Ketahanan Pangan bukan Utopi, Begini!

Revolusi Hijau yang dirintis umat Islam telah memungkinkan transfer beragam tanaman berikut teknik menanamnya ke berbagai penjuru dunia Islam. Hingga akhirnya, dunia Islam menguasai beragam komoditas pertanian yang awalnya justru berasal dari peradaban lain (republika.co.id, 19/03/2009).


Oleh: Raihana Hazimah

POJOKOPINI.COM — Sudah menjadi tak asing di telinga, ketika kelangkaan maupun melambungnya harga pangan, kerap terjadi di negeri ini. Termasuk yang masih berjalan adalah tingginya harga cabai rawit merah hingga mencapai Rp 127 ribu sampai Rp 150 per kg, seperti dikutip dari infopangan.jakarta.co.id (20/03/2021). Hal ini disinyalir terjadi akibat dari beberapa faktor, seperti pasokan yang berkurang sebagai dampak gagal panen di sejumlah daerah, juga disebabkan oleh cuaca buruk beberapa waktu ini.

Kementrian Pertanian (Kementan) sendiri sudah menyatakan, telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pasokan dan meredam kenaikan harga cabai rawit ini. Bahkan Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto pun mengatakan bahwa tidak ada impor untuk merespons kenaikan harga cabai yang terjadi 2 bulan terakhir ini (sindonews.com, 15/03/2021).

Namun jika melihat fakta-fakta sebelumnya, seringkali justru imporlah yang menjadi solusi instan ketika terjadi kelangkaan komoditas pangan ataupun untuk menjaga ketersediaan berbagai kebutuhan pokok rakyat. Seperti halnya belum lama ini pihak pengampu negeri mewacanakan akan mengimpor beras hingga 1 juta ton, dengan alasan untuk menjaga stok beras nasional dari para spekulan, di kala para petani di berbagai daerah justru akan panen raya.

Penetapan kebijakan impor ini tentu saja sangat berimbas pada kerugian para petani di dalam negeri. Selain itu juga dapat memicu alih fungsi lahan oleh petani dari komoditas awal ke komoditas lain.

Fakta lain juga disampaikan oleh Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso seperti dilansir dari laman finance.detik.com (22/05/2019), bahwa pasar pangan di Indonesia saat ini memang hampir 100% dikuasai oleh kartel. Inilah yang mengakibatkan terjadinya monopoli harga pada berbagai komoditas pangan di masyarakat, hingga banyak merugikan para petani dalam negeri, juga menambah beban masyarakat secara umum.

Jika menilik beragam fakta yang berkenaan dengan pangan di dalam negeri, memang bukan hal yang tak ayal terjadi di iklim Kapitalisme. Orientasi menumpuk keuntungan bagi sebagian golongan, senantiasa diberikan celah dan jalan mulus. Solusi yang digelontorkan, seringkali hanya menyentuh permukaan, tanpa mencabut akar persoalan.

Alih-alih memberi dukungan penuh pada para petani maupun ahli pertanian untuk bersama-sama membangun ketahanan pangan negeri, namun kebijakan instanlah yang kerap dijadikan solusi. Di mana justru hal tersebut membuat kedaulatan dan kemandirian negara, menjadi lemah dan terancam.

Jauh berbeda dengan pengurusan sistem Islam, dalam upayanya menjawab kebutuhan ketahanan pangan negara, yang bukanlah hanya angan semata. Namun telah nyata diwujudkan hingga berabad lamanya.

Sistem Islam yang diterapkan secara kaffah oleh negara Khilafah, memiliki mekanisme sedemikian rupa tentang bagaimana membangun ketahanan pangan dalam negeri. Sehingga negara memiliki kedaulatan dan kemandirian, serta terhindar dari cengkraman maupun penguasaan oleh negara luar (Asing).

Islam juga telah menggariskan prinsip-prinsip dasar ekonomi yang saling berkaitan dengan hal-hal seperti kepemilikan, pengelolaan, dan distribusi yang bertumpu pada prinsip keadilan yang sebenar-benarnya. Dalam hal ini negara berupaya menjamin ketersediaan dan peningkatan ketahanan pangan, melalui proses produksi, baik melalui kebijakan pertanahan, kebijakan peningkatan produktivitas, dan sebagainya. Juga memperhatikan proses distribusi yang memberi jaminan kepada setiap warga negara agar tercukupi kebutuhannya akan pangan secara adil dan merata.

Dalam prosesnya, negara dengan Khalifahnya merupakan pengatur dan penanggung jawab yang mengurusi hajat hidup warga negaranya. Selanjutnya Khalifah akan menunjuk orang yang memiliki kapasitas dan keahlian dalam bidang pertanian untuk menjalankan mekanisme yang diperlukan, guna mewujudkan ketahanan pangan negara Khilafah.

Selanjutnya seperti dikutip dari laman mediaumat.news, ada lima prinsip pokok tentang ketahanan pangan yang digagas dan diterapkan oleh Nabi Yusuf AS yang pernah dijalankan di masa yang panjang dari Kekhilafahan Islam. Di mana prinsip ini masih relevan untuk diterapkan hingga masa mendatang.

Pertama, adalah melakukan optimalisasi produksi, yaitu mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang dapat menghasilkan bahan pangan pokok.

Kedua, adaptasi gaya hidup, agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi pangan.

Ketiga, manajemen logistik, di mana masalah pangan beserta yang menyertainya (irigasi, pupuk, anti hama) sepenuhnya dikendalikan oleh negara yaitu dengan memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang. 

Keempat, prediksi iklim, yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari fenomena alam seperti curah hujan, kelembaban udara, penguapan air permukaan serta intesitas sinar matahari yang diterima bumi.

Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. 

Khilafah juga akan menciptakan iklim yang kondusif bagi riset dan pengembangan di bidang pertanian. Di mana para ilmuwan akan diberikan berbagai dukungan yang diperlukan, termasuk dana penelitian, sarana dan prasarana, juga penghargaan atas karya dan upaya mereka.

Selain itu, Khilafah juga akan menindak tegas terhadap segala upaya penimbunan, mafia-mafia kartel dan segala hal yang akan menghambat ataupun mengganggu perwujudan ketahanan pangan negara.

Sejarah pun telah mencatat bahwa sejak awal abad ke-9 M, peradaban kota-kota besar Muslim yang tersebar di Timur Dekat, Afrika Utara, dan Spanyol telah ditopang dengan sistem pertanian yang sangat maju, irigasi yang luas, serta pengetahuan pertanian yang tinggi. Inilah yang membuat dunia Islam di era kekhalifahan memiliki ketahanan pangan yang begitu kuat.

Peradaban Muslim saat itu telah berhasil melakukan transformasi fundamental di sektor pertanian yang dikenal sebagai Revolusi Hijau Abad Pertengahan atau Revolusi Pertanian Muslim. Revolusi Hijau yang dirintis umat Islam telah memungkinkan transfer beragam tanaman berikut teknik menanamnya ke berbagai penjuru dunia Islam. Hingga akhirnya, dunia Islam menguasai beragam komoditas pertanian yang awalnya justru berasal dari peradaban lain (republika.co.id, 19/03/2009).

Demikianlah peradaban Islam di era Kekhilafahan telah mencatat kegemilangan dalam sektor pertanian, hingga mengantarkannya pada ketahanan pangan yang kuat. Maka masihkah kita bertahan dengan belenggu Kapitalisme yang nyata gagal dalam mensejahterakan manusia, termasuk gagal memberikan solusi terhadap persoalan krisis pangan? Kini sudah tiba waktunya bagi kita untuk bersatu dan membebaskan diri dari cengkraman dan dominasi negara-negara Kapitalis saat ini, dengan berupaya menegakkan sebuah institusi Islam yang berdaulat yaitu Khilafah Islamiyah.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

One thought on “Ketahanan Pangan bukan Utopi, Begini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *