Ketegangan Laut China Selatan dan Seruan Mewujudkan Negeri Penakluk

Ketegangan Laut China Selatan dan Seruan Mewujudkan Negeri Penakluk

Politik internasional sekuler itu licik. Konstelasi politik berpeluang berubah-ubah. Tapi yang pasti negara kecil akan tetap kecil selamanya, yang bisa dimusnahkan dari peta dunia atau berpindah tangan kepada tuan yang baru. Bahkan bisa juga dikerubuti oleh dua tuan yang mau saling berbagi.


Oleh: Ummu Afkar (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — China disebut membuat undang-undang (UU) baru yang mengintegrasikan penjaga pantai (coast-guard) Negeri Tirai Bambu ke dalam unit militer. Ini dilakukan pasca sejumlah ketegangan yang terjadi terkait perairan antara China dengan sejumlah negara. Memperebutkan Kepulauan Senkaku atau disebut China Diaoyu dengan Jepang dan Taiwan. Selain itu china juga berkonflik soal Laut China Selatan. Di perairan ini, China bermasalah dengan Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei dan Indonesia (cnbcindonesia.com, 22/06/2020).

Sementara tiga kapal induk Amerika Serikat telah siap siaga di Laut China Selatan. Kapal induk USS Theodore Roosevelt dan USS Nimitz telah memulai manuver mereka di laut yang terletak antara China dan Filipina ini. USS Ronald Reagan yang bermarkas di Yokosuka Jepang juga sedang mengarah ke lokasi yang sama. Latihan militer gabungan ini mengisyaratkan kepada China tentang komitmen AS terhadap keamanan dan stabilitas regional, yang menjamin kebebasan penggunaan wilayah Laut China Selatan untuk kepentingan semua negara (cnnindonesia.com, 22/06/2020).

Terhimpit Beijing dan Washington

China hari ini tampil di kancah dunia bukan mengusung komunisme, tapi negeri panda ini berkelana sebagai state capitalism yang agresif. Proyek mercusuar one belt one road, atau yang sekarang dikenal dengan belt road initiative, semakin mewujud melalui berbagai kerja sama dengan negara-negara yang masuk jalur perdagangan darat dan laut yang diinisiasi China ini.

Kebijakan tersebut juga telah ditopang industri yang memperkuat militer negara tirai bambu ini. China tak khawatir dengan upaya Amerika Serikat menggentarkan lewat pertunjukan latihan militer gabungan, karena yakin memiliki persenjataan penangkis yang tak kalah canggih. Mereka tetap berkeras mengamankan kepentingannya di Laut China Selatan, yang notabene merupakan jalur perdagangan laut mereka dari masa ke masa.

Sementara itu, negara-negara penghuni Laut Cina Selatan sebagian besar adalah sekutu Amerika Serikat. Negara adidaya ini memiliki investasi besar di negara-negara tersebut. Maka kehadiran militer AS di sana tidak terlepas dari upaya menjaga keamanan sumber-sumber ekonominya.

Hari ini negara-negara kecil di wilayah Laut China Selatan hanya bisa berharap pada tuannya untuk melindungi dan menyelamatkan mereka dari negara yang sekarang dianggap musuh. Namun politik internasional sekuler itu licik. Konstelasi politik berpeluang berubah-ubah. Tapi yang pasti negara kecil akan tetap kecil selamanya, yang bisa dimusnahkan dari peta dunia atau berpindah tangan kepada tuan yang baru. Bahkan bisa juga dikerubuti oleh dua tuan yang mau saling berbagi.

Bangkitnya Negara Penakluk Baru

Negara-negara kecil semestinya punya keinginan untuk bangkit. Agar tidak selamanya pasrah di bawah ketiak negara besar. Harus punya keinginan untuk menjadi negara adidaya pula. Nothing is impossible. Sebenarnya jalan masih terbentang lebar untuk itu. Bila saja mereka mau bersatu di bawah naungan Khilafah, negara digdaya global yang berideologi Islam. Raksasa memang harus ditandingkan dengan golongannya, agar permainan ini adil.

Bahkan bukan hanya regional Asia saja yang bisa bernaung. Tapi seluruh negeri yang ingin mengokohkan kaki, berdiri tegak, bermartabat dan memperoleh kesejahteraan hakiki tepat bergabung dalam Khilafah. Negara yang secara sempurna menjalankan tuntunan Sang Pencipta. Pembawa kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.” (TQS An-Nur: 55)[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *