KDRT Meningkat saat Pandemi Menguat

KDRT Meningkat saat Pandemi Menguat

Semua masalah yang timbul dari solusi parsial yang melahirkan masalah baru adalah masalah sistemik yang saling berkaitan antar satu dengan yang lain.


Oleh: Rajni Fadillah, S. Pd (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Pandemi Covid-19 menciptakan kekhawatiran dunia dalam segala hal, sebab penyebarannya yang begitu cepat. Bukan hanya soal terinfeksi, namun kekhawatiran ekonomi, sulitnya finansial dan ditutupnya lapangan pekerjaan. Banyak dari negara Eropa yang menerapkan kebijakan lockdown untuk mencegah pandemi ini khawatir hal ini akan berpotensi menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga.

Di Tiongkok, jumlah laproan terkait kekerasan terhadap perempuan meningkat tiga kali lipat selama masa lockdown. Sedangkan di Spanyol, pekan lalu seorang perempuan tewas akibat aksi KDRT pasangannya. (jpnn.com, 28/03/20).

Meningkat nya KDRT di tengah pandemi Corona dipicu oleh stres yang timbul akibat isolasi sosial Sehingga terjadinya ketegangan dan depresi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor :

Pertama, dibatasinya ruang gerak atau disebut social distancing yang di berlakukan oleh negara tanpa dibarengi edukasi dan penguatan akidah. Sebab menjaga jarak di saat wabah melanda hanya akan mampu dilakukan dengan sabar dan penuh kesadaran jika di dorong oleh kekuatan akidah, karena ini bukan hanya perkara sadar tapi juga perkara keimanan.

Sehingga masyarakat akan sadar jika mereka tidak menjaga jarak ada dua kemungkinan: dia akan terinfeksi atau menginfeksi orang lain. Maka jika ia yang menginfeksi orang lain karena kecerobohannya, ia sadar bahwa ini akan dihisab oleh Allah. Pendekatan ruhiyah inilah yang tidak dilakukan oleh sistem hari ini Sehingga membuat masyarakat tertekan dan stres menghadapi pandemi.

Kedua, Selain keterbatasan gerak, ketakutan terkait lapangan kerja dan kesulitan finansial juga dapat meningkatkan potensi konflik. “Masalah-masalah tersebut menciptakan tekanan besar di dalam rumah tangga,” ini dikarenakan negara abai dan lepas tangan dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat selama pandemi.

Bagi mereka masyarakat miskin hal ini benar-benar sulit, jika terus di rumah tanpa bekerja maka tidak ada makanan yang bisa mereka makan. Namun jika tetap keluar, kemungkinan terinfeksi akan semakin besar. Hal ini lah yang membuat masyarakat tertekan dan stres. Karena masyarakat dunia jauh dari aturan Islam dan ruh keimanan maka cara pelampiasan rasa kesal dan tertekan dengan melakukan tindak kekerasan di ranah domestik.

Semua masalah yang timbul dari solusi parsial yang melahirkan masalah baru adalah masalah sistemik yang saling berkaitan antar satu dengan yang lain. Dan yang menjadi puncak kesalahan terbesar adalah sistem politik Demokrasi Kapitalis yang rusak dalam mengelola tatanan kehidupan sehingga melahirkan aturan tumpang tindih dan masyarakat lah yang menjadi korban.

Jadi masalah corona, KDRT dan masalah lain nya hanya akan selesai dengan solusi sistemik pula, tidak bisa solusi parsial. Maka harus ada sistem yang benar dan adil dalam mengelola tatanan kehidupan agar problem dunia mampu diselesaikan. Dan hanya ada satu sistem yang benar yaitu sistem pemerintahan Islam yang berasal dari Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya dan yang paling tahu apa yang sesuai untuk makhluk-Nya. Hanya Islamlah yang mampu menuntaskan masalah Corona, KDRT, kemiskinan, dan masalah lainnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *