhadap George Floyd (46) yang diinjak oleh polisi hingga meninggal pada Senin (25/05) memicu demo besar-besaran di berbagai kota di Amerika sejak 26 Mei hingga pekan kedua bulan Juni. Efek dari kerumunan massa berbagai kota hingga berminggu-minggu itu mengakibatkan kasus Covid-19 di Amerika kembali meningkat sejak 10 Juni hingga saat ini.

Peningkatan signifikan terlihat terutama dari 16 Juni bertambah kasus baru sebanyak 25.634, terus meningkat bahkan pada 1 Juli muncul 51.097 kasus baru, tertinggi dari seluruh kasus harian sebelumnya. [Lihat: Worldometers]

Meski para demonstran di Amerika hanya membela perihal masalah kemanusiaan yang dalam hal ini kesetaraan ras atas nama HAM dan Demokrasi sebagai konsep kufur Barat yang berstandar ganda, namun aksi mereka ini justru membuat kerusakan baru, yakni kasus Covid-19 meningkat pesat semakin parah karena mengabaikan protokol kesehatan.

Setelah melihat Amerika seperti itu di Indonesia pun telah terjadi hal serupa dengan topik primer sama namun topik sekunder berbeda. Topik primernya sama yakni mempertahankan eksistensi Kapitalisme sebagai ideologi yang tak disadari untuk ditolak, karena hanya Komunis yang terindera massa. Topik sekundernya menolak RUU HIP sembari membela Pancasila hingga menyebar di berbagai kota dengan banyaknya aksi kerumunan di saat Covid-19 di Indonesia justru sedang berada di puncak dengan kasus harian rata-rata di atas 1000.

Anehnya lagi di saat Covid-19 baru muncul di Indonesia, penguasa menerapkan pembatasan sosial/fisik dari Maret-Mei, tetapi sekarang saat Covid-19 sedang memuncak, pembatasan sosial/fisik justru menjadi longgar bahkan seolah tidak ada. Ini menunjukan kelatahan penguasa karena melihat fakta keberhasilan Italia, Jerman, Spanyol, Vietnam, Thailand, Malaysia, dsbnya yang telah mengakhiri masa pembatasan dan kembali kepada proses aktivitas normal sembari menerapkan protokol kesehatan Covid-19 sehingga akhirnya ikut pula melonggarkan.

Kepentingan para kapitalis menabrak kepentingan sains, hasilnya protokol kesehatan produk sains pun dilanggar dan ditabrak oleh para kapitalis yang memaksakan kehendak agar pembatasan sosial/fisik segera dilonggarkan dan diakhiri. Tidak perduli dengan Covid-19 masih tinggi dan menyebabkan kesehatan masyarakat terancam.

Memang beginilah sifat dan karakteristik dari ideologi Kapitalisme, yakni sebagai mabda individualis yang mementingkan serta mengagungkan kepentingan individu namun mengabaikan kepentingan masyarakat. Negara hanya sekedar dijadikan sarana dalam melancarkan kepentingan Kapitalis, bukan tujuan untuk mengurus masyarakat. [Taqiyuddin An-Nabhani, Nidzamul Islam, hal. 29]

Maka harus dipahami dan didudukan dalam peristiwa ini bahwa terdapat hadharah ternilai (dalam hal ini ideologi Kapitalisme) yang tidak sejalan dengan hadharah bebas nilai (dalam hal ini sains seputar Covid-19 dan protokol kesehatannya).

Itu kerusakan pertama. Kerusakan kedua, karena sudah merasa longgar dalam pembatasan sosial/fisik akibat kepentingan Kapitalis mendorong rezim berhasil menabrak kepentingan sains, maka umat islam dengan semangatnya menggebu-gebu menolak RUU HIP di berbagai kota dalam beberapa hari ke belakang ini sembari membela kekufuran Pancasila dan Nasionalisme. Begitu lantang menolak Komunis yang telah tutup eksistensi pada 1991 di kancah konstelasi politik internasional, tetapi hampir tidak ada suara menolak Kapitalisme yang nyata eksis di dalam masyarakat, kelompok dan negara dengan asas aqidah sekulerismenya.

Jika dikelompokkan mungkin sudah ada 4 kubu yang telah menabrak dan mengabaikan kepentingan sains, diantaranya:

  1. Covidiot Capitalist (kepentingan Kapitalis dalam menyelamatkan elit ekonomi)
  2. Covidiot Hedonist (kepentingan individu dalam menjalankan aktivitas secara bebas/HAM)
  3. Covidiot Spiritualist (membuang sains dan cukup tingkatkan iman kepada Allah)
  4. Covidiot Conspirationist (menganggap Covid-19, data, WHO, rezim, para dokter dan nakes semua berbohong dan berkonspirasi). [Tabloid Media Umat, no. 268]

Kerusakan pertama mungkin ada pada kubu Covidiot Capitalist yang sudah mengawal untuk menabrak kepentingan sains, ditambah kerusakan kedua muncul sebagai akumulasi massa dari Covidiot Hedonist, Spiritualist dan Conspirationist sehingga mereka semua sama-sama mengabaikan kepentingan sains yang dalam hal ini tentang protokol kesehatan dan kondisi kasus Covid-19 yang sedang tinggi, akhirnya tetaplah terjadi aksi menolak RUU HIP di berbagai kota di Indonesia.

Bukankah Rasulullah pun bersabda:

Telah menceritakan kepada kami (Muhammad bin Sinan) telah menceritakan kepada kami (Fulaih bin Sulaiman) telah menceritakan kepada kami (Hilal bin Ali) dari (‘Atho’ bin yasar) dari (Abu Hurairah) radhilayyahu’anhu mengatakan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan?’ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” [HR. Bukhari No. 6015]

Jadi jika melihat semua ini khusus dalam peristiwa Covid-19 dan aksi-aksi kerumunan, begitu banyak akumulasi masalah, mulai dari kepentingan kapitalis, kelatahan dan kedzaliman rezim, kekeliruan masyarakat melihat tentang Covid-19 sehingga muncul berbagai jenis Covidiot, ditambah ketidakjelasan fikrah (ide) dan thariqah (metode) umat Islam dalam menolak RUU HIP karena berbau Komunis yang justru akibat dari tidak jelasnya fikrah dan thariqah itu pula malah menyebabkan kerusakan baru yang tidak sekedar karena membela kekufuran Pancasila dan Nasionalisme, tetapi akan menimbulkan kasus Covid-19 meningkat seperti halnya kejadian di Amerika Serikat. Jadinya Fasad Kuadrat, bukannya mengadakan perbaikan.

Aktivitas umat yang marak saat ini seolah dianggap amar makruf nahi munkar. Padahal yang dibela adalah kekufuran nyata yang sayangnya tidak disadari itu adalah kekufuran akibat dari ketidakjelasan fikrah dan thariqah yang justru menyebabkan kerusakan.

“Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi!’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” [QS. Al-Baqarah: 11-12]

Ditambah lagi pembelaan yang diopinikan umat terhadap Pancasila dan Nasionalisme sama dengan kesyirikan serta kedzaliman. Imam Qatadah rahimahullah dan as-Suddi rahimahullah berkata, “Kerusakan (yang sesungguhnya) adalah perbuatan syirik. Inilah kerusakan yang paling besar.” [Tafsir Imam Al-Qurthubi, 14/40]

Definisi syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Rububiyah dan Uluhiyyah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan syirik Rububiyah adalah menjadikan sekutu selain Allah yang mengatur alam semesta (kehidupan). [Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ad-Daa’wad Dawaa’, hal. 198]

Jenis syiriknya pun tergolong sebagai syirik besar karena syirik dalam hal ketaatan kepada selain Allah. [Basyir Muhammad ‘Uyun, Majmuu’atut Tauhiid, 1/7-8; Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qathani, Nuurut Tauhiid wa Zhulumaatusy Syirki, hal. 73-75]

Syirik pun disebut dzalim karena definisi dzalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dalam hal ini membela kekufuran sistem Kapitalisme Demokrasi, Nasionalisme, Pancasila yang semua itu produk akal manusia yang dianggap hukum pengatur manusia yang sudah berani menggeser hukum Allah sebagai zat satu-satunya yang punya hak prerogatif dalam mengatur manusia, alam semesta dan kehidupan. [Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan, ‘Aqiidatut Tauhiid, hal. 74]

Padahal Allah sudah sangat jelas berfirman:

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu” [QS. Al-Anfal: 24]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya bisa diraih dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya maka dia tidak akan merasakan (kebahagiaan) hidup, meskipun dia masih hidup sebagaimana binatang yang paling hina (sekalipun). Maka hidup bahagia yang hakiki adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin” [Al-Fawaid, hal. 121]

Maka mengapa tidak kembali saja kepada seruan Allah dan Rasul serta hanya menyerukan hukum Allah dan sunnah Rasul saja agar bisa memperbaiki segala kerusakan yang diakibatkan syirik akbar ulah manusia ini? Semoga lekas beralih hanya membela Islam saja agar sistem Kapitalisme Demokrasi ini lekas menemui ajalnya dan semoga kasus Covid-19 di Indonesia tidak meningkat seperti di Amerika Serikat sana dalam waktu 2-3 minggu ke depan. Tetapi jika pun meningkat, pasti Allah telah memiliki rencana dibaliknya. Segala kejadian apapun itu selalu ada ibrah dibaliknya agar kita sadar.[]

_________________________________________

Disclaimer: www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *