Kemusyrikan yang Dilestarikan

Kemusyrikan yang Dilestarikan

Oleh : Syifa Putri ( Ummu Warabbatul Bayt ) Kab. Bandung

WWW.POJOKOPINI.COM — Gunung adalah pasak bumi yang Allah ciptakan untuk kemaslahatan manusia. Sudah menjadi tanggung jawab setiap manusia untuk menjaga dan memeliharanya, seperti penghijauan area pegunungan. Sehingga ini adalah ikhtiyar kita, salah satunya agar tidak terjadi longsor dan banjir. Akan tetapi karena tradisi dan budaya dari nenek moyang yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw. seperti ruwatan dengan mengadakan sesajen, suatu ritual persembahan pengorbanan, sembelihan dan sebagainya untuk roh-roh yang dianggap sebagai penunggu, dengan maksud minta tolong kepada (kekuatan gaib) selain Allah, minta keselamatan, dijauhkan dari mara bahaya dan sebagainya, yang itu semua hanya hak Allah. Maka sama dengan membuat tandingan (yang dipercayai menandingi) Allah.

Itulah kemusyrikan/syirik, menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Yaitu mengadakan tandingan terhadap Allah Swt. Maka tingkat dosanya terbesar, bahkan tidak diampuni, bila sampai akhir hayatnya tidak bertobat sebenar-benar tobat. Haram masuk surga bila mati dalam keadaan musyrik (menyekutukan Allah). Seperti firman Allah Swt.


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar. (TQS an-Nisa: 48)
Akan tetapi hal ini masih banyak terjadi di Indonesia, seperti yang terjadi di gunung Manglayang beberapa waktu lalu, dilansir oleh www.galamedianews.com. Untuk kedua kalinya, Gunung Manglayang “diruwat” di Situs Batu Kuda Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Kamis (27/2/2020). Hajatan “Ruwatan Gunung Manglayang, Babakti ka Alam, Babakti ka Lemah Cai” ini ditandai dengan potong kambing, pertunjukan sejumlah seni budaya, penanaman pohon, dan doa bersama.


Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) kawasan Gunung Manglayang bekerjasama dengan 4 RW di Desa Cibiru Wetan wilayah sekitar Situs Batu Kuda, pencinta lingkungan, pegiat seni budaya, Perhutani dan Pemdes Cibiru Wetan.


Sangat menyedihkan sekali, karena ritual-ritual sesajen yang malah didukung penguasa daerah itu, sama dengan menjerumuskan ke neraka, dan bila dananya disedot dari umat maka sama dengan menzalimi.


Kesesatan dan penyesatan itu diberi nama macam-macam, dan atas nama tradisi. Sehingga masyarakat sangat tertipu dengannya namun tidak terasa. Apalagi pada zaman sekuler saat ini, dimana kehidupan dunia dijauhkan dari agama, menjadikan masyarakat sangat minim pemahaman agama, maka hal ini dimanfaatkan para kapitalis, dengan tolak ukurnya adalah keuntungan. Hal ini akan selalu dipelihara sebagai daya tarik tujuan wisata. Padahal di balik semua pelanggaran yang dilakukan akibat kemusyrikan sangat berbahaya, baik bagi kehidupan pribadi ataupun masyarakat, di antaranya:


Pertama, Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah.
Kedua, Allah mengharamkan surga dimasuki oleh orang yang berbuat syirik.
Ketiga, seorang musyrik akan kekal berada di dalam siksa neraka.
Keempat, dosa kesyirikan akan menghapuskan semua pahala amal shalih, betapapun banyak amal tersebut.
Kelima, syirik adalah kezaliman yang paling zalim.
Keenam, syirik merupakan dosa terbesar.
Ketujuh, orang yang berbuat syirik sehingga murtad. Maka menurut ketetapan syariat Islam, dia berhak dihukum bunuh oleh institusi negara. Apabila mereka tidak mau untuk diajak bertaubat.
Kedelapan, amal yang tercampur dengan syirik akan sia-sia dan sirna, sebagaimana debu-debu yang beterbangan disapu oleh angin.
Kesembilan, syirik menghilangkan fitrah seorang hamba.
Kesepuluh, bahaya syirik lebih dikhawatirkan oleh nabi daripada bahaya dajjal.
Kesebelas, menimbulkan rasa khawatir dan hilangnya rasa aman di dunia dan akhirat.
Keduabelas, syirik adalah sebab utama yang mendatangkan murka dan siksa Allah.


Alhasil, kemusyrikan akan mengakibatkan berbagai penderitaan baik di dunia maupun di akhirat. Dalam Islam semua aturan sudah ditetapkan melalui Al-qur’an dan hadis nabi, dan tidak ada satu pun aturan yang luput dari yang diatur di dalam Al-qur’an dan hadis.


Ajaran Islam yang disampaikan oleh baginda Nabi sangat relevan dengan kehidupan manusia. Sehingga manusia mendapat kemudahan dalam menjalani setiap aspek kehidupan. Dalam sejarah sebelum datangnya Islam, masyarakat Makah dan Madinah pada waktu itu memiliki tradisi yang menyimpang, contohnya seperti perbudakan, perdukunan, dan tentunya mereka menyembah patung sebagai proses adat untuk bersyukur, terhadap apa yang mereka dapatkan. Dan setelah datangnya Islam terhapuslah tradisi tersebut.


Dengan melihat pokok-pokok keduanya antara tradisi dan ajaran Islam, sangatlah berbeda dan kalaupun ingin disatukan maka tradisi yang seharusnya mengikuti ajaran Islam. Sungguh fatal kesalahan jikalau Islam yang mengikuti tradisi, karena ajaran Islam adalah ajaran yang dibuat oleh Sang Pencipta, sedangkan tradisi hanya dibuat oleh manusia.


Adanya syariat tidak berupaya menghapuskan tradisi/adat istiadat, Islam menyaring tradisi tersebut agar setiap nilai-nilai yang dianut dan diaktualisasikan oleh masyarakat setempat, tidak bertolak belakang dengan syariat. Sebab tradisi yang dilakukan oleh setiap suku bangsa yang nota bene beragama Islam tidak boleh menyelisihi syariat. Karena kedudukan akal tidak akan pernah lebih utama dibandingkan wahyu Allah Swt. Inilah pemahaman yang esensi lagi krusial yang harus dimiliki oleh setiap muslim.

Keyakinan Islam sebagai agama universal dan mengatur segala sendi-sendi kehidupan bukan hanya pada hubungan transendental antara hamba dan Pencipta, tetapi juga aspek hidup lainnya seperti ekonomi, sosial, budaya, politik dan lain sebagainya. Kadangkala pemahaman parsial inilah yang masih diyakini oleh umat Islam. Oleh karena itu, sikap syariat Islam terhadap adat istiadat senantiasa mendahulukan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan hadis dibanding adat atau tradisi.


Allah Swt. memerintahkan kepada kita untuk berIslam secara kaffah yaitu secara batin dan zahir. Seorang muslim tidak mencukupkan dirinya pada aspek ibadah, tetapi lalai pada persoalan akidah, pun demikian pula sebaliknya memahami akidah tetapi lalai dari sisi ibadah. Seorang muslim juga tidak boleh lalai dalam memperhatikan akhlaknya kepada Allah dan pada sesama manusia. Akhlak kepada Allah inilah yang dibuktikan dengan sikap menerima, menaati syariat Allah dan Sunnah Rasulullah saw. Jika hal ini bisa teraktualisasi pada diri seorang muslim, maka tidak akan kita temukan lagi sikap menolak pada syariat, baik yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya.


Sesungguhnya hal ini hanya akan terwujud, jika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh dalam bingkai daulah Khilafah Islamiyah. Karena hanya dalam daulah, adat dan tradisi secara tegas akan disandarkan pada syariat.
Wallahu a’lam bi ash-shawwab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *