Kegemilangan Integrasi Sosial dalam Peradaban Islam

Kegemilangan Integrasi Sosial dalam Peradaban Islam

Jika Amerika dan Barat dengan peradaban modernnya masih berkutat dengan rasisme maka perkara ini telah selesai di dunia Islam 14 abad yang lalu. Setidaknya terdapat empat faktor yang menjadikan Islam mampu mengintegrasikan kehidupan sosial yang beraneka ragam tersebut menjadi umat yang satu yaitu umat Islam.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Melansir dari cnnindonesia.com 1/6/2020 CEO Apple, Tim Cook mengecam insiden kematian George Floyd akibat kekerasan oleh anggota kepolisian Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat. Dalam surat tersebut, Cook mengutuk pembunuhan itu dan menyerukan agar menciptakan dunia yang lebih baik, lebih adil bagi semua orang.

Cook mengakui ketidakadilan rasial ada di AS, termasuk dalam sistem peradilan pidana serta dari ketidaksetaraan ekonomi dan kesenjangan dalam peluang pendidikan. “Tidak ada satupun kelompok masyarakat yang bisa kita banggakan jika belum bisa menjamin kebebasan akan rasa takut bagi setiap orang yang memberi negara ini cinta, tenaga dan menjalani hidup mereka,” tulis Cook.

Jika ini realitasnya mengapa seisi planet ini begitu bangga dengan Kapitalisme? Dimana rasa malu Amerika sebagai kampiun demokrasi yang paling getol meneriakkan hak asasi di seluruh dunia? Jika urusan rasial di dalam negerinya saja tidak pernah selesai, mengapa adidaya itu menyibukkan dirinya dengan mengatur dunia. Mengapa tak belajar dari seorang Malcolm X tentang pengalamannya bersentuhan dengan integrasi sosial yang sempurna dalam sistem Islam?

Amerika perlu memahami Islam, karena ini adalah satu agama yang menghapus ras dari masyarakatnya. Sepanjang perjalanan saya di dunia Muslim, saya telah bertemu, berbicara, dan bahkan makan dengan orang-orang yang jika di Amerika akan dipertimbangkan oleh mereka yang Putih-tetapi sikap mereka yang Putih itu dihapus dari pikiran mereka oleh Islam. Saya belum pernah melihat persaudaraan yang tulus dan benar dengan semua warna bersama, terlepas dari warna mereka.” (Malcolm X, “Letter from Mecca”)

Apa yang disampaikan Malcolm adalah sebuah realitas. Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau telah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar. Mengikat perjanjian dengan Yahudi dan Ahlu dzimmah. Mendudukkan mereka setara sebagai warga negara daulah Islamiyah. Mereka mendapat perlindungan dan hak yang sama dalam muamalah bersama kaum Muslim.

Ketika Rasulullah SAW wafat, seluruh jazirah Arab telah berhasil dibebaskan kemudian disatukan dalam pangkuan Islam. Pada masa Khulafaurrasyidin, pembebasan demi pembebasan terus berlanjut. Irak yang penduduknya sangat heterogen: terdiri dari kaum Nasrani, Mazdak dan Zoroaster dengan etnis Arab maupun Persia berhasil di taklukkan.

Sementara Persia juga memiliki penduduk yang sangat heterogen, terdiri dari orang-orang `Ajam, minoritas Yahudi dan Romawi dan memeluk agama bangsa Persia juga berhasil dibebaskan. Syam, yang merupakan wilayah Romawi, dengan tradisi Romawi dan beragama Kristen dengan penduduknya yang juga sangat heterogen; terdiri dari bangsa Suriah, Armenia, Yahudi, minoritas etnis Romawi dan Arab juga berhasil di taklukkan.

Adapun Mesir, tak kalah heterogennya dibanding wilayah sebelumnya. Penduduknya terdiri dari bangsa Mesir, minoritas Yahudi dan Romawi, pun berhasil dibebaskan. Afrika Utara yang terkenal dengan bangsa Barbarnya, dan dibawah kekuasaan Romawi juga berhasil dibebaskan.

Pasca Khulafa` Rasyidin, datanglah era Khilafah Umayah. Mereka berhasil membebaskan Sind, Khawarizm dan Samarkand. Demikian pula Spanyol berhasil dibebaskan. Wilayah-wilayah ini kemudian diintegrasikan ke dalam daulah Islamiyah. Negeri-negeri ini memiliki kekayaan suku, bahasa, tradisi, bangsa dan agama. Menyatukan mereka bukanlah perkara yang mudah, namun Islam mampu melakukan semuanya. Ini adalah bukti bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang gemilang.

Jika Amerika dan Barat dengan peradaban modernnya masih berkutat dengan rasisme maka perkara ini telah selesai di dunia Islam 14 abad yang lalu. Setidaknya terdapat empat faktor yang menjadikan Islam mampu mengintegrasikan kehidupan sosial yang beraneka ragam tersebut menjadi umat yang satu yaitu umat Islam.

Pertama, perintah Islam. Islam mengharuskan pemeluknya untuk mengemban Islam, mengemban dakwah Islam dan menyebarkan hidayah dengan sekuat tenaga. Ini mengharuskan dilakukannya jihad untuk membebaskan negeri-negeri dan mendakwahkan Islam didalamnya. Mereka dapat memilih, jika menghendaki Islam mereka bisa memeluknya, jika tidak mereka tetap dalam aqidahnya dengan tetap tunduk kepada hukum Islam dalam urusan muamalah dan uqubah.

Mereka, baik muslim maupun ahlu dzimmah memiliki kedudukan dan hak yang sama sebagai warga negara. Tidak dikenal istilah minoritas atau menjadi warga negara kelas dua. Semua diperlakukan sama di mata hukum dan diperintah dengan pandangan kemanusiaan bukan berdasarkan agama apalagi ras dan warna kulit.

Kedua, interaksi unik antara kaum Muslim sebagai pembebas dengan penduduk yang dibebaskan. Ini menjadi faktor yang paling besar pengaruhnya bagi integrasi bangsa-bangsa yang dibebaskan kedalam daulah Islamiyah. Hal ini karena kaum Muslim akan tinggal dan hidup berdampingan dengan bangsa yang dibebaskan, mengajari mereka tentang Islam, memahamkan hukum-hukumnya.

Mereka bahu membahu dalam segala urusan. Mereka tidak terdikotomi menjadi dua kelompok; antara yang membebaskan dengan yang dibebaskan, yang menang dan yang kalah. Namun mereka berbaur menjadi masyarakat yang satu, sebagai rakyat suatu negara, negara Khilafah Islamiyah.

Ketiga, masyarakat yang dibebaskan akan melihat sebuah realitas yang berbeda pada diri pejabat Khilafah, hal yang belum mereka kenal sebelumnya. Sikap egaliter para pejabat yang melayani kebutuhan dan kepentingan mereka dengan sebaik-baik pengurusan. Akhirnya, mereka pun menunjukkan cinta mereka kepada para pejabat yang amanah tersebut.

Mereka melihat pengaruh Islam pada diri para penguasa, hal ini mendorong integrasi berlangsung semakin cepat dan mudah. Demikian pula penerapan Islam secara praktis telah membuka mata mereka tentang keadilan dan perlindungan Islam yang tak mereka dapatkan dari penguasa mereka sebelumnya. Hal ini mendorong mereka untuk berbondong-bondong menyatakan keislamannya.

Keempat, telah terjadi perubahan yang signifikan pada diri masyarakat yang dibebaskan setelah mereka memeluk Islam. Hal ini karena Islam telah mengangkat akal mereka pada posisi yang tinggi dan mewujudkan akidah Islam sebagai jalan hidup. Jadilah kehidupan mereka dipenuhi oleh ketenangan dan ketenteraman.

Dengan keempat faktor inilah, bangsa-bangsa yang heterogen itu berhasil disatukan dalam satu panji selama 14 abad. Sebuah prestasi gemilang yang masih menjadi mimpi bagi kapitalisme maupun sosialisme di peradaban ini.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *