Ketakwaan dan Akhlak Mulia Kunci Sukses Pendidikan

Ketakwaan dan Akhlak Mulia Kunci Sukses Pendidikan

Oleh: Ine WulansariPendidik Generasi dan Pegiat Dakwah

WWW.POJOKOPINI.COM — “Apa artinya kalau sarjana hanya jadi tukang. Jadilah sarjana intelektual yang beriman, dan bertanggung jawab untuk berbuat baik.” (Mahfud MD) Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.Mahfud menyebutkan Perguruan tinggi seyogyanya memiliki kesadaran kolektif mencetak intelektual, yang tidak hanya mencerdaskan otak, tapi juga watak. Menurutnya, dunia perguruan tinggi (PT) sedang menjadi terdakwa dari kekacauan tata kelola pemerintahan dan munculnya korupsi di mana-mana. Gugatan itu dilayangkan pada perguruan tinggi karena umumnya pelaku korupsi. Pelaku korupsi umumnya sarjana tukang. Keahliannya bisa diperdagangkan sesuai pesanan. Mahfud berharap perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan sarjana, tapi juga mencetak intelektual, jadilah ulul albab, orang yang cerdas dan mulia akhlak. VivaNews, Sabtu (21/12/2019).

Berbicara mengenai sarjana intelektual artinya tentang seseorang yang berhasil lulus menempuh pendidikan di perguruan tinggi sekaligus menjadi seseorang yang mampu memberikan pendapat, gagasan, dan ide serta menanamkan pengaruhnya pada masyarakat, menggerakan masyarakat serta menjadi solusi bagi masyarakat.Untuk menjalankan peran sebagai sarjana dan intelektual dibutuhkan kecerdasan dan keimanan yang keduanya saling terikat. Kaum intelektual bukanlah sarjana yang menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana. Mereka harus mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian, serta merasa terpanggil untuk memperbaiki keadaan di masyarakat.

Realitas saat ini menunjukkan bahwa seseorang yang menempuh pendidikan perguruan tinggi (mahasiswa) cenderung lebih mementingkan orientasi pendidikannya ke ranah pencapaian gelar, ketimbang menjadi seseorang yang mampu menjadi solusi bagi masyarakat

Realitas saat ini menunjukkan bahwa seseorang yang menempuh pendidikan perguruan tinggi (mahasiswa) cenderung lebih mementingkan orientasi pendidikannya ke ranah pencapaian gelar, ketimbang menjadi seseorang yang mampu menjadi solusi bagi masyarakat. Parahnya, menjadi mahasiswa bagi kebanyakan orang hanya sekedar menggapi prestise dan gengsi belaka, dengan gaya hidup hedonisme yang kian nyata. Sehingga tidak menghasilkan seseorang yang mampu membawa dampak besar bagi masyarakat menuju perubahan yang lebih baik.

Fakta yang terjadi pada mahasiswa saat ini, bukan terjadi tanpa suatu alasan. Keadaan saat inilah yang melahirkan bahkan memaksa mereka (mahasiswa) kehilangan jati dirinya sebagai agent of change. Sistem tatanan negara saat ini yang menjerumuskan mereka berbuat demi materi. Sistem kapitalisme yang melahirkan sebuah kehidupan yang begitu materialistik, sehingga materi menjadi tolak ukur kehidupan. Berbagai kehidupan telah berubah menjadi sebuah ladang bisnis, begitupun dengan dunia pendidikan. Dimana bagi kapitalisme pendidikan menjadi lahan yang begitu menggiurkan untuk memperoleh banyak keuntungan. Maka tak heran biaya pendidikan dari tahun ke tahun kian meroket.

Dengan biaya pendidikan yang tinggi, maka orientasi hidup mahasiswa berubah. Mereka menjadi sosok yang berambisi mengejar nilai untuk memperoleh hasil sebaik-baiknya dengan harapan kelak mendapatkan pekerjaan yang layak untuk mengganti biaya pendidikan yang telah dikeluarkan. Sehingga tidak heran ketika mahasiswa saat ini tidak tertarik dengan masalah-masalah di luar dirinya. Maka mereka berubah menjadi sosok yang apatis bahkan apolitis.

Kekejian sistem kapitalisme merubah peran mahasiswa, tanpa sadar dipaksa dan diarahkan hanya untuk menjadi pekerja-pekerja mereka, konsumen produk-produk mereka, dan menjadi penghasil uang mereka. Sehingga mahasiswa hanya sekedar menjadi sarjana dan tidak dibiarkan menjadi seorang intelektual yang mampu memberi ide, gagasan, bahkan solusi terhadap berbagai problematika masyarakat.

Dalam pandangan Islam, pendidikan memiliki tujuan untuk menjaga fitrah manusia tetap dalam tauhid dan karakter dalam kebaikan. Allah menurunkan Al-Qur’an dan sunnah rasul-Nya sebagai panduan untuk menjaga fitrah tersebut, sekaligus mendidiknya dalam bingkai keimanan dan ketakwaan yang sempurna. Pendidikan yang berlandaskan pada akidah Islam akan membentuk kepribadian seseorang yang memiliki aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap). Aqliyah sebagai cara yang digunakan seseorang untuk memikirkan sesuatu, yakni cara mengeluarkan keputusan hukum berkenaan dengans segala hal berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakini. Ketika seseorang memikirkan sesuatu untuk mengeluarkan suatu keputusan hukum terhadapnya senantiasa menyandarkan pada akidah Islam, maka saat itu aqliyahnya adalah aqliyah Islamiyah. Begitupun dengan nafsiyah yang disandarkan pada akidah Islam, maka seseorang akan memenuhi naluri kebutuhan jasmaninya berdasarkan ketundukkannya pada syariat semata.

Sesungguhnya syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) tidak akan berjalan lurus, kecuali jika aqliyah seseorang aqliyah Islam yang mengetahui hukum-hukum yang memang dibutuhkannya dengan senantiasa menambah ilmu-ilmu syariah sesuai dengan kemampuannya. Pada saat yang sama ia pun memiliki nafsiyah Islamiyah sehingga senantiasa melaksanakan hukum-hukum syara, bukan untuk sekedar diketahui tetapi diterapkan dalam segala urusannya, baik dengan pencipta-Nya maupun dengan sesamanya.

Begitulah seharusnya pendidikan, jika disandarkan pada akidah Islam. Maka seseorang akan mampu mengetahui hakikat kehidupan dengan baik. Memiliki pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan pada keimanan dan ketakwaan. Maka mustahil jika seseorang berlatar pendidikan yang tinggi dengan syakhsiyah Islam akan menyalahgunakan ilmu yang dimilikinya untuk hasrat duniawi semata. Karena ia terikat dan memiliki kesadaran bahwa setiap perilaku adalah tanggung jawabnya kelak di hadapan Allah.

Ketika seseorang meningkatkan tsaqafah Islamnya untuk mempertebal aqliyah dan nafsiyahnya, maka sesungguhnya ia sedang berjalan menuju puncak kemuliaan. Dalam kondisi seperti ini, ia bisa menguasai dunia sekaligus memperoleh kebahagiaan akhirat dengan keyakinan penuh, Wallahu a’lam bish shawab.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *