Kekuasaan di Tangan Umat

Kekuasaan di Tangan Umat

Jangan meremehkan kekuatan umat. Karena sesungguhnya kekuasaan adalah milik umat. Bila umat berani menunjukkan sikapnya yang menolak sistem demokrasi -karena dorongan kesadaran dan ideologi Islam- bukan sekadar karena ingin calon yang didukungnya naik atau karena bosan sengsara- maka mereka akan sungguh-sungguh berjuang.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Mencermati dalam sebuah diskusi Muslimah, seorang peserta bertanya seperti ini :

Memperhatikan berbagai kebijakan pemerintah saat ini, benar-benar membuat rakyat pupus harapan. Jangankan untuk membahagiakan untuk tidak menyusahkan saja sulit rasanya untuk berharap. Di tengah pandemi negara semakin menjadi mengeluarkan berbagai kebijakan yang agaknya tambah menyengsarakan rakyat, ironisnya untuk melegitimasi seluruh kebijakannya berlindung di bawah payung wabah. Rakyat mulai sadar dan tidak terima. Namun apa daya, nah bagaimana caranya agar suara rakyat ini bisa meruntuhkan kekuasaan sistem kapitalis dan kembali kepada sistem Islam?

Saya juga merasakan hal sama dengan penanya. Kondisi di tengah pandemi ini sangat menumbuhkan kerinduan yang dalam pada sosok khalifah. Bagaimana tidak. Khalifah akan semaksimal mungkin mengerahkan dengan segenap kesungguhannya dalam meriayah rakyat. Menjadikan diri sebagai khadimah ummah. Umat mana yang tak bahagia. Urusan hidup diselesaikan menurut syariat. Bahkan semua itu tercatat sebagai amal shalih. Penguasa telah menerapkan hukum-hukumNya. Rakyat terurusi hajat hidupnya dengan syariat.

Tentu sangat jauh dari kepentingan pribadi dan golongan penguasa. Bahkan sedihnya ternyata penguasa dalam demokrasi hanya sekongkol dengan para kapital/pemilik modal. Itu terjadi di seluruh negeri penganut demokrasi.

Apalagi di tengah pandemi begini. Di saat umat harusnya dapat melewati masa pandemi dengan aman secara ekonomi, juga terjaga kesehatan dan nyawanya. Namun sayang, demi menjaga keselamatan para pemodal rakyat harus memutar roda ekonomi atas nama new normal.

Sungguh kita rindu khalifah Umar bin Khaththab, Umar bin Abdul Aziz dan khalifah-khalifah lainnya. Kepemimpinan yang mengedepankan keimanan. Tunduk dan taat di depan syariat. Pandemi meluas ibarat api yang membakar. Seharusnya lockdown (karantina) sebagai jalan. Juga pemisahan yang sakit dari yang sehat. Hingga hanya yang sehat yang boleh beraktivitas. Inilah syariat yang masyhur dan mumpuni menghentikan wabah.

Renunganku tersentak dan mengembalikanku pada pertanyaan peserta tadi. Beginilah jawaban guru kami:

Jangan meremehkan kekuatan umat. Karena sesungguhnya kekuasaan adalah milik umat. Bila umat berani menunjukkan sikapnya yang menolak sistem demokrasi -karena dorongan kesadaran dan ideologi Islam- bukan sekadar karena ingin calon yang didukungnya naik atau karena bosan sengsara- maka mereka akan sungguh-sungguh berjuang.

Mereka menuntut sistem Khilafah ditegakkan tanpa imbalan materi dan siap berkorban serta tanggung risiko perjuangan. inilah makna adanya opini umum yang dilandasi kesadaran umum. Ini akan menjadi kekuatan politik umat yang tak terbendung. Ini modal segera tegaknya sistem Khilafah.

MasyaAllah penjelasan ini membawaku terbang 14 abad yang silam. Masa di mana Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam berdakwah dan berjuang. Tetap teguh dalam dakwah walau perlawanan, ancaman dan siksaan menghujam. Perjuangan dengan dakwah pemikiran, politik, tanpa kekerasan telah mengantarkan pada nusyrah-Nya. Hingga berhasil mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat Islam, dengan tegak daulah Islam di Madinah.

Keberhasilan itu begitu terpatri dalam benak generasi kaum Muslimin. Kemenangan yang pasti terjadi, dengan syarat tertentu. Yaitu tetap sabar dan istiqamah menempuh jalan dakwah nabi. Mengikutinya tanpa tapi maupun nanti. Mencontoh Nabi dan tak menyelisihi walau seujung rambutpun. Inilah pasukan pengubah yang tak mudah goyah. Takkan terbeli oleh sekerat tulang dunia yang hina. Karena di depannya jalan itu begitu jelas dan nyata. Jalan perjuangan menuju peradaban cemerlang.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *