Kebebasan Berpendapat Terbungkam dalam Khilafah?

Kebebasan Berpendapat Terbungkam dalam Khilafah?

Penguasa terikat dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Bahwa mereka memerintah dalam rangka menjalankan syariat Allah. Yang mana, mereka ditugasi untuk mengurusi segala urusan rakyat. Maka segala masukan dipandang sebagai perkara yang dibutuhkan untuk kesempurnaan menjalankan amanah.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Ada yang mengkhawatirkan Islam akan sama dengan komunis, membatasi kebebasan berpendapat. Sehingga banyak orang merasa cukup puas berada di dalam sistem demokrasi yang katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia ini.

Tapi ternyata dalam alam demokrasi, berpendapat itu tidak selamanya bebas. Buktinya ada yang melarang radikalisme dan ekstremisme, yang pada praktiknya sering dihadangkan ke depan umat Islam. Berarti ada satu standar nilai tertentu yang dianut dalam negara demokrasi.

Tidak pernah kita mendapati ada larangan atheisme di dalam negara demokrasi. Faktanya ide sosialisme juga tetap dikaji dan bahkan diterapkan di sebagian negara penganut demokrasi. Agaknya yang paling penting dalam negara pengadopsi paham politik Yunani kuno reborn ini, agama jangan pernah ikut campur dalam mengatur negara.

Negara komunis memang sudah terkenal anti kritik dan otoriter. Penguasanya memaksakan suatu kebijakan yang sering tidak sesuai dengan fitrah manusia, terhadap rakyat dengan kekuatan militer. Rakyat bisa jadi akan patuh, tetapi secara naluriah tertekan. Mencoba mengeritik penguasa sama artinya dengan menyabung nyawa.

Islam justru berada di tengah-tengah. Islam tidak membelenggu sama sekali kebebasan berpendapat. Tidak pula membebaskannya secara gebyah uyah. Tetapi menatanya agar tetap berada dalam kerangka adab yang sesuai dengan syariat Islam. Dalam Khilafah, yang tidak boleh itu adalah menyebarkan pendapat sesat yang tidak sesuai dengan hukum syara’.

Penyampaian pendapat tidak dilarang selama disampaikan dengan cara yang makruf atau dibenarkan oleh syariat. Hanya saja, Khilafah nanti mengatur saluran untuk menyampaikan pendapat. Muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) dilakukan lewat melalui mejelis umat atau secara langsung kepada pemimpin yang bersangkutan.

Karena jalurnya tidak mandeg, maka penyampaian pendapat dapat dilakukan secara langsung. Dan segera ditangani karena ini memang komitmen pemimpin di dalam Islam. Jadi tidak perlu melalui media. Oleh karena itu, media dalam Islam media hanya sebagai sarana untuk menyampaikan informasi dan menyebarluaskan kebaikan ajaran Islam saja.

Apakah alasan kita bisa begitu yakin, bahwa dalam Khilafah, pemimpin itu akan sedemikian baik responsnya? Dalam Khilafah, para penguasa dan rakyat terus dibina dengan aqidah Islam. Khilafah membangun suasana ketaqwaan, sehingga setiap orang sadar akan tanggung jawabnya. Penguasa terikat dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Bahwa mereka memerintah dalam rangka menjalankan syariat Allah. Yang mana, mereka ditugasi untuk mengurusi segala urusan rakyat. Maka segala masukan dipandang sebagai perkara yang dibutuhkan untuk kesempurnaan menjalankan amanah.

Terlihat berbeda ya, dengan realita dalam sistem demokrasi hari ini. Di mana tidak semua pemimpin serius mengurusi rakyat. Banyak yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan kelompoknya saja. Karena sistem demokrasi ini berbiaya mahal serta sudah meminggirkan iman dan taqwa. Tersebab agama tidak diizinkan ikut campur mengatur kehidupan.

Jadi, Islamlah yang lebih baik dalam mengatur tata kehidupan manusia. Termasuk dalam mengelola cara rakyat menyampaikan pendapat. Aturan Islam, karena berasal dari Allah, maka pasti sesuai dengan fitrah dan memuaskan akal. Sehingga syariat Islam itu menenteramkan. Maka sudah jelas hari ini kita butuh Khilafah yang mengatur kita dengan aturan yang bersumber dari Sang Pencipta. So, mari perjuangkan lewat jalan dakwah![]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *