Ketika Anakku Sakit, Akupun Sakit

Mereka yang tidak sabar, akan mendapatkan dua musibah : yaitu kehilangan orang yang dicintai yang ini merupakan wujud musibah yang menimpanya, dan yang kedua, kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada itu, yaitu hilangnya pahala yang telah Allah SWT siapkan. Dia pun mendapat kerugian dan berkurang pula keimanannya. Hilang pula dari dirinya kesabaran, rasa ridha dan syukur, sehingga yang ada pada dirinya hanyalah kemarahan yang hal itu menunjukkan betapa kurang dan lemah keimanannya.


Oleh : Anita Humayroh

POJOKOPINI. COM— Anak sejatinya merupakan permata yang sangat berharga bagi kedua orangtua. Mereka adalah penyejuk mata dan penghilang dahaga. Tak ternilai dengan harga dan senantiasa melekat dalam sanubari ayah ibunya. Hal ini pastilah dirasakan oleh setiap orangtua, bahkan oleh seseorang yang paling mulia kedudukannya, Rasulullah SAW. Demikian pula orang yang paling mulia setelah beliau, Abu Bakr Ash-Shiddiq ra. ‘Aisyah ra menceritakan:


قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ z يَوْمًا: وَاللهِ، مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ عُمَرَ، فَلَمَّا خَرَجَ رَجَعَ فَقَالَ: كَيْفَ حَلَفْتُ أَيْ بُنَيَّةُ؟ فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ: أَعَزُّ عَلَيَّ، وَالْوَلَدُ أَلْوَطُ

Suatu hari, Abu Bakr Ash-Shiddiq ra mengatakan, ‘Demi Allah, tak ada seorang pun di atas bumi ini yang lebih kucintai daripada ‘Umar (Umar bin Khaththab ra, red.)!’ Ketika Abu Bakr kembali, dia pun bertanya, ‘Bagaimana sumpahku tadi, wahai putriku?’ Aku pun mengatakan kembali apa yang diucapkannya. Kemudian Abu Bakr berkata, ‘Dia memang sangat berarti bagiku, namun anak lebih melekat di dalam hati’” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 61: hasanul isnad)

Memang begitu dalam rasa cinta dan kasih sayang orangtua kepada anaknya. Maka tak heran, ketika anak sakit, derita yang berat pun turut dirasa oleh kedua orangtuanya. Terutama sang ibu yang selama 9 bulan mengandung anaknya. Pasti tersayat hati dan perasaannya melihat sang buah hati terkapar tak berdaya. “Sakitnya anak merupakan derita ibu,” begitu kata sebuah ungkapan.

Tak sampai hati rasanya melihat permata hati terbaring pucat, kehilangan gairah dan keceriaannya, nafsu makan yang hilang, ditambah lagi demam yang tak kunjung reda, diiringi tangisan ringkih menahan rasa sakit. Terbang sudah segala rasa, ada sesuatu yang terasa kosong di dalam dada. Ingin rasanya menggantikan sakit dan derita sang buah hati, ingin rasanya berbuat sesuatu untuk menggantikan segala penderitaannya. Namun ternyata kita tak mampu berbuat apa-apa.

Di saat seperti ini, kita benar-benar menyadari betapa lemahnya diri ini. Sangat terasa betapa kita bukanlah yang berkuasa memberikan kesembuhan, saat seperti ini justru kita sendiri lebih membutuhkan topangan.

Tetapi sebagai seorang muslim, tak pantas kita berkeluh kesah atas segala musibah. Bahkan sifat keluh kesah inilah yang seharusnya kita jauhi, karena dapat menjerumuskan kita dalam azab, menjadi bahan bakar jahannam, na’udzubillah.

Oleh karena itu, di saat himpitan melanda seperti ini, kiranya kita harus mengingat kembali apa yang telah dikatakan syariat agama Islam yang sempurna. Islam mampu membimbingan dan mengarahkan kita dengan arahan, dan nasihat yang begitu sempurna, hingga kita diminta untuk tidak menjadi insan yang lemah, yang dengan mudah putus harapan.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah mengingatkan hamba-hamba-Nya:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mengatakan, ‘Kami ini milik Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali’. Mereka itulah yang mendapatkan kebaikan yang sempurna dan rahmah dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Kekurangan jiwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kematian orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, karib kerabat maupun sahabat. Juga berbagai penyakit yang menimpa diri seorang hamba ataupun menimpa orang yang dicintainya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 76)

Berbagai cobaan yang disebutkan dalam firman Allah SWT ini pasti akan datang dan menimpa setiap hamba, karena Dzat Yang Maha Mengetahui telah mengabarkannya, sehingga pasti hal itu akan terjadi sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Sang Pencipta. Maka ketika musibah itu terjadi, manusia pun akan terbagi menjadi dua golongan : yang pertama adalah mereka sekelompok orang yang sabar dan sebagian lagi dari mereka merupakan kelompok yang tidak sabar.

Mereka yang tidak sabar, akan mendapatkan dua musibah : yaitu kehilangan orang yang dicintai yang ini merupakan wujud musibah yang menimpanya, dan yang kedua, kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada itu, yaitu hilangnya pahala yang telah Allah SWT siapkan. Dia pun mendapat kerugian dan berkurang pula keimanannya. Hilang pula dari dirinya kesabaran, rasa ridha dan syukur, sehingga yang ada pada dirinya hanyalah kemarahan yang hal itu menunjukkan betapa kurang dan lemah keimanannya.

Bagi mereka yang sabar, mereka menyerahkan segala ketetapannya hanya kepada Allah SWT dan bertawakal kepadaNya, Allah SWT memberikan kepada mereka taufik untuk bersabar saat terjadinya musibah, dia menahan diri agar terhindar dari kemarahan akibat ketidakpuasan, baik yang terungkap dalam ucapan maupun perbuatan. Dia pun mengharap balasan pahala musibah itu dari sisi Allah SWT. Dia tahu, pahala yang akan didapatkannya dengan kesabaran jauh lebih agung daripada musibah yang menimpanya. Bahkan sebenarnya musibah itu merupakan suatu nikmat, karena bisa menjadi jalan untuk meraih sesuatu yang terbaik baginya dan lebih bermanfaat daripada musibah itu. Dia pun melaksanakan perintah Allah SWT untuk bersabar dan meraih pahalanya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 76)

Inilah janji Allah SWT yang termaktub pula dalam ayat yang lain.
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupi pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

Sabar. Demikian memang yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang beriman kala ditimpa musibah. Bagaimana tidak, sementara setiap keadaan, baik kelapangan ataupun kesusahan sebenarnya merupakan kebaikan baginya. Demikian yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, seperti yang dinukilkan oleh Suhaib bin Sinan Ra :


عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya setiap perkaranya merupakan kebaikan baginya, dan ini tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mukmin: apabila memperoleh kelapangan, dia bersyukur, maka ini kebaikan baginya, dan apabila ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka ini pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Kebaikanlah yang akan didapat oleh seorang mukmin yang bersabar saat diberikan cobaan. Dengan meyakini hal ini, kita akan selalu berbesar hati. Memang, jika Allah l SWT menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menimpakan musibah kepadanya untuk mengujinya sehingga mengangkat derajatnya. Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:


مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5645)

Tak lagi ciut nyali kita mendengar keutamaan seperti ini. Terlebih lagi kalau kita menyadari, beratnya cobaan yang menimpa akan membuahkan pahala yang besar pula. Abu Hurairah Ra pernah menyampaikan bahwaMereka yang tidak sabar, akan mendapatkan dua musibah : yaitu kehilangan orang yang dicintai yang ini merupakan wujud musibah yang menimpanya, dan yang kedua, kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada itu, yaitu hilangnya pahala yang telah Allah SWT siapkan. Dia pun mendapat kerugian dan berkurang pula keimanannya. Hilang pula dari dirinya kesabaran, rasa ridha dan syukur, sehingga yang ada pada dirinya hanyalah kemarahan yang hal itu menunjukkan betapa kurang dan lemah keimanannya. Rasulullah n bersabda:


إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Sesungguhnya besarnya pahala itu bersama dengan besarnya cobaan. Dan jika Allah SWT mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka dia akan mendapat ridha dari Allah, dan barangsiapa yang marah, maka dia akan mendapat kemurkaan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Rasulullah SAW pun mengingatkan kita bahwa cobaan yang tengah dilalui dan dihadapi akan menggugurkan dosa dan kesalahan kita.


Abu Hurairah ra juga mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

Senantiasa cobaan itu menimpa seorang mukmin atau mukminah pada dirinya, anak ataupun hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah ta’ala dalam keadaan tidak memiliki kesalahan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: hasan shahih)

Di tengah-tengah kegalauan serta kegundahan menghadapi sakit yang diderita sang buah hati, kita berharap, semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan petunjuk kepada kita untuk bersabar. Allah SWT yang membimbing kita untuk menempuh kesabaran, Allah SWT pula lah yang memberikan pahala kesabaran itu. Kita pun berharap agar segala kesusahan yang kita hadapi saat ini dapat menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan surga.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Abu Hurairah ra, Rasul berkata :

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

Neraka diliputi oleh berbagai kesenangan dunia, sementara surga diliputi oleh berbagai hal yang tidak menyenangkan di dunia.” (HR. Al-Bukhari no. 6487)

Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan pada saat-saat seperti ini adalah memohon kesembuhan bagi anak kita hanya kepada Allah SWT semata. Hanya Allah SWT lah yang dapat memberikan kesembuhan atas penyakit buah hati kita. Dengan penuh harap kita memohon kepada Allah SWT bagi anak kita, disertai keyakinan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa kita.

Akan lebih ringan terasa beban berat yang kita alami dengan menyimak kembali bimbingan Allah SWT dan Rasul-Nya. Semoga kegundahan ini akan berakhir kelak dengan sesuatu yang lebih berarti. wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.[]

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.