Keluarga Berkah dengan Syariat Kafah

Keluarga Berkah dengan Syariat Kafah

Oleh : Sriyanti
Ibu Rumah Tangga

WWW.POJOKOPINI.COM — “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada wanita.” (HR. Muslim : 3729)

Ini adalah salah satu dalil yang menjadi sandaran agar berbuat baik terhadap wanita. Namun faktanya bagaimana nasib kaum Hawa saat ini?

Kasus kekerasan terhadap perempuan seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual masih menjadi permasalahan sosial di Jabar.

Dilansir oleh Kesatu.co (13/02/2020) Koordinator program SAPA Institute, Dindin Syarifudin menyebutkan, dari 294 data pelaporan kekerasan terhadap perempuan yang diterimanya, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual (KS) terjadi di Jabar.

Sapa Institut mencatat sebanyak 115 kasus KDRT, 79 kekerasan seksual, 67 trafficking, dua kasus kekerasan tenaga kerja wanita dan beberapa kategori lainya,” ucap Dindin di Aula Kantor Pikiran Rakyat, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Kamis (13/2).

Lebih lanjut, kasus KDRT di Jabar paling banyak terjadi di wilayah Kabupaten Bandung. Tak tanggung-tanggung hampir setengah jumlah laporan ke SAPA Institute didominasi di wilayah tersebut.

Miris, itulah potret yang menimpa keluarga muslim saat ini. Dimana wanita/anak yang seharusnya kemuliaan, kesucian dan keamanannya terjaga, justru banyak yang menjadi korban kekerasan bahkan dilakukan oleh keluarganya sendiri.

Lemahnya posisi wanita/anak dalam keluarga dari segi fisik, finansial dan pendidikan kerap dituding menjadi penyebab kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun sebenarnya tidak demikian. Hal tersebut hanya anggapan dari kaum feminis saja yang selalu menuntut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Padahal lebih dari itu, minimnya keimanan dan jauh dari agama dalam sebuah keluarga adalah penyebab utama terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Ketakwaan dan keimanan merupakan rem yang paling efektif bagi individu untuk tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Namun di alam sekuler demokrasi dan liberal seperti sekarang hal tersebut justru dipisahkan, bahkan peran agama khususnya Islam untuk mengatur berbagai aspek kehidupan tidak difungsikan. Termasuk yang mengatur kehidupan rumah tangga. Akibatnya semua komponen keluarga baik itu suami, istri dan anak tidak mengetahui secara jelas mengenai hak dan kewajibannya. Berbagai problem keluarga terutama yang menimpa perempuan pun bermacam-macam. Sehingga kekerasan dalam rumahtangga dan kejahatan seksual pada wanita pun kian meningkat. Hal ini menjadi bukti gagalnya sistem kapitalisme melindungi wanita dan anak-anak.

Diperparah dengan kondisi ekonomi yang sangat buruk secara sistemik. Kemiskinan masih menghantui jutaan masyarakat negeri ini. Lagi-lagi hal ini bermuara pada penyebab yang sama yaitu akibat dari diberlakukannya sistem kapitalisme yang tidak mampu mendistribusikan kekayaan secara merata dan adil di tengah masyarakat. Kekayaan pada akhirnya hanya berputar pada segelintir orang yang memiliki modal (kapital) saja. Akibatnya para kepala rumahtangga pun menjadi kesulitan dalam mencari nafkah dan akhirnya seorang istri yang harusnya mengurusi rumah tangga di rumah, berusaha bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Dari sini muncullah permasalahan demi permasalahan yang menjadi salah satu bibit rapuhnya ketahanan keluarga, seperti perselingkuhan, bekurangnya rasa hormat pada suami karena merasa mempunyai penghasilan sendiri, terlalaikannya kewajiban sebagai ibu juga istri dan lain sebaginya. Stres dalam menjalani rumahtangga karena kesulitan ekonomi yang sistemik ditambah lemahnya keimanan merupakan akibat dari diterapkannya sistem sekularisme yang menjadi salah satu penyebab terjadinya KDRT.

Islam sebagai agama yang paripurna mempunyai seperangkat aturan, termasuk dalam persoalan rumahtangga. Kehidupan keluarga harus selalu dilandasi ajaran Islam agar cahaya Islam bisa menjadi petunjuk dalam kehidupan berumahtangga. Dalam Islam kita mengenal konsep pernikahan sakinah (kedamaian), mawaddah (tenteram), wa rahmah (dan kasih sayang). Tujuannya adalah hidup harmonis dan bahagia dengan syariat Allah Swt. serta berlandaskan pondasi akidah Islam yang mengakar kuat pada setiap anggota keluarga. Sehingga mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga dengan benar.

Suami sebagai kepala keluarga memimpin rumah tangga dengan tegas dan bijak, bukan dengan kasar dan tak tentu arah. Seorang istri mestilah menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya, mengajarkan dan mendidik dengan benar dan baik serta lembut. Mampu mencuri hati anak-anaknya agar menaatinya dalam hal kebaikan.

Dalam ajaran Islam telah jelas ditentukan apa yang menjadi hak dan kewajiban bagi suami maupun istri, keduanya dituntut untuk melaksanakan peranannya masing-masing, sehingga dengan begitu bangunan pernikahan akan berjalan dengan baik. Dalam rangka mewujudkan rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Kewajiban suami adalah menafkahi istri dan anak-anaknya. Pengertian menafkahi dalam arti luas tidak hanya dalam bentuk materi berupa harta saja, tapi juga nafkah batin dan pendidikan agama.

Seorang suami wajib mendidik dan mengarahkan istri dan anak-anaknya untuk terus menaati perintah Allah Swt. dan anjuran Rasul saw. serta melarang dengan tegas segala yang dilarang Allah Swt. dan Rasul saw. Suami atau ayah bukan hanya sebagai mesin ATM yang mengirim uang untuk biaya belanja, pendidikan, dan kebutuhan lainnya. Tapi lebih dari itu, juga sebagai penyelaras kehidupan keluarga antara kehidupan dunia dan akhirat keluarganya menjadi seimbang. Memberi ilmu dan membimbing keluarga, yakni istri dan anak-anak agar tidak menjadi orang yang lemah agamanya.

Seorang istri pun wajib mengingatkan suaminya dengan perkataan yang santun jika terdapat kesalahan yang dilakukan oleh suaminya. Semestinya suami istri saling menasehati jika terdapat kesalahan yang tidak disukai tentu dengan perkataan yang ma’ruf. Hal ini karena sebagai manusia, kita harus senantiasa mengkoreksi diri sendiri terlebih dahulu dan jika terdapat kesalahan pada pasangan alangkah baiknya kita nasehat-menasehati dengan perkataan yang baik.

Dan seyogyanya kita menjadi pasangan yang senantiasa bermanfaat satu sama lain. Saling membantu jika diperlukan bantuan. Nabi saw. bersabda:

“Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku di antara kalian.” (HR. at-Tirmizi)

Itulah gambaran keluarga dalam Islam, yang dalam pelaksanaannya harus terdapat peran negara yang menjadi soko guru bagi ketahanan keluarga. Negara wajib meriayah (mengurusi) masyarakat dengan aturan syariat kafah di berbagai aspek kehidupan, di antaranya:

  • Wajib menciptakan dan memberi kemudahan lapangan kerja bagi para lelaki.
  • Menjamin terpenuhinya kebutuhan tiap individu maupun kolektif masyarakat. Dari sisi sandang, pangan, papan. Pendidikan, kesehatan juga keamanan.
  • Menciptakan iklim kondusif bagi terdidiknya masyarakat baik para lelaki (suami/ayah) maupun perempuan (istri/ibu) untuk memahamkan terkait peran dan tanggung jawab mereka dalam pandangan Islam.

Maka dari itu diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh (kafah) oleh negara adalah satu-satunya solusi yang mengakar bagi masalah KDRT juga persoalan hidup lainnya. Niscaya keberkahan keluarga pun akan didapat, hingga akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Waallahu a’lam bi ash shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *