Kawin Massal Perguruan Tinggi dengan Industri, Strategi Pendidikan Minim Visi

Kawin Massal Perguruan Tinggi dengan Industri, Strategi Pendidikan Minim Visi

Visi inilah yang seharusnya dimiliki oleh dunia pendidikan negara ini. Visi membangun sebuah peradaban gemilang berlandasakan ketakwaan. Bukan sekadar pencetak generasi pemutar mesin industri para kapitalis rakus.


Oleh: Irma Sari Rahayu

POJOKOPINI.COM — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mendorong upaya “perjodohan” atau kerjasama antara perguruan tinggi dan industri. Menurut beliau strategi ini dinilai penting agar pihak perguruan tinggi dan industri bisa saling terkoneksi dan saling menguatkan, karena kampus bisa menyediakan SDM yang dibutuhkan dunia usaha. Dalam upaya perjodohan ini, pemerintah berperan sebagai pendukung, regulator dan katalis (lensaindonesia.com).

Senada dengan Mendikbud, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi akan melakukan program “pernikahan massal” atarara program studi Vokasi di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Ditektur Jenderal Pendidikan Tinggi Vokasi, Wikan Sakarinto,Ph.D menjelaskan tujuan program ini adalah agar kompetensi sesuai dengan kebutuhan industri dan dunia kerja (kagama.co/26/5/2020).

Minim Visi

Sekilas, terobosan yang yang diusung oleh Kementrian Pendidikan ini adalah strategi yang inovatif dan “beda”. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, ada bahaya tersenbunyi yang mengintai dan tidak disadari oleh pihak akademisi.

Di era industrialisasi saat ini, secara jelas pemerintah mendorong adanya upaya mengarahkan visi pendidikan negeri berorientasi industri.

Tak dapat dipungkiri, masih ada pandangan masyarakat bahwa bersekolah di SMK atau perguruan tinggi vokasi lebih menjanjikan untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan sekolah umum. Pun, kondisi real terjadi, jika sekolah SMU, maka harus kuliah lagi agar bisa kerja. Hanya segelintir masyarakat saja yang mampu, karena biaya kuliah sangat mahal. Dan berapa banyak pula sarjana yang menganggur setelah lulus kuliah. Maka strategi ini dianggap sebagai oase di tengah himpitan kehidupan.

Namun sebenarnya, strategi ini hanya akan menumbuhkan dan menguatkan visi pendidikan ke arah kapitalis liberal. Arah pandang anak negeri hanyalah sekolah dan kuliah, dapat ijazah  dan mendapatkan pekerjaan dan dengan “bargaining” gaji yang lebih baik karena memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh industri. 

Sistem Pendidikan Islam Mencetak Generasi Kaya Visi

Apa yang terpampang di depan mata saat ini adalah realita kehidupan kapitalis liberal yang semakin mencengkram kaum muslimin. Pemikiran pragmatis sekolah untuk mendapat kerja begitu kuat tertanam dalam masyarakat. Alhasil, generasi bangsa hanya dididik sebagai mesin-mesin pemutar roda industri dan bisnis para kapitalis. Keuntungan yang diraih oleh kedua belah pihak, yaitu pendidikan dan industri adalah omong kosong. Tetap saja yang mendapat keuntungan terbesar adalah kaum pebisnis.

Tanpa disadari, kaum intelektual saat ini tengah digiring untuk arah pandang bisnis. Visi sebagai akademisi unggul yang inovatif, berdaya guna bagi bangsa dan negara telah terkikis. Kalaupun melakukan riset, maka akan dihitung untung rugi dari hasil risetnya. Alhasil, kaum intelektual yang tercetak saat ini bagaikan mesin-mesin pemutar roda kapitalis.

Sistem pendidikan Islam telah nyata mencetak generasi-generasi unggulan yang kaya visi dunia juga akhirat. Sistem pendidikan berlandaskan akidah Islam mampu membentuk karakter generasi cemerlang yang bersyakhsiyah Islam. Baginya, tujuan hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Statusnya sebagai hamba telah mendorong perbuatannya senantiasa terikat dengan aturan-Nya.

Ilmuwan-ilmuwan Islam telah mendedikasikan hidupnya untuk kemaslahatan umat. Negara pun menyadiakan berbagai fasilitas yang mendorong mereka untuk terus bekarya. 

Sebutlah Abbas ibnu Firnas. Melalui temuannya, yang disempurnakan oleh Wright bersaudara, kita bisa mengenal industri pesawat. Atau Ibnu Sina yang kitab-kitab medisnya menjadi rujukan fakultas-fakultas kedokteran di dunia. Banyak lagi ilmuwan muslim yang hasil karyanya menjadi inspirasi teknologi dunia saat ini.

Maka visi inilah yang seharusnya dimiliki oleh dunia pendidikan negara ini. Visi membangun sebuah peradaban gemilang berlandasakan ketakwaan. Bukan sekadar pencetak generasi pemutar mesin industri para kapitalis rakus.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *