Kekerasan Seksual Kian Marak, Peraturan tak Berdampak

Islam akan melakukan dua upaya untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu upaya preventif dan kuratif. Upaya preventif adalah mencegah agar semua bentuk kejahatan tidak terjadi. Sedangkan upaya kuratif adalah dengan memberikan sanksi yang tegas apabila kejahatan itu tetap dilakukan.


Oleh : Ummu Balqis (Ibu Pembelajar)

POJOKOPINI.COM — Angka kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan Pendidikan semakin meningkat. Sebagaimana yang dimuat dalam Kompas.com (24/7/2022), “Menurut data Komnas Perempuan terkait kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dalam rentang waktu 2015-2021, terdapat 67 kasus kekerasan seksual. Perguruan tinggi sebagai penyumbang kasus terbanyak. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, menyebutkan setidaknya sepanjang Januari-Juli 2022, terdapat 12 kasus kekerasan seksual di sekolah. Sebanyak 25 persen di antaranya terjadi di dalam wilayah kewenangan Kemendikbudristek dan 75 persen di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kementerian Agama“.

Beragam kasus kejahatan seksual di lingkungan Pendidikan akhirnya menyita perhatian Kementrian Agama (Kemenag) dengan menerbitkan berbagai macam aturan untuk menyelesaikan masalah ini. Menurut yang dirilis www.kemenag.go.id (13/10/2022),
Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan pada Kementerian Agama. PMA No 73 tahun 2022 ini ditandatangani oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada 5 Oktober 2022 dan mulai diundangkan sehari setelahnya. PMA ini, mengatur bentuk kekerasan seksual mencakup perbuatan yang dilakukan secara verbal, nonfisik, fisik, dan/atau melalui teknologi informasi dan komunikasi. Ada setidaknya 16 klasifikasi bentuk kekerasan seksual, termasuk menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender korban.

Sebagaimana yang dimuat dalam kompas.com (14/10/2022), Kementerian Agama (Kemenag) akan memberikan sanksi kepada satuan pendidikan atau sekolah di bawah Kemenag jika tidak melakukan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lembaganya. Dalam aturan, sanksi yang diberikan adalah sanksi administratif, berupa teguran lisan, peringatan tertulis, penghentian bantuan, pembekuan izin, hingga pencabutan tanda daftar satuan pendidikan. Sanksi administratif dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggarannya.

Aturan tak Berdampak

Aturan yang akan diterapkan untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual di dunia Pendidikan khususnya di bawah kemenag tidak akan berdampak dan tidak akan menyelesaikan permasalahan secara tuntas. Aturan-aturan yang dirancang berupa sanksi administratif bagi instansi Pendidikan yang tidak bisa menangani kekerasan seksual tidak menyentuh akar permasalahan.

Banyak hal yang memicu terjadinya kekerasan seksual, seperti tontonan pornografi yang sangat mudah diakses oleh semua kalangan. Bahkan anak-anak di bawah umur pun kapan dan dimana saja bisa mengaksesnya, sehingga dengan tontonan itu akan membangkitkan syahwat dan akan melampiaskan kepada lawan jenisnya.

Dampak dari tontonan pornografi sangat besar, seorang ayah tega menyetubuhi anaknya hingga hamil, seorang guru melecehkan muridnya, seorang ustadz menggauli santrinya, sesama pelajar melakukan perzinahan dan kasus-kasus kekerasan seksual laiinnya merupakan pemandangan yang biasa dalam kehidupan saat ini. Sungguh sangat memprihatinkan.

Selain itu, sistem pergaulan liberal (serba bebas) sangat meberikan peluang terjadinya kekerasan seksual. Budaya pacaran di kalangan pelajar sesuatu yang biasa. Berpakaian ala barat, menampakkan aurat salah satu penyebab terpancingnya syahwat lawan jenis, sehingga muncul keinginan untuk berbuat “nakal” terhadap mangsanya.

Di satu sisi pemerintah punya keinginan yang besar untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual, tapi di sisi lain, pemerintah membuka pintu terjadinya kejahatan ini. Oleh karena itu, selama akar persoalan tidak diselesaikan, karena masih diterapkan sitem kehidupan liberal, maka aturan-aturan apapun tidak akan berdampak.

Seksual Cara Islam Menyelesaikan Kasus Kekerasan Seksual

Islam adalah agama yang sempurna yang diturunkan Allah SWT kepada seluruh manusia. islam bukan sekedar agama yang hanya mengatur ibadah mahdhah saja, malainkan Islam mampu menyelsaikan setiap permaslahan kehidupan, termasuk masalah kekerasan seksual.

Islam menyelesaikan pemasalahan dengan melihat akar permasalahan dari setiap kasus yang terjadi. Dalam kasus kekerasan seksual, islam memandang penyebab utama terjadinya kekerasan seksual adalah karena sitem kehidupan liberal yang tidak diatur dengan syariat. Maka dari itu, dalam islam tidak akan diberikan kebebasan terhadap masyarakat untuk berbuat sesuka hatinya.

Islam akan melakukan dua upaya untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu upaya preventif dan kuratif. Upaya preventif adalah mencegah agar semua bentuk kejahatan tidak terjadi. Sedangkan uapaya kuratif adalah dengan memberikan sanksi yang tegas apabila kejahatan itu tetap dilakukan.

Adapun dalam upaya preventif, islam melarang melihat aurat lawan jenis, maka setiap fasilitas tontonan yang menampakkan aurat akan di tutup dan dilarang. Wajib bagi muslim menutup auratnya dengan sempurna, baik laki-laki maupun perempuan. “Wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab: 59).

Islam mewajibkan gadhul bashar (menundukkan pandangan) ketika melihat aurat lawan jenis. “Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31).

Islam juga mengharamkan khalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Islam melarang ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan) tanpa ada hajat yang syar’i. Semua aktivitas yang mendekati zina dengan tegas dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32).

Sedangkan upaya kuratif, maka Islam akan memberikan sanksi yang tegas apabila melakukan perbuatan yang telah diharamkan. Adapun Islam memberikan sanksi yang keras bagi pelaku zina yaitu dengan 100 kali cambuk bagi yang belum menikah dan sanksi rajam sampai mati bagi yang sudah menikah. “Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.” (QS. An-nur:2).

Begitupun dalam kasus pemerkosaan, Islam akan memberikan sanksi kepada pelaku pemerkosa sebagaimana sanksi orang yang berzina, 100 kali cambuk bagi yang belum menikah dan rajam sampai mati bagi yang sudah menikah. Sedangkan pihak korban tidak diberikan sanksi. Seluruh fuqaha sepakat perempuan itu tak dijatuhi hukuman zina (had az zina), baik hukuman cambuk 100 kali maupun hukuman rajam. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkan dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al An’am: 145).

Dalam kasus pelecehan seksual/pencabulan, perbuatan-perbuatan yang melanggar kesopanan seperti bercumbu ditempat umum, membuka aurat, menari yang mengundang syahwat dan perbuatan lainnya, Islam memberikan sanksi berupa takzir, yaitu berupa jilid atau kurungan penjara sesuai dengan ijtihad Khalifah (Abdurahman, ahmad, Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian dalam Islam, hal:263).

Dengan aturan-aturan yang bersifat preventif dan kuratif ini, maka sedikit sekali peluang terjadinya kasus kejahatan seksual. Oleh karena itu, upaya pencegahan dengan penerapan aturan dan sanksi yang tegas akan mampu menyelesaikan kasus kekerasan seksual. Semua ini hanya mampu diterapkan apabila negara menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Wallahu a’lam.[]

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.