Kerja Sama Vaksin: Jangan Soal Ekonomi

Kerja Sama Vaksin: Jangan Soal Ekonomi

Sepertinya pemerintah tidak mengindahkan pengalaman ini. Agaknya mereka lebih menonjolkan aspek keuntungan berupa alih teknologi dan keuntungan ekonomi dari produksi yang akan dilakukan di dalam negeri.


Oleh: Ayu Syahfitri (Aktivis Muslimah Aceh)

POJOKOPINI.COM — Indonesia lewat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kesehatan, Bio Farma menjalin kerjasama dengan  Sinovac Biotech Ltd, perusahaan vaksin asal China. Pada tahap ini, calon vaksin sudah memasuki uji klinis fase III.  Fase ini melibatkan partisipan sebanyak 500-1000 orang atau 2000 orang.

Sinovac merupakan empat  perusahaan besar dunia yang melakukan pengembangan vaksin Covid-19 tahap akhir. Beragam vaksin telah dikembangkan oleh perusahaan ini. Seperti SARS, flu domestik, maupun flu yang disebabkan virus H1N1.

Meskipun demikian, Indonesia harus berhati-hati. Mengingat pengalaman buruk  perusahaan vaksin China. Pada 2018, lebih dari 200 ribu anak diberikan vaksin difteri, tetanus, dan batuk rejan (DPT) yang cacat yang menyebabkan kelumpuhan dalam beberapa kasus (CNN Indonesia,1/8/20).

Investigasi yang juga dilansir dari South China Morning Post menemukan perusahaan vaksin terkemuka, Changchun Changsheng Biotechnology telah dengan sengaja membuat produk vaksin yang kedaluwarsa. Tidak hanya itu, Changchun Changsheng juga mendapat hukuman karena memalsukan produksi dan catatan pemeriksaan berkenaan dengan vaksin rabies, pada tahun 2018 silam. 

Salah satu perusahaan yang sekarang terlibat dalam uji klinis Covid-19, Wuhan Institute of Biological Products, juga pernah dihukum karena kesalahan prosedur dalam membuat vaksin DPT di tahun 2016 (Kompas, 22/5/20).

Sepertinya pemerintah tidak mengindahkan pengalaman ini. Agaknya mereka lebih menonjolkan aspek keuntungan berupa alih teknologi dan keuntungan ekonomi dari produksi yang akan dilakukan di dalam negeri.

Sekretaris Perusahaan PT Bio Farma Bambang Heriyanto mengungkapkan kerja sama tersebut akan menguntungkan Indonesia. Menurutnya, ada proses transfer teknologi yang dilakukan Sinovac kepada Bio Farma. “Jadi, dari teknologi yang diberikan ke kami, walau nanti mulainya dari downstream baru nanti ke upstream,” ujarnya.

Keuntungan juga dinyatakan pengurus Perhimpunan Alumni dan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (Perhati) Fathan Asaduddin Sembiring. “Industri kesehatan bisa menjadi alternatif penyumbang devisa ke depannya ketika suatu waktu nanti Indonesia sudah menjadi negara service-based economy” (Kompas 5/8/20).

Merupakan tabiat alami bagi negara yang menganut sistem Kapitalisme, mengedepan aspek ekonomi ketimbang kemaslahatan umum. Karena memang slogan termasyhur dalam sistem ini modal sekecil-kecilnya, untung sebesar-besarnya. Maka tidak heran langkah yang diambil kelihatan mengesampingkan kelayakan dan keamanan.

Kebijakan New Normal di masa pandemi ini, agaknya menjadi bukti nyata. Bahwa penguasa lebih mementingkan aspek ekonomi ketimbang keselamatan nyawa manusia. Tidak mengherankan juga dengan kerjasama yang dibuat dengan perusahaan vaksin asal China.

Kerjasama yang dilakukan BUMN dengan  perusahaan vaksin juga patut mendapat perhatian. Jangan sampai menjadi kerjasama swasta yang memonopoli kepentingan umum demi keuntungan segelintir pihak. Apalagi pengembangan vaksin ini membutuhkan banyak biaya. Selama ini pemerintah mengelak bila untuk kepentingan rakyat dengan alasan tidak ada dana dan biaya. Seperti pengelolaan Sumber daya alam (SDA) dan juga Lockdown. Atau menyerahkan urusan rakyat seperti kesehatan kepada pihak swasta (Red: BPJS). Hingga membebani kehidupan rakyat.

Kasus  ibu hamil, anaknya meninggal karena sang ibu tidak bisa membayar tes Swab sebelum proses persalinan membuat kita miris. Kebutuhan pokok, kesehatan yang seharusnya menjadi hak warga negara menjadi barang mewah di negeri Kapitalisme. Sudah watak dari sistem Kapitalisme membisniskan kepentingan umum demi meraup keuntungan.

Sebagai seorang Muslim yang mempercayai Islam adalah problem solving atas setiap masalah. Tentu kita mencari tahu bagaimana Islam memandang hubungan kerjasama  mendapatkan vaksin.  Bagaimana kebijakan Islam terhadap rakyatnya.

Islam bukanlah sekedar agama spirtual mengatur hubungan manusia dengan tuhannya. Tetapi Islam adalah agama yang memancarkan aturan bagi kehidupan manusia. Sistem Islam terbukti berabad-abad mampu memberi solusi bagi kehidupan manusia termasuk urusan wabah dan vaksin. Ketika itu Islam adalah sebuah negara yang menerapkan aturan ilahi.  Rahmatan lil alamin pun mampu dirasakan di setiap penjuru sudut.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala tegaskan, “Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (TQS An-Nahl [16]: 89)

Dalam Islam mewajibkan negara tidak menjadikan faktor keuntungan sebagai pertimbangan utama pengambilan kebijakan. Negara harus berorientasi maslahat umum yakni mendapatkan obat yang tepat dengan memfokuskan pada aspek kelayakan dan keamanan. Bukan aspek keuntungan.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR At Tirmidzi)

Islam juga memandang bahwsannya kesehatan adalah kebutuhan publik.

Sebagaimana dituturkan lisan yang mulia Rasulullah Saw, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari sehat badannya, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari)

Maka dari itu negara harus menjamin kesehatan rakyat dengan gratis atau cuma-cuma. Tidak boleh mengkomersialisasikan kesehatan demi meraup keuntungan. Apalagi menyerahkannya pada pihak swasta. Kesehatan adalah hak setiap warga negara dan wajib ditanggung oleh negara.

Negara Islam  telah mencontohkan bagaimana Islam menanggung urusan  kesehatan masyarakat. Memberikannya secara gratis, memaksimalkan pelayanan terbaik bahkan memberi uang kepada orang yang keluar dari Rumah sakit. Karena sudah berhari-hari tidak bekerja, sehingga tidak memiliki uang.

Islam juga memanfaatkan sains dan  teknologi untuk memfasilitasi riset penemuan obat dan vaksin.

 “Perumpamaan  petunjuk dan ilmu yang Allah SWT mengutusku karenanya seperti air hujan yang menyirami bumi.” (HR Bukhari dari Abu Musa dari Rasulullah Saw.)

Di sejarah Islam kita dapati banyak sekali laboratorium yang dibuat para Khalifah dan donasi-donasi para orang-orang kaya untuk memfasilitasi riset. Maka tidak heran negara Islam atau yang sering disebut Khilafah menjadi cikal bakal penemu vaksin. Bahkan banyak ilmuan yang lahir dimasa Kekhilafahan. Seperti Ibnu Sina yang banyak menghasilkan buku dalam bidang kedokteran. Buku tersebut digunakan di dunia kedokteran sampai abad ke-18.

Para dokter dan medis pun di uji kelayakan mereka. Mereka hanya boleh menangani pasien sesuai bidang mereka. Kalau ada pasien yang meninggal,catatan medis sang dokter akan datang oleh suatu dewan dokter untuk menjalani apakah yang sudah berdiri sesuai standar layanan medik.

Semasa jaman Kekhilafahan Islam dulu, Khalifah al Muqtadir dari Khilafah Abbasiyah memerintahkan investigasi mengapa ada satu pasien yang meninggal dunia ketika diterapi. Ketika diketahui adanya malpraktik seorang dokter, Khalifah mewajibkan semua dokter di Baghdad untuk melakukan uji kompetensi ulang di bawah pengawasan Sinan Thabit, seorang Ketua Dokter Kekhalifahan. Dari 860 dokter yang dites, 160 ternyata gagal (Miller A, 2006). Meski bagi pasien yang meninggal, kematian tidak dia kehendaki secara sadar, bagi yang masih hidup terutama pemangku kebijakan adalah wajib untuk mencari tahu kenapa musibah bisa terjadi, supaya tidak terulang kembali (Ahmad Rusydan Utomo, 2020).

Begitulah Islam mengatur urusan kehidupan manusia terutama dalam di bidang kesehatan. Mengutamakan kemaslahatan umum dan mengesampingkan faktor ekonomi.

Lantas masihkah layak kita ragu dengan apa yang dibawa Islam? Aturan Islam ketika menjadi peraturan dan kebijakan negara, Islam rahmatan lil alamin mewujud menjadi nyata di tengah-tengah kehidupan kita.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *